Showing posts with label Think Big. Show all posts
Showing posts with label Think Big. Show all posts

Monday, January 29, 2018

Penerawangan Politik 2018

Sambil nyeruput teh panas malem ini, izinkan saya menerawang jagat politik 2018. Bagaimana serunya permainan tahta tahun ini? Yuk kita bagi dalam beberapa poin:

1. Jokowi
Presiden selalu jadi aktor utama politik Indonesia. Tahun 2018 ini dia akan memastikan jalannya lapang menuju Pilpres 2019.

3 tahun pertama sudah dia habiskan untuk menguasai Indonesia dari ujung, diakhiri dengan cuci muka di Rote. Dia biarkan musuhnya bergumul di Jakarta, sementara dia bikin orang pedalaman jatuh cinta sama dia lewat aneka proyek pembangunan yang dia resmikan.

Dari desa mengepung kota. Itulah strategi Jokowi 2018. Dari ujung Indonesia, menyerbu Jawa. Pilkada 2018 akan jadi pertarungan Jokowi menguasai Jawa, karena Djawa adalah koentji!

Tahun ini Jokowi akan buka cabang ke partai lain. Menguasai dari balik layar, menaruh orang, atau melakukan deal tingkat tinggi dengan para ketum parpol. Ini untuk memastikan mesin partainya saat Pilpres 2019 bukan cuma PDIP. Jokowi juga akan menambah koleksi jenderal di sekelilingnya
Jokowi ini juga sudah menggarap pemilih milenial lewat setidaknya 3 orang KOL. Tinggal jentik jari, berubah jadi dukungan politik. Siapa KOL ini, tunggu aja tanggal mainnya. Sekitar 6 bulan dari sekarang, Jokowi untuk pertama kalinya akan mengungkap kekuatan politik yang disembunyikannya selama ini lewat imej lemah yang dia lempar dengan sengaja, seperti muka planga-plongo atau petugas partai.

2. Pilkada

Pilkada diamati banyak akademisi ilmu politik untuk melihat konsistensi koalisi politik di Jakarta berhadapan dengan kondisi politik di Jawa dan provinsi utama di Sumatera dan Sulawesi. Analis dan pengamat sama-sama menunggu hasil eksperimen pencalonan pasangan cagub yang bisa berubah sampai detik terakhir.

Pilkada Jabar sebagai penyangga Jakarta, adalah duel mesin parpol-parpol. Semua tampak imbang di sini demi pemanasan bertarung di Pemilu 2019. Pilkada Jateng adalah duel Jokowi VS JK. Ganjar adalah jago Jokowi, Sudirman Said adalah orangnya JK. Pilkada Jatim adalah all Jokowi Finals. Ipul didukung PDIP, Khofifah adalah orang Jokowi yang disokong PD, hasil deal Jokowi-SBY yang sudah tukeran warna baju batik dan luput dari perhatian oposisi.

Dari sini kita bisa melihat pola bahwa kekuatan oposisi makin jauh dari Jakarta, makin lemah dia. Gerindra dan PKS bahkan berkongsi dengan partai pendukung penista agama di Jawa Timur. Koalisi maut oposisi di Jakarta menggusur Ahok, tidak bisa dilanjutkan di daerah.

3. Tokoh alternatif

2017 dan 2018 adalah tahun lahirnya tokoh alternatif. Tokoh tua selain incumbent, tidak pernah laku di negeri ini. JK, Mega dan SBY sudah pasti jadi King Maker. Panggung tokoh alternatif menjadi milik Gatot Nurmayanto dan Anies Baswedan.

Gatot punya daya tawar tinggi. Tapi JK dan Prabowo sudah berinvestasi politik dalam sosok Anies. Itu sebabnya Anies jaim sementara Sandi dimagangkan sebagai gubernur, terutama untuk ngomongin kebijakan kontroversial.

Satu masalah adalah Gatot berebut kue pasar pemilih yang sama dengan Prabowo. Bisa saja dipasangkan Gatot-Anies atau Prabowo-Anies. Tapi ini belum mengakuisisi pasar pemilih nasionalis abangan. Justru Gatot adalah pasangan yang sempurna untuk Jokowi, pasar nasionalis abangan dan pasar religius. Kepada siapa Gatot akan berlabuh?

Sementara itu bursa Wapres lebih ramai lagi untuk calon pasangan Jokowi. Menteri aktif, ketum parpol, alumni kepala daerah, sampai tokoh nasional bersaing ketat. Jokowi akan mengungkapnya 6 bulan lagi.

4. Xenophobic populism

Xenophobic = isu SARA, populism = bualan angin surga. Saya waktu kuliah ngabisin waktu 8 bulan tahun 2004, buat meneliti gaya politik unik ini dengan studi kasus Australia. Nggak nyangka kalau gaya politik ini bisa tumbuh di Indonesia 10 tahun kemudian. Dalam kajian ilmu politik, Xenophobic Populism muncul ketika incumbent penguasa, susah dilawan di level pikiran, ide, gagasan dan kebijakan, karena sedang bagus dan stabil.

Jadi, incumbent dilawan di level emosi, mengagregasi kemarahan dan rasa frustasi karena kalah, lewat isu SARA dan omongan berbusa-busa menawarkan mimpi. Xenophobic populism muncul ketika Amerika sedang punya Obama, Prancis sedang punya Hollande dan Indonesia sedang punya Jokowi. Di Amerika dia menang lewat Trump, di Prancis dia kalah terhadap Macron, di Indonesia kita tunggu 2019.

Xenophobic populism akan terus mewarnai politik Indonesia sampai 2019. Meskipun di daerah, tidak sekuat di Jakarta atau Jawa. Karena Pilpres ini berpusat di Jakarta, maka Xenophobic populism akan tetap mendapat panggung. Sabar-sabar ya ama isu SARA dan bualan-bualan kejayaan. Hoax adalah materi propaganda paling umum dari Xenophobic populism, jadi atur sedikit Facebook Anda supaya algoritmanya bersih dari materi Hoax.

5. Broker Politik

Tahun 2018 juga bakal ramai dengan yang namanya broker politik. Teman saya yang ikut aksi 212 bilang, perjuangan mereka selesai setelah Ahok dipenjara. Saya setuju. Lantas apa itu yang masih kasak kusuk kesana kemari bawa-bawa nama umat Islam sampai sekarang? Itulah para Middle Men, yang punya agenda tersembunyi. Mereka lebih berkuasa dari grass root, tapi lebih lemah di hadapan partai dan elit politik.

Parpol dan elit butuh middle men buat menggerakan massa akar rumput dan menampung uang bancakan untuk nanti dipakai lagi buat Pemilu 2019. Jadi tahun 2018 ini, jangan heran bakal banyak proyek baru dengan harga yang bombastis, impor a sampe z atau suntikan dana ini itu. Semuanya modus aja buat nabung duit menyambut pemilu. Middle men ini ada pengusaha, avonturir politik, aktivis, pentolan ormas dan LSM.

Kita melihat middle men tarik ulur kepentingan dengan majikan mereka. Minta jatah kepala daerah, nggak dikasih terus ngambek. Ada lagi yang bikin proyek supermahal, atau disuntik duit melebihi kebutuhan. Middle men mengabdikan diri kepada siapa yang sanggup bayar. Mereka bermain di dua kaki, kubu penguasa dan oposisi. Jadi jangan pernah percaya dengan mulut mereka, jangan pernah. Rakyat mereka jual sebagai posisi tawar di hadapan para majikan. Tujuan mereka cuma dua: cari duit dan naik kelas jadi kelompok elit.

5 Hal itu aja dulu yah yang diterawang. Ntar ditambahin lagi deh, kalau ada pertanyaan dari kawan-kawan sekalian. Tehnya udah habis nih...

Thursday, October 27, 2016

The Last Sanctuary of Islam

Alkisah ada seorang pria, keturunan Nabi Muhammad SAW. Buyut canggahnya dianggap imam oleh orang Syiah, padahal mereka Sunni. Namun sejarah keluarga pria itu agak kelam. Banyak anggota keluarga yang diburu seolah tanpa penghormatan bahwa mereka melanjutkan darah daging Kekasih Allah. Dari Arab mereka terus terpinggir dan menyingkir, menjauh dari Masjidil Haram.

Pria itu seperti lelah didera konflik politik, dia yakin itu bukan konflik agama. Meski sudah menjadi gubernur di kerajaan India, rasa resahnya tidak hilang. Di kepalanya cuma satu saja yang dipikirkan: menyelamatkan Islam ke tempat yang aman.

Dia berpikir dengan kondisi umat yang saling bertarung tanpa akhir, akan seperti apa Islam nanti di masa depan. Akan muncul Islam perang, bukan Islam damai. Islam yang memecah, bukan mempersatukan.

Pria ini lantas mundur dari jabatannya, menjadi seorang pengembara. Dia ingin pergi ke ujung dunia, dimana tidak ada yang namanya konflik di antara umat Islam. Dia lari ke Maroko, tapi hatinya kurang sreg, namun anaknya ditinggal di sana. Dia pergi ke Uzbekistan, tapi hatinya kurang sreg, namun anaknya ditinggal di sana.

