Showing posts with label inspiration. Show all posts
Showing posts with label inspiration. Show all posts

Tuesday, February 3, 2009

Inspiration 2

Pada suatu siang di penghujung 2007, gue ajak Desti ke daerah pemukiman agak padat di Kesambi Dalam, Cirebon. Setelah menelusuri gang dan beberapa belokan kami pun sampai. Sebuah madrasah dengan anak-anak kecil mengaji mengisi waktu di sore hari.

Gue pun kembali melihat wajah teduh itu setelah sekian lama, semakin renta. Ustadz Bahrun. Gue mengucap salam dan mencium tangannya. Beliau meminta agar kita berbincang di rumah saja. Langkahnya tertatih akibat stroke namun menolak dituntun. Sepanjang jalan di berkata kepada para tetangga.

"Ini Faya anak dokter Maman, murid saya..," ujarnya berulang-ulang.

Sambil berbincang tentang isu-isu terakhir yang gue liput, kami pun tiba di rumahnya. Kita ingin memberitahu, Desti akan segera kuliah ke Korea (waktu itu belum tahu kalau akhirnya Allah mengumpulkan kami di Jerman : )).

Selalu ada keinginan di dalam hati untuk menyampaikan semacam laporan kemajuan hidup gue hehehehe. Hal itu berangkat dari sebuah hubungan guru dan murid yang panjang.

Ustadz Bahrun adalah orang yang mengajarkan gue mengaji, shalat, dll. Ustadz Bahrun juga yang menganulir Ijab Kabul gue waktu mau nikah ama Desti hiks hiks. Alasannya ada jeda sepersekian detik antara Ijab dan Kabul hehehehe. Perfection is a must, padahal penghulunya aja udah bilang okay.

Sejak SD gue belajar ama beliau. Dan gue bukanlah sosok murid yang baik hehehe. Sering dulu gue mogok mengaji, kalau sudah begitu, Pak Ustadz, begitu aku memanggilnya, mulai mendongeng soal nabi-nabi. Kalau sudah mendongeng, gue terkesima. Seru gitu ceritanya.

Alhasil...... gue tetap mogok mengaji hehehehehe. Alasannya supaya Pak Ustadz cerita lagi soal nabi-nabi. Tapi alhamdulillah Al Qur'annya khatam juga.

Di penghujung pelajaran, ada pesan yang selalu beliau sampaikan. Berulang-ulang. "Faya, 'Ilmu' itu hurufnya tiga, Aliiyun, Latiifun, Maliikun. Orang yang berilmu itu akan tinggi derajatnya, halus budi pekertinya, dan dia menjadi raja," kata beliau.

Di kesempatan lain beliau bilang, "Faya, 'Taqwa' itu hurufnya empat, Tawadhu, Qanaah, Wara, Yakin. Orang yang bertaqwa itu rendah hati, lapang hati, hidupnya seimbang, dan yakin,"

Tujuh kategori itu terus terekam dalam memori, karena gue tahu murid mengajinya ngga cuma gue dan Teteh Fanny. Masih banyak yang lain, dan Pak Ustadz selalu bercerita kalau ada muridnya yang sukses dalam pendidikan.

Tujuh pesan itu menjadi semangat gue, karena gue ingin suatu saat Pak Ustadz juga cerita ke murid-murid ngaji dia, kalau yang namanya Faya juga membanggakan dia. Simpel kan? Tapi dari satu keinginan sederhana, pesan beliau menjadi bahan bakar gue untuk terus belajar belajar dan belajar. Karena gue tahu, banyak yang lebih pinter dari gue. Gue bisa lebih maju dan berkembang ketika gue mau belajar.

Nggak peduli gue dimarahin berapa kali ama guru, dosen, atau atasan gue karena berbuat salah, gue nggak boleh berhenti. Karena kesalahan gue adalah pelajaran juga buat gue. Dan kalau ada orang selain orang tua gue yang harus tahu tentang kemajuan gue, beliau adalah Ustadz Bahrun.

Terakhir ketemu beliau adalah Oktober 2008. Sambil menikmati sore dengan secangkir teh panas dan kue, gue 'melapor' akan segera berangkat ke Jerman dan akan tetap menulis berita. Tapi gue tahu semua 'laporan' itu tidak akan pernah bisa impas dengan apa yang telah beliau lakukan.

Menjadikan si Faya ini manusia yang terus mau belajar. Gue berdoa agar Allah memberi pahala yang tidak pernah terputus untuk beliau, atas ilmu yang bermanfaat. Pak Ustadz...... terima kasih.......