Dia lantas ke ujung tenggara Jalur Sutera, sebuah semenanjung seindah surga, dengan penduduk yang ternyata menyimpan kebijaksanaan kuno bernama ilmu budi, ketika nama ajaran itu belum disebut sebagai Islam. Warganya pecinta kedamaian. Dia panggil anaknya yang di Maroko dan Uzbekistan, berkumpul dalam suka cita.

Di tempat itu mereka menyemai Islam yang damai, di tempat yang begitu jauh dari konflik umat Muhammad SAW. Dalam pikiran mereka, butuh waktu sampai akhir zaman, untuk Islam bohongan -yang penuh ide-ide perang dan merusak ini- sampai ke tempat mereka.

Harapannya, tempat itu menjadi The Last Sanctuary of Islam, yang dijaga keluarga besar mereka, penerus garis keturunan Rasulullah, di titik perjalanan terjauh yang tidak dibayangkan oleh mereka sendiri. Mereka mengelilingi hampir separuh Bumi.

Suatu hari keluarga mereka didatangi seorang perdana menteri di negeri itu, datang dari ibukota kerajaan naik kapal laut. Dia adalah seorang penakluk beragama kafir. Namun, bukannya mereka diberangus, anak mereka yang muda diangkat sebagai care taker wilayah yang bertanggung jawab langsung kepada dia. Silakan kalian beragama Islam, kata dia. Si perdana menteri itu bernama Gajah Mada dan pria yang saya sebut pertama kali itu, namanya Syekh Jumadil Kubro.... Keturunannya ada 9 orang yang menjadi legenda

Saturday, October 22, 2016

Bulan Roller Coaster

Seperti seorang teman baik bilang, perpisahan memang menyebalkan.
Tapi itu adalah bukti, kalau kita semua butuh ruang untuk tumbuh.

Hidup adalah perjalanan, ia bagai babak cerita
Orang-orang datang dan pergi.
Ada mimpi, ada ambisi dan sebuah persimpangan jalan.
Kita semua membuat pilihan.

Aku melihat kawan-kawan pergi.
Aku melihat kawan-kawan tetap di sini dan di kejauhan ada kawan-kawan yang datang.
Suatu hari nanti aku adalah orang yang pergi dan aku adalah orang yang datang.
Tapi bukan saat ini.

Semua kenangan indah bersama teman adalah hadiah yang mengisi ruang hati.
Dan semua kisah sedih akan membentuk kita seutuhnya.
Semua tersimpan dalam istana memori.

Dimana aku?
Saat ini aku hanya ingin berdiri pagi ini.
Membiarkan sinar matahari menghangatkan jiwa.
Embun pagi menyapa lembut di ujung-ujung jari yang membelai ilalang.
Dan udara sejuk mendinginkan hati.

Ketika membuka mata, aku tahu akan melihat melihat sebuah jalan.
Aku akan berlari lebih cepat lagi dan terbang lebih tinggi lagi.
Menjadi elang.....


-sebuah sabtu pagi, untuk teman yang pergi-

Sunday, July 24, 2016

Pilkada DKI, Marketing Politik dan Cara Mengalahkan Ahok (Kalau Mau)

Pilkada seperti halnya pilpres, bukanlah pemilihan legislatif. Banyak politisi dan juga pakar (atau pembual) membuat perhitungan kekuatan suara berdasar perolehan suara legislatif atau prosentasi kekuatan parpol di DPRD.

Matematika politik, tidak begitu. Dalam berbagai kajian ilmu politik tentang pemilu, popular vote berbeda jauh, jauuuh sekali dengan electoral vote. Memilih orang, tidak pernah sama dengan memilih partai, karena sebagian pemilih tidak punya loyalitas kepada partai.

Masalahnya, apakah ini sebagian kecil, atau sebagian besar? Kalau sebagian besar, matilah semua partai politik menghadapi pilkada, karena dia sungguh berada di dimensi yang lain.

Dalam kaca mata political marketing ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Pertama adalah Produk, pilkada DKI dan pilkada lainnya menjual produk berupa tokoh. Percuma partai politik punya pemilih besar, tapi tidak punya tokoh yang dimajukan. Nyatanya, di DKI saja parpol besar banyak yang ragu majuin calon kan?

Kedua adalah Brand Awareness. Berapa tokoh yang sudah dijual kepada masyarakat menjelang pilkada DKI ini? Ahok, Yusril, Sandiaga Uno dan calon peserta lain, mereka adalah Brand. Seberapa besar mereka menciptakan Awareness.

Yang pasti luput dari perhatian kita adalah, Awareness tidak bicara kabar baik atau kabar buruk. Keduanya sama-sama menciptakan Awareness. Positive atau negative campaign keduanya menciptakan Awareness.

Makanya, jangan gembira dulu dengan banyaknya serangan untuk Ahok di medsos. Popularitasnya memang bisa terpengaruhi, tapi Awareness-nya naik. Semakin kontroversial, semakin tinggi Awareness yang dihasilkan. Nama tokohnya dulu yang nempel di kepala orang, bukan beritanya.

Ketiga adalah Brand Image, bahasa gampangnya pencitraan. Di titik ini duelnya lebih fair. Tapi sayang menurut saya imej yang dijual hanya sebatas 'Another version of Ahok'. Misalnya Ahok versi Muslim, Ahok versi pribumi atau Ahok versi santun. Belum ada yang bikin brand, 'Bukan Ahok'. Sementara di level akar rumput fans memuja setengah mati, hatersnya menghina setengah mati. Media massa dan media sosial punya peran vital memoles imej kandidat. Hal ini termasuk media abal-abal, dan pasukan cyber. Masalahnya adalah, publik bisa memilih mau percaya yang mana, sumber informasi yang valid banyak kok. Sedangkan, awareness-nya tidak bisa dicegah masuk ke kepala mereka.

Keempat, Market. Siapa pasar yang mau disasar oleh kandidat? Seberapa besar kandidat memahami pemilih. Umur mereka berapa, prosentase tua mudanya bagaimana? Tingkat pendidikan, gender, latar belakang etnis dan agama. Pemahaman terhadap voting behavior akan menentukan strategi kampanyenya.

Pernah nggak ada studi, black campaign anti-China terhadap Ahok itu efektif untuk pemilih yang mana, dan tidak efektif untuk pemilih yang mana? Berapa besar perbandingannya? Kalau saya sih melihat strategi mempengaruhi pasar ini dipukul rata begitu saja. Jangan heran, beberapa materi kampanye anti-Ahok jadi bahan tertawaan sebagian orang di media sosial. Pun beberapa materi kampanye pro-Ahok bernasib sama. Kalau pun berhasil menyulut emosi, itu malah orang yang nggak punya KTP Jakarta. Percuma lah, ini Pilkada DKI bray.

Kelima dan terakhir ialah Statistika Politik. Poin satu sampai empat tadi pada ujungnya hitung-hitungan statistik, naik turun angka perolehan suara. Jelang pilkada pasti banyak riset-riset tuh, walau sebagian bayaran dari para kandidat (sudah rahasia umum bukan?) Tapi pasti hitungan asli dipegang oleh masing-masing kubu.

Kalau terbiasa mengkonsumsi data fiktif, black campaign, broadcast fitnah dll, saran saya hentikan! Nggak mungkin dong maju ke medan perang pilkada dengan data palsu. Siap-siap kejang saja. Kita butuh data riil, kemungkinan perolehan suara itu berapa.

Kesimpulan saya dirangkum dalam tiga analisa prediksi:

1. Figur yang bisa menyaingi Ahok dalam produk, brand awareness, brand image dan market sampai saat ini cuma Ridwan Kamil dan Risma. Risma adalah produk dengan brand image yang lebih baik dari Ahok, Risma adalah 'bukan Ahok' sementara yang lain cuma punya brand images 'another version of Ahok' Masalahnya Risma jadi maju atau nggak? Kalau maju, barulah seru Pilkada DKI ini.

2. Kalau ada banyak calon yang akhirnya mendaftar, Ahok kemungkinan besar menang Pilkada DKI. Awareness Ahok paling tinggi. Kompetitor Ahok harus berbagi awareness, sedangkan Ahok tidak berbagi awareness dengan siapa-siapa karena ini pilkada melawan incumbent. Vote untuk kelompok anti Ahok akan pecah ke banyak kandidat. Pun, kalau sampai dua putaran, pemilih terlanjur tahu kekuatan riil semua kandidat. Nanti tuh bakal ada komentar, "Oh si anu yang dipuja-puja di medsos itu cuma segitu kemampuannya lawan Ahok."

3. Saya nggak tahu para pesaing Ahok mikir sampe sini nggak. Tapi kalau mau mengalahkan Ahok, nggak sulit kok, cukup kirim SATU kandidat saja buat menantang Ahok. Ada dua cara untuk ini yaitu dari awal majuin 1 kandidat, atau merger jadi 1 kekuatan seandainya Pilkada DKI 2 putaran. Ini akan menaikan probabilitas kemenangan, pemenangnya sudah pasti 50%+1 suara sesuai UU. 50 persen kemenangan sudah di tangan, karena mereka yang anti Ahok di berbagai kelompok politik, akan terkumpul di dalam satu kotak saja. Peluang 1:2 lebih baiklah dari pada 1:3 atau 1:4. Cagub lain mikir sampai sini nggak? Kalau nggak ya selamat bertugas kembali untuk Ahok, hehehe.

Tuesday, July 19, 2016

Erdogan Oh Erdogan

Lucu sekali melihat orang Indonesia mengomentari percobaan kudeta terhadap Erdogan di Turki. Fans Erdogan di Indonesia cukup garis keras juga ya. Tapi haters Erdogan juga lumayan keras. Saya tidak tertarik ikutan kubu-kubuan macam suporter bola begini.

Saya tidak tergoda untuk pasang aneka status. Bagi saya, cukuplah berbincang dengan orang yang saya percayai, yang berada langsung di Istanbul bertahun-tahun dan memahami betul seluk beluk kondisi politik riil di sana, bukan hasil polesan propaganda para fans atau haters Erdogan di Tanah Air.

Nggak usah saya ceritakan juga, nanti fans Erdogan sakit hati, dan hatersnya juga kecewa sekaligus. Kenapa saya selalu menyebut fans dan haters berbarengan. Karena, jauh di lubuk hati kita, Erdogan hanya diambil simbolnya saja. Jujur saja deh, bagi orang Indonesia Erdogan cuma sekadar simbol untuk ego kalian yang terluka (fans) dan arogansi kalian yang di atas angin untuk membully (haters).

10 tahun lalu, simbol untuk ego kalian yang terluka itu bernama Ahmadinejad. Oh iya, saya tidak akan lupa sebuah fakta sejarah kalau orang-orang Indonesia pernah menggilai Ahmadinejad. 10 tahun dari sekarang, simbol untuk ego kalian yang terluka itu akan berganti nama lagi. Yang abadi ya cuma ego yang terluka itu.

Ahmadinejad, Erdogan dan entah siapa lagi yang akan dijadikan idola adalah candu. Fans dan hater akan bertukar posisi sesuai zaman, dan kelakuannya saya jamin sama. Itu sebabnya fans dan haters itu di mata saya nggak penting.

Ego kalian pernah terluka oleh SBY, makanya kalian menggilai Ahmadinejad. Presiden yang tidak mungkin memimpin kalian. Sekarang ego kalian terluka oleh Jokowi, lalu kalian mencari Erdogan. Figur lain yang tidak mungkin memimpin Indonesia. Kalian mencari pelarian yang tidak ada dan baru berduka ketika pemimpin sendiri sudah lengser.

Cuma segelintir dari kalian yang peduli dengan kudetanya. Bahkan tidak ada yang membahas Fethullah Gullen bukan? Satu saja broadcast soal Gullen, please share to me hehehehe.

Diskursus kudeta di Turki cuma pertarungan Erdogan itu pemimpin hebat VS Erdogan itu pemimpin bangsat. Sungguh sia-sia. Itu bisa diperdebatkan tanpa harus menunggu kudeta di Turki toh?

Bahas dong, kenapa pemimpin seagung dan semulia Erdogan dikudeta? Apa kira-kira yang salah? Bahas juga kenapa langsung ada ribuan orang yang ditangkap, itu daftarnya dari mana? Coba hitung, berapa berita media Turki yang mewawancarai mereka yang ditangkap? Siapa itu Fethullah Gulen yang dibenci Erdogan? Ulama loh dia dan kalian memuja Erdogan membangun kejayaan Islam kan.

Diskusi soal tema-tema di atas jauh lebih bermanfaat dari pada broadcast daftar jasa-jasa Erdogan oleh yang ngakunya doktor ilmu politik yang ternyata politisi kubu oposisi dan tidak netral. Atau menyebar daftar dosa-dosa Erdogan, itu juga nggak ada manfaatnya.

Ngomongin kudeta nih. Kalau buat saya, kudeta Turki belum mengalahkan rekor kisah kudeta paling keren dan berhasil. Sama-sama dilakukan malam hari, tapi yang disikat adalah faksi militer yang anti kudeta dulu. Jadi tidak ada faksi militer kuat yang bisa dipegang presiden macam Erdogan ini. Kemudian media dibungkam erat, cuma satu koran yang menyuarakan kubu militer pendukung kudeta. Presiden mau langsung disikat, tapi ternyata tidak ada di tempat.

Besokannya, tuduhan kudeta dilemparkan ke partai politik pendukung presiden. Ribuan orang ditangkapi dan dibantai dengan daftar yang ternyata sudah ada, dari guru, pegawai pemerintah, petani, militer, tokoh perempuan dll (miriplah dengan pasca kudeta di Turki). Presiden pun akhirnya tetap bisa di-skak mat.

Kalau Anda cukup piknik dan baca buku tentunya, pasti tahu kudeta yang saya maksud...

Wednesday, July 13, 2016

Balada Negeri Suporter Bola dan Negeri Warung Kopi

Jangan bingung melihat kelakuan anak bangsa berpolitik di negeri ini ya. Apalagi di dunia maya. Dari paradigma behavioralisme, cukup sederhana menyimpulkan perilaku mereka. Saya bikin nama sendiri yang kayaknya sesuai:

1. Negeri Suporter Bola

Tahu supporter bola kan? Kalau tim jagoannya kalah, marah-marah. Menurut mereka, kalau tim jagoannya kalah, itu karena salah tim lawan, salah wasit, dan kalau perlu salah rumput stadionnya. Tim jagoan dia nggak pernah salah, pokoknya nggak pernah. Nggak pernah....

2. Negeri Warung Kopi

Pernah ke warung kopi tradisional di Indonesia? Orang-orang ngumpul, ngobrol, ngomentarin sesuatu, paling asyik sambil nonton TV buat dikomentarin. Komentarnya jago-jago, analisanya dahsyat, mereka paling tahu solusi terbaik. Tapi apakah mereka lantas membuat perubahan? Ya nggak lah, kan cuma minum kopi doang.

Sekarang bagaimana kita mau menjadi oposisi yang kuat, pengkritik yang menakutkan pemerintah kalau mentalnya cuma sekelas suporter bola dan pengunjung warung kopi?

Manusia politik sekelas suporter bola hanya mengandalkan amarah dan benci kepada tim lawan, sambil mengagungkan tim sendiri. Padahal amarah dan benci itu temporer, kalau sudah reda maka hilanglah ikatan mereka, malah nobar ama tim lawan. Akibatnya tenaga mereka habis untuk memelihara kebencian, karena itu satu-satunya ikatan mereka.

Manusia politik sekelas pengunjung warung kopi ya kayak anjing menggonggong saja. Tenaga mereka habis untuk sumpah serapah, tapi tidak bisa digulirkan menjadi sebuah gerakan politik yang menggelinding keluar dari warung kopinya.

Mereka cuma terpana melihat mimpi politik mereka makin jauh dari realita. Manusia politik jenis suporter bola dan pengunjung warung kopi, hidup dalam ilusi mayoritas dan terbiasa mengkonsumsi informasi fiktif yang memabukan. Lah, kalau tim bolanya jelek mau bagaimana lagi? Kalau cuma teriak-teriak di warung kopi, bagaimana mau bikin perubahan?

Bagaimana berpolitik yang baik? Gampang. Berhentilah jadi supporter bola, tapi jadilah pemain bola yang turun ke lapangan. Menjadi sparring partner dari tim lawan yang kalian benci itu. Jadi kalian bisa ukur diri dan ukur lawan dengan data dan fakta yang sungguhan.

Kedua, keluarlah dari warung kopi. Realisasikan omongan, analisa atau bualan yang canggih-canggih itu ke dalam sebuah gerakan dari akar rumput. Jadilah solusi tandingan terhadap pemerintah yang kalian kritik itu. Jangan cuma ribut doang di medsos.

Marah dan teriak-teriak tidak akan membuat kita menjadi lebih terdengar. Karena, di dalam bilik TPS tetap saja kita cuma diberikan 1 kertas suara...

Saturday, June 18, 2016

Media Disuruh Netral, Eh Malah Pembacanya yang Partisan

Yaaa judul tulisannya sudah menjelaskan apa yang mau saya tulis kan? Semua berawal dari obrolan panjang dengan kawan-kawan SMA di group Whatsapp ketika untuk ke sekian kalinya berbagi link berita media online abal-abal.

Ternyata banyak yang belum tahu juga ngebedain media abal-abal sama media beneran. Jadilah saya jelasin, sesuai UU patokannya 3: mencantumkan alamat, mencantumkan susunan redaksi dan mencantumkan pedoman media cyber‎.

Terus ada pertanyaan, apakah 3 patokan ini menjamin media itu nulis berita yang benar? Ya saya balik lagi omongannya, media yang nulis berita bener itu banyak, pertanyaannya apakah sekarang pembaca butuh berita bener?