Tuesday, February 13, 2007

Inspiration 1

Ada beberapa orang yang inspiring hidup gue, dan itu bisa siapa aja. Tapi kisah hidup dia keren banget.

Mang Kohar itu tukang becak. Waktu gue sekolah di SD Cendrawasih I Cirebon dekade 80-an, dia tukang becak langganan anak-anak. Sistemnya sebenarnya jemputan. Tuyul-tuyul kecil anak SD ini berjejalan di becak dia, terus dia anter pulang satu-satu. Orang tua kita akan bayar dia bulanan. Namanya juga becak buat keroyokan, dari tempat duduk, sandaran tangan ampe lantai becak diisi bocah-bocah.

Tapi dia nggak pernah mengeluh. Mang Kohar tipikal orang kecil yang nggak ngerti represifnya rezim Soeharto atau cengkraman multi national coorporation pasca oil boom. Rumah dia pun sangat sederhana. Buat dia yang penting dia memberi senyum buat anak-anak nakal yang naik di becaknya.

Gue pernah bikin dosa ama dia. Karena becaknya penuh (8 anak SD bisa muat di becaknya, sumpah), gue minta duduk dibonceng. Yoi, gue duduk di belakang tukang becaknya. Baru jalan 50 meter gue meringis, kaki gue masuk jeruji becak. Wadaw, darahnya kemana-mana, Mang Kohar panik bukan kepalang. Gue pun sukses dilarikan ke rumah sakit dan meninggalkan luka jahit di belakang mata kaki kiri gue.

Gue lulus SD and times goes by, tahu-tahu gue denger Mang Kohar naik haji. Gue dalam hati cuma bilang, subhanallah, tukang becak bisa naik haji. Wajarlah, dia pekerja keras, gue pikir dia rajin nabung jadi bisa naik haji.

Belasan tahun gue ngga ketemu dia, sampai Ramadhan 2004. Gue mau nikah ama Desti, dan gue pengen banget undang dia. Gue dateng ke rumahnya.

Dalam ruang tamu yang sangat sederhana ada karpet bergambar Ka'bah, oleh-oleh haji yang dulu, begitu gue pikir. Mang Kohar pun masuk ke ruang tamu. Senyumnya masih sama, namun tubuh kurus itu makin renta.

Dari cuma ngasih undangan, obrolan pun akhirnya jadi bermenit-menit. Gue minta dia cerita soal naik hajinya. Dan ternyata dia naik haji bukan karena menabung.

"Alhamdulillah, ada yang bayarin Mang Kohar naik haji, Fay," ujarnya menangis. "Alhamdulillah," lanjutnya kembali tersenyum.

Gue ikut bersyukur Allah memberinya nikmat yang luar biasa. "Mang Kohar mana kebayang naik haji, Mang kan cuma tukang becak," kata dia.

Beberapa belas menit lagi obrolan berlalu, dan gue pamit pulang. Ini orang mungkin masih takjub dengan rencana Allah untuknya. Tapi gue pikir semua bukan keberuntungan atau kebetulan.

Kok bisa Allah mengundang dia ke Tanah Suci?
Jawabannya sederhana, dia nggak pernah berhenti bersyukur, sesulit apapun hidup dia.

Yang tidak pernah berubah dari dia adalah nyebut alhamdulillah setiap beberapa kalimat yang dia ucapkan dan senyum yang dia bagi untuk orang-orang.

"Alhamdulilah kamu mau nikah, alhamdulillah bapa ibumu sehat, alhamdulillah tetehmu kerja di Bandung, alhamdulillah Mang Kohar juga sehat, alhamdulillah kamu udah sarjana, alhamdulillah temen kamu dulu si Yayan yang bapaknya bandar kerupuk itu sekarang sudah di....alhamdulillah." Dan jutaan alhamdulillah lain yang dia ucapkan sepanjang sore itu dan sejak hari-hari lampau waktu gue jadi pelanggan becaknya.

Dan sungguh Allah akan menambah nikmat bagi mereka yang mau bersyukur... Allah mengundangnya karena dia kaya hati dalam kebersahajaan materi.

Gue belum pernah ketemu dia lagi setelah hari pernikahan gue. Tapi yang penting buat gue sekarang, gue harus bisa bersyukur dalam kondisi hidup gue yang paling sulit. Karena, Mang Kohar bisa mensyukuri lebih banyak hal daripada gue.