Kami sudah capek-capek liputan sampe malam, nulis berita sesuai fakta, cover both side. Tapi apa yang di-share orang? Pelintiran berita yang bahkan wartawannya saja nggak ada di lokasi, Wong cuma media online abal-abal.‎ Kan kezzeeeelll. Udah jelas datanya palsu, kita pegang data asli. Tetap aja orang percaya yang data palsu itu.

Faktanya pembaca sudah membentuk persepsi politik di otaknya. Media dia pakai untuk pembenaran atas persepsinya bukan untuk mencari kebenaran, yang parah sumbernya adalah media abal-abal atau blog yang menyerupai media, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Itulah yang terjadi sekarang.

Padahal, aturan yang ada itu untuk melindungi hak pembaca. Manakala dirugikan oleh berita, ada hak jawab bahkan somasi. Sekarang kalau kamu difitnah sama media abal-abal, mau protes sama siapa?

Pembaca menuntut media untuk selalu netral. Tapi pembacanya malah partisan. Kalau beritanya enak buat kuping mereka, keluar puja puji. Kalau nggak enak, keluar caci maki. Media yang legal saja sulit menjaga netralitas, lantas netralitas apa yang bisa dijamin oleh media abal-abal. Tapi tidak akan ada protes selama itu memuaskan ego politik pembaca.

Situasi ini adalah pembelajaran baru di Indonesia. Masyarakat kita akan menjadi seperti di Inggris atau Amerika. Media dan pembacanya sama-sama partisan. Di Inggris kalau kamu dukung Uni Eropa, kamu bacanya Guardian. Kalau anti Uni Eropa, kamu bacanya Daily Mail. Di USA kalau kamu benci Islam kamu bacanya New York Post, tapi kalau belain Islam kamu bacanya New York Daily News.

Di Indonesia sudah mulai begini. Dukung Jokowi nontonnya Metro Mini, anti Jokowi nontonnya TV Satu. Tapi setidaknya partisan ini dijaga dalam koridor media yang resmi, jangan kasih tempat untuk media abal-abal yang cuma jadi sumber fitnah dan adu domba dari kedua kubu.

Lantas, bagaimana cara menjadi pembaca berita yang cerdas? Eh tapi yakin mau jadi pembaca berita yang cerdas? Sudah siap mental? Baik, begini caranya: Bacalah berita dari kedua kubu. Berani nggak? Udah siap sakit hati belum?

Kalau nonton TV Satu, nonton juga dong Metro Mini. Kalau baca Media Nusantara, baca juga dong Rakyat Freedom. Pun demikian dengan media sosial, kalau dengerin Jonru, dengerin juga dong Abu Janda. Percayalah, mereka saling melengkapi informasi dan kamu dijamin jadi pembaca yang cerdas.

Mau yang netral? Masih ada detikcom kok tenang aja. Kita punya parameter sederhana untuk menjaga netralitas kita. Bos gue bilang, kalau kita dimusuhin kedua kubu, artinya kita netral. Biarin aja ada pembaca bilang detik pro Jokowi, toh mereka nggak tahu kalau wartawan kita ada yang di-black list PDIP (true story). Zaman pilpres redaktur politik kita dimarahin parpol pendukung Jokowi, sekaligus dimarahin parpol pendukung Prabowo.

Apakah detikcom punya keberpihakan? Oh jelas kita punya, bos gue bilang kita berpihak kepada kebenaran. Aiih sedaaaap.....

Thursday, June 9, 2016

Ilusi Mayoritas

Bismillah, nge-blog lagi ah, drpd isi otak terbuang sayang...

Ilusi Mayoritas

Menganalisa kondisi politik terkini negeri ini, secara sederhana adalah berkembangnya xenophobic populism (skripsi kuliah saya). Ini nggak cuma di Indonesia kok, santai aja bro. Inti masalah pada awalnya ada kesenjangan ekonomi dan politik, lalu ada sebagian kecil yang frustasi karena terancam dalam kompetisi.

Kenapa? Karena mereka hidup dalam ilusi mayoritas. Mereka merasa jumlah mereka banyak, lantas berhak terhadap akses politik dan ekonomi. Masalahnya, mayoritas bukan artinya serta merta bisa meminta begitu saja akses politik dan ekonomi itu. Macam preman pulak kau.... beraninya keroyokan.

Cuma ya ilusi udah jd makanan mereka sehari-hari, untuk mengobati sakit hati. Jadi gagap bgt dengan realitas. Dari Prancis, Amerika, Australia, sampai Indonesia hal ini terjadi. Kebencian mereka mengambil simbol apapun yang dianggap berbeda, tapi mewakili lawan politik mereka.

Di Prancis yang dihajar umat Islam, di Australia yang dihajar adalah imigran, di Amerika yang dihajar imigran Amerika Latin, di Indonesia yang dihajar adalah China dan kaum kafir. Xenophobic populism melakukan agregasi politik dengan cara yang paling mudah dalam sistem politik di negara tersebut. Di Australia, pasti bikin parpol, karena gampang banget. Kalo di Indonesia, pasti bikin ormas dan berharap uang dari parpol tertentu.

Ilusi apa sih maksudnya? Australia contoh paling gampang, banyak parpol gurem mengusung isu anti imigran. Buat mereka, sebagai true blue Australian (pribumi), mereka terjajah kaum imigran. Pdhl itu ilusi, mereka doang kali. Mayoritas pribumi Australian tdk merasa terjajah imigran, karena secara politik dan ekonomi lebih aman posisinya.

Kalau di Indonesia, isi kepala mereka begini: Saya kan pribumi, pribumi kan banyak, masa org China lbh kaya dari saya. Atau, saya kan Islam, Islam kan banyak, kok orang kafir yang jd penguasa. Pdhl realitanya, banyak kok pribumi kaya dan muslim penguasa.

Ciri-ciri mereka: kecil tapi berisik. Tapi jangan takut, kekuatan mereka cuma mengandalkan kebencian semata, ketika benci itu hilang, hilang juga dukungan terhadap kelompok ini, pindah ke spektrum tengah. Solusinya adalah membuat sistem yang lebih menjamin akses politik dan ekonomi yang lebih merata untuk rakyat. Negara yang melakukan itu, terhindar dari gejala xenophobic populism. Negara-negara Skandinavia baek-baek aja tuh.

Btw soal spektrum, xenophobic populism ada di ekstrem kanan, sementara communism ada di ujung paling kiri. Xenophobic populism itu satu famili tapi lebih jinak dari fasism, racism, ultra nationalism, far right, ultra right, right wing. Disebut lebih jinak, karena ada embel-embel populism, mereka gampang terbuai oleh tokoh yang menjual janji-janji surga macam Donald Trump. Intinya mereka cuma anak-anak kecil yang manja dan merengek-rengek, karena anak baru di komplek punya mainan lebih bagus.

Sunday, January 13, 2013

Tucuxi dan Mimpi Anak-anak Habibie

Bangun subuh, baca detikcom rupanya ada berita detikOto, soal Danet Suryatama angkat bicara mengenai mobil Tucuxi. Wow, detikOto sampai dini hari uplod berita. Tapi memang penting banget sih masalah Tucuxi. Saya kali ini bukan mau bicara soal otomotif dan rencana industri mobil nasional, bukaaaan.

Saya tertampar dengan kalimat terakhir Danet, "Siapa menggagalkan mimpi anak-anak Habibie?" Jleeb, rasanya seperti sebuah tikaman di jantung. Habibie, manusia yang satu itu berhasil melambungkan mimpi jutaan anak negeri ini untuk meniru dirinya, mencari pengalaman ke luar negeri dan jadi orang pintar. Serius kawan, manusia-manusia Indonesia yang jenius banyak di luar sana.

Danet, saya harus menghela nafas sebelum melanjutkan kalimat ini, adalah orang kesekian ribu yang tidak dihargai pemerintah bangsanya sendiri. Saya sebut pemerintah, karena kalau urusannya people to people, mereka lebih bisa menghargai orang jenius ini daripada pemerintahnya.

Selama merantau di Jerman, saya sering bertemu dengan orang-orang seperti Danet. Manusia dengan tingkat kecerdasan luar biasa. Mereka ada pada level yang saya sendiri tidak sangka manusia Indonesia bisa sepintar itu. Gila man, orang Indonesia tuh boleh diadu dengan orang paling pintar dari belahan dunia mana pun. Sebel saya kalau melihat pejabat kita merasa inferior kalau ketemu bos perusahaan asing atau pejabat pemerintahan asing. Hari gini masih punya mental bangsa jajahan? Hah, sudahlah!

Balik lagi soal manusia Indonesia jenius. Guru bahasa Jerman saya di Hartnackschule Berlin sampai punya anggapan begini: Semua orang Indonesia datang ke Jerman untuk belajar teknologi. Nggak salah kok, mereka adalah Anak-anak Habibie, generasi muda Indonesia yang belajar aneka ilmu yang dahsyat. Bidangnya sudah aneh-aneh. Lagipula, ngapain sih belajar yang biasa kalau mereka punya otak yang luar biasa.

Ada dua ilmuwann yang saya cukup kenal. Demi menjaga privasi mereka,  kita pakai inisial saja ya. Yang pertama ini adalah Pak H. Bidangnya teknik sipil, namun sangat tinggi ilmunya. Tahu nggak kenapa kontruksi beton buatan Jerman kuat-kuat. Mereka menguji beton konstruksinya diledakan! Blarrr! Dan manusia jenius di balik uji coba beton ini adalah Pak H dan dia adalah satu-satunya orang Indonesia yang ada di badan riset beton itu.

Ada ucapan beliau yang terus terngiang-ngiang di kepala saya. "Mas Fitraya, kalau saya ke Indonesia, nanti saya mau kerja apa?" Persis! Ya Tuhan, bangsa ini belum sanggup menampung anak-anak Habibie yang kepintarannya jauh melebihi para anggota DPR yang terhormat itu.

Orang kedua adalah ilmuwan geofisika, Pak M namanya. Sempat berbakti di Indonesia dan terlibat dalam penanganan Kasus Lumpur Lapindo. Namun rupanya pihak Lapindo tidak butuh orang jujur. Ketika Pak M bicara apa adanya soal kemungkinan human error dalam kasus Lapindo, dia malah didepak. Mendepak orang sejenius ini? Karena kejujurannya? Bangsa kita sudah sakit.

Jerman pun mengambil Pak M. Dia kini menjadi salah satu ilmuwan ternama pada sebuah universitas top di Jerman. Orang Indonesia, saudara-saudara sekalian. Masih banyak orang-orang seperti mereka, bertebaran di seluruh dunia dengan kemampuan luar biasa. Mereka siap membangun Indonesia, tapi tidak ada political will yang serius dari pemerintah Indonesia untuk menghimpun mereka.

Saat saya hendak meninggalkan Jerman untuk pulang ke Indonesia, Pak H dan Pak M cerita ada wadah yang sudah dibikin namanya Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4). Wah saya ikut girang, daripada menunggu niat baik pemerintah, mending mereka yang jemput bola menghimpun diri. Bayangkan anak-anak Habibie ini di seluruh dunia merapatkan barisan, ingin berbuat sesuatu untuk bangsa.

Tapi, masalah Tucuxi ini seperti pukulan terhadap mimpi idealis mereka untuk menyembuhkan bangsa yang berpikir pendek dan instan ini. Danet, kalau saya tidak salah, adalah bagian dari jaringan I4 ini. Saya hanya bisa membayangkan sakit hatinya Danet.

Saya hanya berdoa......... Ah lagi-lagi saya harus menghela nafas panjang. Please, Danet, Pak H, Pak M dan kalian wahai anak-anak Habibie di segala penjuru planet Bumi, jangan menyerah dengan bangsa ini. Kalau bangsa ini memang kerbau. Cocoklah hidungnya dan bawa ke padang rumput yang hijau, lalu ajari kerbau ini menjadi manusia Indonesia seutuhnya.

Saya hanya mengutip, kalimat pembuka surat terbuka I4 yang dibikin dulu banget waktu deklarasi. Ingat-ingatlah kata-kata ini, ingat-ingatlah mimpi kalian:

Kepada Para Ilmuwan Indonesia Internasional di Berbagai Belahan Bumi
Bahwa sesungguhnya kemajuan dan kemuliaan suatu bangsa tidak terlepas dari penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Kemajuan dan kemuliaan suatu bangsa merupakan kristalisasi keringat dan kerja keras dari bangsa tersebut dalam menguasai, memanfaatkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi dalam pembangunan bangsanya.


Anak-anak Habibie, kalian adalah pemuda yang disebut Soekarno dapat mengguncang dunia!

Monday, December 24, 2012

Menikah Muda dan Bangga!

Di tengah tulip Britzergarten Berlin
"Mas Faya anaknya mau tiga, dan kita belum menikah!" pekik anak buah saya, Putri, waktu saya memberi tahu Travel Troopers (sebutan untuk awak detikTravel), kalau Desti lagi hamil.

Yup, saya dan Desti menikah dalam usia 23 tahun. Pada saat saya berumur 24 tahun, saya sudah menggendong bayi bernama Zahra. Masih muda bukan? Sampai ibu saya bilang, pernah ada yang menduga kami menikah karena Desti hamil duluan. Apaaa? Sembarangan! Saya adalah pria gentle yang menjaga kehormatan perempuan...

Tergesa-gesa juga bukan. Menikah dengan Desti adalah keputusan terbaik dalam hidup saya. Menikah muda adalah langkah yang kami ambil dengan PENUH perhitungan. Lihat, kata 'penuh' ditulis dengan bold, italic, underline dan uppercase. Ini bukan main-main.

Pada saat saya seusia anak buah saya sekarang, saya sudah berpikir jauh lebih dewasa dari mereka. Dunia mereka masih bermain, belajar kerja, cinta masih dicari, kalaupun dapat masih flirting kanan kiri. Mungkin enak hidup seperti itu. Namun sayang, itu bukan pilihan untuk saya saat itu.

Saya menjalani hidup yang keras. 5 Tahun paling kelam yang akhirnya mengubah Fitraya Ramadhanny selamanya. Shafa, anak buah saya, nggak percaya saya pernah hidup dalam kegelapan hahahaha. Dia mengira saya lugu, polos dan lurus hehehehe.

Mungkin butuh 5 blog untuk menjelaskan masa-masa itu, tidak sederhana memang. Ibu saya berulang kali bilang, "Mama bersyukur kamu bisa melewati masa itu, bahkan kamu itu nggak lari ke narkoba!" Saya pribadi bersyukur masih hidup, tidak berakhir menjadi sebuah artikel di koran lampu merah bagian berita bunuh diri.

Saya dipaksa hancur di saat saya baru mau meretas masa depan. Saya melawan dengan menjadi nakal. Lelah menjadi nakal, saya lari. Lelah melarikan diri, saya belajar bangkit dan menolak hancur. Saya harus melindungi orang-orang yang saya sayang. Walaupun saya babak belur, namun saya merasa hidup saya masih layak diperjuangkan. Karena saya menjalani itu tidak sendirian, ada seorang gadis cantik dan brilian otaknya, yang mengetahui kejadian itu sejak awal, dan menemani saya melewati masa sulit itu. Namanya Desti Fitriani.

Kebun anggur Sans Soucci Palace, Postdam
Desti, juga menjalani hidup yang sama keras. Dalam usia sebelia itu, kami dipaksa menghadapi dan mengatasi masalah untuk orang-orang 10-20 tahun lebih tua dari kami, justru karena mereka yang kekanak-kanakan. Situasi memaksa kami berpikir dan bertindak dewasa, jauh lebih dewasa dari teman-teman sebaya. Pilihan kami cuma dua, bertahan atau hancur.

"Kita mesti mikir hidup ini nanti bagaimana, bukan bagaimana nanti," ujar Desti, yang selalu saya ingat sampai sekarang. We were living in hell...

Penasaran ya ada apa yang terjadi? Desti bilang, nggak usah ditulis jadi blog hahahaha. Cukup jadi lesson learned for us. Sori......... Anyway, cinta kami yang awalnya tipikal gejolak kawula muda (halah ampun ini istilahnya), tiba-tiba menemukan makna sejatinya. Jadi beneran, jadi serius. Kami saling mencintai untuk bertahan hidup. Saling menguatkan satu sama lain, saling membantu satu sama lain, saling menjaga satu sama lain. Saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing, ini yang paling sukar. Mentertawakan dan meratapi nasib kami bareng-bareng.

Kami seperti tinggal berdua melawan dunia.Teman-teman SMA, cuma 2 orang yang tahu masalahnya. Teman-teman kampus nggak ada yang tahu juga kami menghadapi apa, dan masa iya kami mesti pasang pengumuman. Kami tersenyum di depan mereka dengan hati yang getir, kami tertawa dengan hati yang menangis.

Kenapa saya begitu yakin akan menghabiskan hidup dengan Desti? Saya saat itu menyadari kalau pasangan hidup bukan seseorang yang sempurna. Manusia nggak ada yang seperti itu. Pasangan hidup adalah seseorang yang saya butuhkan. Seseorang yang bisa melengkapi keberadaan kita, walaupun dia berbeda sifat. Apa yang nggak ada di saya, ada di Desti. Begitu juga sebaliknya. Desti lah yang menyempurnakan keberadaan saya di dunia.

Saya dan Desti sampai kepada suatu titik kesimpulan. Menikah adalah tiket kami untuk menyelamatkan diri dari dunia kami yang sakit. Saat itu usia kami bahkan baru 20 tahun. Sadar bahwa kami mungkin menghadapi tantangan dari orangtua masing-masing, kami mempersiapkan dulu pernikahan itu, sebelum kami benar-benar menyampaikan rencana itu kepada orangtua kami 2 tahun kemudian.

Saya menyampaikan niat saya menikah dengan Desti, bicara empat mata dengan ayahnya, saat umur saya 22 tahun.... masih kuliah. Tapi saya berani karena membawa rencana matang, bukan omong kosong. Calon mertua saya tahu cobaan hidup apa yang saya hadapi.... dan mengizinkan saya menikahi Desti. Dengan syarat, saya lulus kuliah dulu, karena Desti lulus setahun lebih cepat. Desti angkatan 1999, saya angkatan 2000.

6 Bulan setelah lulus kuliah, tepatnya 20 November 2004, kami menikah. Sebuah pernikahan yang kami persiapkan sendiri dibantu teman-teman, karena kami sadar tidak bisa membebani orangtua kami terlalu banyak saat itu.

Stockholm Palace
Delapan tahun berlalu sejak saat itu. Kami mensyukuri pernikahan kami. Benar-benar memulai dari nol, kini kehidupan kami penuh warna. Sempat berkelana 1 tahun di Jerman dan backpacker keliling Eropa, itu juga pengalaman berharga buat keluarga kecil kami. Ada Zahra si juara kelas, ada Dzaky si ganteng yang penuh tenaga, dan bayi di perut Desti.Saya sekarang Redaktur Pelaksana detikTravel dan Desti adalah dosen FEUI dengan gelar Master dari Jerman.

Tentu saja kami masih punya mimpi dan cita-cita. Mimpi dan cita-cita yang saya tahu tidak bisa saya kerjakan sendiri. Sedari awal, saya dan Desti adalah tim yang solid dan akan terus seperti itu. Kami harus punya visi jauh ke depan, itu yang membuat kami bertahan, walaupun dipaksa dewasa sebelum waktunya hehehe.

Kami kini sudah bisa tersenyum melihat masa lalu kami yang berat. Saya sendiri sudah berdamai dengan masa lalu, saya sudah memaafkan semua yang terjadi, memaafkan semua yang membuat kami jadi begini. Kami kini sudah memahami apa rencana Allah di balik semua ini. Memang ini yang jalan yang ditetapkan Allah untuk kami.

Allah mengganti semua air mata itu dengan sejuta kebahagiaan. Titik balik itu adalah pernikahan dini kami, seperti janji-Nya bahwa menikah itu membuka pintu rezeki. Menikah dalam usia muda, adalah hal terbaik yang pernah kami lakukan.

Sunday, December 16, 2012

The Best Job in The World

Pas lagi di Pantai Cinabung, Ujung Kulon, difotoin Fayyas
Lewat jejaring Facebook, saya menemukan teman lama. Lamaaaa banget. Namanya Charlie Huveneers, anak Belgia yang dulu sama-sama jadi Exchange Student 1998-1999 di Queensland, Australia. Dimana dia sekarang?

Usai program duta budaya selesai, kami pulang ke negara masing-masing. Namun, Charlie kembali ke Negeri Down Under. Dari bio-nya dia bekerja di Sydney Institute of Marine Science, jadi marine biologist. Ini adalah pekerjaan yang saya tahu sudah menjadi mimpi dia sejak kami remaja dulu.

"I wanna be Jacques Cousteau!" ujar dia berulang-ulang dahulu. Here it is, jadilah dia Jacques Cousteau, ahli biologi laut yang film dokumenter divingnya sering dipasang TVRI dalam acara Flora dan Fauna, zaman kita kecil dulu. Kita? Elo kali Fay yang masih kecil baru ada TVRI doang.

Charlie bilang apa kepada saya dalam sebuah chatting beberapa bulan lalu? "Maaan, I have the best job in the world! I'm paid to swim and play with fish, can't complain, hahaha."

Pernyataan Charlie menyentak saya. Pekerjaan terbaik di dunia bukanlah soal pekerjaan dengan gaji jutaan dollar. Pekerjaan terbaik di dunia adalah melakukan hal yang kita cintai. Penyanyi Nugie bilang 'Lentera Jiwa'.

Bagaimana kalau pekerjaan ini bukan sesuatu yang kita cintai? Kita masih bisa membuatnya the best job in the world. Caranya, belajar mencintai dan mensyukuri pekerjaan Anda. Karena, dengan itu Anda tidak menggelandang di jalanan. Karena, pekerjaan Anda sekarang bisa menjadi alat bantu untuk Anda melakukan hal yang Anda cintai, entah hobi, travelling, makan, belanja dll. Cinta itu proses kok, memang butuh waktu.

Saya terdiam satu jurus dan berpikir, iya juga ya. Lalu saya akhirnya menjawab ucapannya. "Me too, mate. I also have the best job in the world. I'm paid to travel!"

Menjadi wartawan detikTravel, artinya kami dibayar untuk jalan-jalan. Keren nggak sih? Jalan-jalan, tentu adalah hal yang kami cintai. Team member saya, Afif dan Sastri puas menjelajah Papua, dibayari. Shafa ke Pulau Komodo, Putri ke Kalimantan, dibayari juga. Badan pariwisata negara lain meminta detikTravel menulis pariwisata di negara mereka, artinya membayari kami datang.

Charlie membantu saya untuk bisa mensyukuri kehidupan saya sekarang. Sekeras apapun masalah yang saya, Desti, Zahra dan Dzaky alami dalam hidup ini, setidaknya saya mengerjakan sesuatu yang saya cintai sebagai penghidupan.

Untuk team member saya, Afif, Putri, Shafa, Sastri. Kerja yang rajin ya... Bersyukurlah Travel Troopers, kita punya pekerjaan terbaik di dunia!!

Saturday, December 15, 2012

Analisa Politik Soal Penembakan Sandy Hook

Photo by Reuters
Bangun pagi baca detikcom, tahu-tahu sudah ramai penembakan di SD Sandy Hook, Newton, Connecticut, USA. Korban jiwa 27 orang, termasuk 20 anak-anak SD. Obama menangis.... Cukup? Saya tersenyum getir. Untuk yang satu ini entah kenapa Amerika tidak pernah belajar.

Pada 1998-1999 silam, saya hanyalah seorang anak SMA yang ikut Exchange Student ke Australia. Tapi teman-teman saya yang dikirim ke USA punya masalah tambahan. Terjadi penembakan brutal di SMA, yang saya ingat pelakunya geng sekolah bernama Trenchcoat Mafia. Teman-teman saya itu menjalani hari-hari menegangkan dengan razia senjata api.... setiap hari.

(Maaf tadi Googling dulu) Columbine High School Masacre, 20 April 1999, itu dia nama peristiwanya. Peristiwa itu nempel terus di kepala saya, karena beberapa hal. Satu, saya masih SMA dan membayangkan hal itu terjadi di sekolah saya. Dua, teman-teman saya di AS terkena dampaknya, proses curhatnya itu jadi concern semua panitia Rotary Youth Exchange Program saat itu. Tiga, ini yang penting, Australia juga biasa dengan senjata api.

Confession time! Saya belajar menembak di Australia.Saya diajak berburu ke pedalaman outback Rockhampton. Berangkat subuh ke tengah padang rumput. Saya diberi senapan kaliber kecil, lupa kaliber berapa. Tapi itu senapan sungguhan. Kami berburu Kanguru!!

Saya tidak sanggup menembak hewan lucu yang bisa lompat-lompat itu. Saya memilih menembak sekawanan bebek yang lagi minum di billabong. Dor! Random shoot, pasti kena, soalnya bebeknya ratusan lagi kumpul. Takut? Iya. Sedih? Iya. Merasa bersalah? Iya. Tapi saya belajar hal penting saat itu, SENJATA API BERBAHAYA.

Saya tidak pernah menyalahkan host parent saya yang mengajari saya menembak. Saya memahami kulturnya sepenuhnya. Sebuah kultur sosio-politik yang juga sama di USA. Kepemilikan senjata api adalah bagian dari sebuah ideologi politik di USA dan Australia.

Senjata api mewakili sebuah identitas politik konservatif, tradisional, true blood American, rural, redneck, pendukung Partai Republik. Mereka yang tinggal di kota kecil, hidup di peternakan, masyarakat rural, jarang bersentuhan dengan orang asing, memandang sebelah mata kepada kelompok imigran, mereka lah yang merasa memiliki negara ini, dan mereka mempertahankannya dengan....... senjata api.

Perhatikan deh, kebanyakan kasus penembakan sekolah di USA terjadi di kota kecil. Ya itulah masyarakat dengan identitas politik itu tadi. Please tell me kalau ada data penembakan sekolah di New York, LA atau kota besar yang multikultural.

Buntut dari penembakan di Sandy Hook ini pasti desakan soal Gun Control. Sebuah kebijakan yang saya analisa pasti akan diendorsed Presiden Obama dan Partai Demokrat. Tapi, kaum Republican akan menentang habis. Republican selalu menang soal Gun Control, buktinya peristiwa yang sama terus berulang sejak dulu saya tahu tahun 1999 sampai 2012. 13 Tahun!

Entah kenapa Gun Control seperti mentah terus gara-gara 'Invisible Hand' di USA. Terserah mau dibilang lobi Yahudi, Freemason, Kabalis, kepentingan modal kapitalis, dll. Mereka selalu bisa menekan Gun Control itu yang penting ada toko senjata khusus, pembeli dengan aneka persyaratan tertentu, tapi begitu senjata sudah ada di tangan warga sipil, urusan masing-masing deh tuh.

Gun Control setelah kasus penembakan Sandy Hook? Buat saya omong kosong, Republic belum pernah kalah untuk hal ini. Buat mereka Gun Control sudah sempurna. Sandy Hook cuma kasus minor.

Yang orang belum menyadari adalah: Gun Control bisa merusak industri persenjataan USA yang didukung Republik. Ini bisnis jutaan dollar. Yang kelas partai besar (bayangkan Carefour) dibeli militer, yang eceran (bayangkan Indomart) dibeli warga sipil. Perang melawan terorisme, Irak, Afghanistan, Libya, itu sudah memutar uang jutaan dollar.

Bagi mereka, peluru harus selalu bisa dijual, Gun Control haram hukumnya, Sandy Hook besok juga orang lupa, ribuan prajurit USA yang mati, mereka bilang Expendables, bagian dari proses produksi. Yang mati masukan peti, bungkus bendera Star Spangled Banner, cetak prajurit baru.

Saya kasihan sama anak-anak muda galau USA di kota-kota kecil yang punya akses kepada senjata api. Mereka korban dari industri senjata api gila-gilaan. Propagandanya parah memang..... lewat Hollywood.

I tell you secret, ada pesan tersembunyi dari film Iron Man dan Expendables. Itu propaganda betapa industri senjata api itu penting untuk USA. Tony Stark perlu membuat senjata karena itu keren. Stallone dan kawan-kawan butuh senjata itu untuk melawan orang jahat di berbagai belahan dunia. Paham? Masih berharap dengan Gun Control?

Maaf saya pesimistis, tapi kasus Sandy Hook itu dead end. Cuma prihatin dan janji manis untuk mengendalikan senjata. Tapi setelah itu, entah di kota kecil mana lagi di USA, ada anak muda yang labil tapi punya akses kepada senjata api entah punya siapa. Ujung jari telunjuknya ada di pelatuk. Saya berduka cita untuk para korban.

Sunday, October 14, 2012

Marriage is A Reminder From God

Kemarin, sejumlah orang termasuk saya mendapat sebuah pelajaran maha penting, sekaligus sebuah pengingat tentang pernikahan. Seseorang yang dekat dengan kami, batal menikah pada jam-jam terakhir menjelang pernikahannya. Batal begitu saja... dengan alasan tertentu.

Sedih rasanya mengetahui hal ini... Kisahnya terlalu privat untuk diceritakan di sini. Namun ada esensi penting yang harus disampaikan sebagai pengingat.

Menikah...... bukan hanya menyatukan dua manusia. Menikah adalah menyatukan banyak orang..... dalam dua keluarga, atas nama Allah, agama dan cinta.

Terlalu sederhana kalau menikah hanya menyebut A menikahi B, karena faktanya banyak orang yang akhirnya bersatu dalam sebuah pernikahan, lebih dari sekadar kedua mempelai tersebut. Kedua orang tua menjadi besanan, saudara-saudara menjadi ipar, dan sanak famili menjadi kerabat. Anak akan punya orang tua baru bernama mertua, siapkah mereka menghormati? Orang tua akan punya anak baru bernama menantu, sudah siapkah mereka menyayangi?

Melalui pernikahan, cinta mengikat lebih dari sekadar sang pengantin, tapi juga seluruh keluarganya. Hal itu sekaligus juga menjadi tantangan, karena kita tahu bahwa konflik juga merupakan bagian dari kehidupan.

Menikah..... juga adalah cara untuk menyatukan sebuah perbedaan. Terkadang perbedaan itu begitu besarnya, karena lagi-lagi yang terlibat bukan hanya dua orang, tapi banyak orang. Kadang kita semua berhasil mengatasinya..... kadang tidak. Kemarin, perbedaan itu belum bisa kami atasi.

Kemarin, Allah menjadikan pernikahan sebagai sebuah pengingat. Untuk yang akhirnya tidak menjadi pengantin, Allah bertanya, "Apakah kamu sudah siap menikah? Apa niat kamu menikah? Dengan siapa kamu menikah?" Kepada keluarga yang akan menikahkan anak-anak mereka, Allah juga bertanya, "Apa tujuan dari pernikahan ini? Dengan siapa kamu menikahkan anakmu?"

Setiap detil yang menyusun sebuah mahligai pernikahan, adalah kebaikan, dan harus berasal dari kebaikan itu sendiri. Mengawali pernikahan dengan niat yang benar, cita-cita yang benar dan cara yang benar. Jangan beri tempat untuk keburukan mencari celah dalam ruang penikahan.

Saat pertanyaan-pertanyaan dari Allah itu dijawab.... Saat niat itu diuji.... Kita akan tahu, apakah sebuah pernikahan baru layak untuk dimulai atau tidak. Bisakah kita menyatukan perbedaan itu, bahkan berdamai dengan perbedaan dan menjadikannya sebagai benih-benih harmoni.

Saking seriusnya sebuah pernikahan, Rasulullah Muhammad SAW mengatakan, "Menikah itu menyempurnakan separuh agama." Karena pada faktanya, dalam pernikahan kita mempraktekan dalam kehidupan nyata separuh pelajaran agama yang kita dapat, separuh isi Al Quran yang kita baca.

MENIKAH adalah CINTA terhadap pasangan, ditambah RESPEK kepada keluarga, ditambah TANGGUNG JAWAB kepada Allah. Allah ingin mengingatkan kita bahwa menikah adalah salah satu cara untuk menggapai ridha-nya. Jadi, luruskan niat. MENIKAHLAH karena Allah.

Saat sampai kembali ke rumah, saya peluk Desti erat-erat. Allah juga menjadikan peristiwa hari ini sebagai pengingat atas komitmen kami menikah hampir 8 tahun silam.

"Desti, semoga Allah menjaga niat kita, semoga Allah melindungi kita, semoga Allah mengikat kita. Semoga pernikahan ini menjadi jalan untuk meraih cinta sejati dari-Nya."

Sunday, September 2, 2012

Si Cokor Hejo

Saya nyaris tidak pernah ke Bekasi, selain melintasinya dengan kereta Cirebon Expres. Maaf.... Padahal di Bekasi ada rumah Mas Alvin sepupu saya, Wa Dini mamanya Sastri, dan Bi Nia tantenya Desti. Namun, selama bertahun-tahun itu, waktu memang belum mengizinkan.

Makanya, seminggu usai Lebaran lalu, kami memaksakan diri, pokoknya harus bisa ke Bekasi. Karena Wa Dini ke Bandung, kami hanya pergi ke Bi Nia. Ternyata rumahnya belum masuk Bekasi, tapi Pulo Gebang, Jakarta Timur, nyaris Bekasi sih tempatnya.

Itu adalah hari yang menyenangkan, bisa bertemu Bi Nia dan keluarga. Terakhir saya ingat bertemu Bi Nia saat saya dan Desti menikah. Namun, Bi Nia meralat ucapan saya.

"Bukan, kita pertama bertemu waktu menjenguk Aki Ipik (almarhum kakek mertua). Aki Ipik memanggil kamu Si Cokor Hejo....," kata Bi Nia. Saya benar-benar lupa...
"Iya say, kan waktu itu kamu dikenalkan sebagai calon aku. Aki Ipik udah sakit. Kan kamu tanya juga ke aku Si Cokor Hejo itu apa artinya, aku juga nggak tahu kan," Desti menimpali.
"Si Cokor Hejo itu artinya suka traveling, karena kamu ada turunan orang Bogor," Bi Nia mengingatkan.

Wooooowwww! Bertahun-tahun lalu, sebelum saya lebih banyak bertualang, sebelum saya jadi Redaktur Pelaksana detikTravel, Aki Ipik sudah tahu dalam sekali lirik. Apa ini namanya potensi tersembunyi atau apa begitu.

Jadi karena ibu saya turunan Bogor, saya jadi suka traveling begitu? Masa sih? Mesti nanya dulu sama Kang Haris Maulana ini hehehe.

Tapi ini bukan ramalan, saya tahu betul. Karena, saya yakin dalam setiap nama pemberian orang tua, ada doa di sana. Si Cokor Hejo adalah doa Aki Ipik, dan Allah mengabulkannya. Saya pun berjalan-jalan kesana kemari.

Saat mobil kami membelah Tol JORR nan sepi sore itu, di kepala saya terngiang-ngiang ucapan Bi Nia soal Si Cokor Hejo. Yang bisa saya lakukan hanya memberi Al Fatihah untuk Aki Ipik di surga sana.

Saya jarang foto kaki sendiri (ngapain juga...) Tapi untung ada foto Cokor Hejo saya di bekas Tembok Berlin. Kaki kanan saya di bekas Jerman Barat, kaki kiri saya di bekas Jerman Timur. Ini salah satu foto kesukaan saya.

Yang membuat saya sekarang bahagia, saya bertemu dengan banyak Si Cokor Hejo lainnya, mengurus kanal berita detikTravel soal Si Cokor Hejo dan saya ingin berteman dengan banyak Si Cokor Hejo. Saya yakin, banyak Si Cokor Hejo di luar sana, termasuk Anda.

Sunday, August 5, 2012

A Gentlemen Agreement

Merujuk istilah dari Shafa, gue adalah redpel yang punya sampingan sebagai tong sampah curhatan anak-anak :) Tapi serius, bukankah membosankan kalau di kantor kita cuma ngobrol soal kerjaan. Maka saya menikmati semua obrolan dengan TravelTroopers selain urusan menulis berita.

Gue tidak ingat awalnya, tapi siang itu tiba-tiba sedang ngobrol dengan Putri soal cowok yang memikat hatinya dan apa tanggapan ibu dan bapaknya. Tiba-tiba! (boleh dengan efek zoom in zoom out sinetron Punjabi) Gue pikir gue tahu cowok yang jadi preferensi bapaknya Putri.

"Bapak kamu pilih yang ini ya? (menyebut nama cowok)" tebak saya.
"Alasan Mas Faya apa?" tanya Putri.
"Tapi tebakan gue benar kan," sahut saya dan Putri cuma nyengir.

Mendadak obrolan itu jadi penting buat gue, bukan lantaran gue bisa menebak cowok pilihan bapaknya Putri, TAPI karena gue juga adalah ayah dari seorang anak perempuan dan mungkin 20 tahun dari sekarang, akan ada seorang pemuda mengetuk pintu rumah gue dan mencari Zahra. Gue belum terbayang harus bagaimana, tapi dari obrolan itu semua jadi jelas.

Bapaknya Putri melakukan hal yang sama persis dengan apa yang dilakukan almarhum bapak mertua gue, dan mendadak jelas buat gue sekarang apa maksud dari segala ucapan bapak mertuaku itu dulu. Intinya, seorang ayah akan memilih pemuda yang paling siap untuk melakukan Gentlemen Agreement dengan dia.

Gentlemen Agreement adalah perjanjian di antara dua pria terhormat, yaitu seorang ayah dan pemuda yang ingin punya hubungan serius dengan anak putrinya itu. Elo mau anak gue, elo minta baik-baik ama gue, kita bikin Gentlemen Agreement. Nah, pemuda mana yang siap melakukan itu, rupanya ada parameternya. Bapaknya putri dan bapak mertua gue parameternya sama, berarti gue juga mesti ngikutin tuh.

Serius, jujur, ulet, tekun, berani, pekerja keras, respek ama ortu ceweknya. Walaupun pemuda itu bukan siapa-siapa asalkan parameter itu ada, dia siap melakukan Gentlemen Agreement. Gue ternyata juga melalui penilaian itu.

Bapaknya Desti tahu betapa gue serius ngejar anaknya sejak SMA, sampai ke UI pun gue kejar walau itu artinya gue harus menempuh UMPTN dulu dan asli itu nggak gampang. Dan, gue berani bilang ke beliau gue serius dan ingin menikahi anaknya, dengan kondisi gue baru lulus dan belum kerja. Nekat? Bukan, gue berani, karena gue punya planning.

Beberapa waktu setelah menikah, gue pernah terlibat obrolan sore hari. Beliau bicara soal pemuda desa biasa-biasa saja yang dia setujui untuk menikah dengan keponakannya di Ciamis.

"Asalkan orangnya tekun, sukses itu tinggal soal waktu," kata beliau. Si pemuda itu kini jadi bandar ponsel dan voucher paling besar di Cibinong dengan 2 rumah dan mobil Terios anyar.

Tapi pada sore hari itu, gue juga tahu bahwa kata-kata itu ditujukan juga buat gue. Gue adalah si pemuda serius dan ulet itu juga, makanya gue dikasih menikah sama anaknya walaupun gue belum kerja hehehe. Gue membayar setiap kepercayaan almarhum dengan karir gue sekarang. 7 Tahun kerja dan sudah jadi redaktur pelaksana, itu adalah energi luar biasa yang salah satunya dipacu oleh kepercayaan dari beliau. Apa yang gue raih hari ini adalah bagian dari Gentlemen Agreement itu, gue janji untuk sanggup menafkahi anaknya.

Sikap bapaknya Putri mengkonfirmasi sikap bapaknya Desti, bahwa itulah pertimbangan paling penting dari seorang ayah terhadap pemuda yang menghendaki putrinya. Gue akan menyetujui cowoknya Zahra yang paling siap melakukan Gentlemen Agreement sama gue kelak. Kalau cuma main-main, iseng-iseng doang, gue bacok!

Pada hari dimana akhirnya gue benar-benar berhadapan dengan bapaknya Desti untuk melakukan Gentlemen Agreement, punggung gue seperti ditimpa karung beras 60 kg, badan gue berat banget sumpah. Ya Allah! Gentlemen Agreement ini beneran serius ya. Mengambil alih amanat atas nasib seorang perempuan dari bapaknya ke gue.

Untuk cewek-cewek yang sedang menunggu Mr Right, pastikan saja dia siap melakukan Gentlemen Agreement dengan ayah Anda. Good luck!

Satu hal lagi, Gentlemen Agreement ini implikasinya luas dan serius, tapi dia punya seremoni formal yang sederhana. Perjanjian di antara dua pria terhormat atas nama Tuhan tentang menentukan nasib seorang perempuan yang sama-sama mereka sayangi. Yang satu, menyerahkan kepada yang lainnya. Islam mengatur Gentlemen Agreement ini dengan indah lewat prosesi sederhana: Ijab Kabul.

Saturday, August 4, 2012

Redefining Travel Writer

Apakah seseorang harus menjadi Traveler, atau penghobi jalan, atau termahsyur di komunitasnya untuk bisa menulis mengenai sebuah destinasi?

Kita mulai tulisan ini dari pertanyaan itu. Pertanyaan yang menggelitik di kepala saya usai sebuah obrolan sore dengan Mbak Ine. Intinya, saya bisa mendapatkan sebuah bala bantuan dari belahan Planet Bumi yang lain. Tapi... dia bukanlah orang yang disangka-sangka.

Saya tetap percaya kalau setiap manusia bisa menjadi pencerita yang baik mengenai sebuah destinasi. Setiap manusia! Bahkan seorang kakek tua atau ibu-ibu rumahan sekalipun. Namun, apakah kemudian cerita mereka mau didengar oleh para pegiat travelling? Saya berharap bukan gengsi yang bermain di sini.

Bagaimana kalau ada orang biasa, sama sekali bukan Traveler, tapi dia bisa menulis sangat komprehensif soal destinasi. Anda mau baca tulisannya? Tidakkah Anda tergelitik untuk bertanya: Anda siapa? Sudah pernah traveling kemana? Ikut komunitas apa?

Kalau dia bilang TIDAK untuk semua pertanyaan itu, Anda mau apa? Faktanya orang-orang kayak begitu banyak kok. Saya pernah jumpai beberapa. Mereka antara lain tipe The Local Guy dan The Clever Guy. Orang-orang yang memang mengenal seutuhnya sebuah destinasi dan orang-orang yang misalnya dengan kompetensi akademik dia atau hal lain, menjadi memahami pula sebuah destinasi.

Travelling dan Travel Writer buat saya sekarang artinya begini:
Travelling is beyond everything, and beyond the Traveller themselves. Random person can write about travelling when he/she has the Information.

Mereka menulis benar-benar apa yang mereka ketahui, dan yang penting tidak menjadi sok tahu atas hal lain yang tidak mereka pahami. Buat saya itu cukup.

Kalau mereka kita pandang sebelah mata hanya karena mereka bukan Traveler, what a waste.......

Saturday, July 21, 2012

Catatan Akhir di Sudut Berlin

Ini adalah sebuah catatan akhir sebelum kami pulang dari Jerman. Tersimpan di notes Facebook tertanggal 15 November 2011.

Perlebergerstrasse tiba-tiba menjadi begitu sepi hari Minggu pagi itu, saat kaki melangkah pulang dari Al Falah. Sinar matahari mulai menguapkan embun dari tumpukan daun maple yang gugur. Dan tiba-tiba Berlin memberikan ruang bagiku untuk menyusuri jalan itu..... sendiri.

Dan betapa angin dingin yang menerpa wajahku menyegarkan semua kenangan di dalam kepala. Tentang sebuah perjalanan. Tentang sebuah episode kehidupan. Tentang sebuah fase. Tentang aku, Desti dan Zahra. Tentang mimpi kami dan cita-cita.

Kakiku pun berhenti di Birkenstrasse. Saat aku sejenak memejamkan mata, aku tahu di belakangku adalah satu tahun yang luar biasa. Sementara di depan ada episode lain yang menunggu. Sementara tepat di tempat aku berdiri, hati dan jiwa ku mulai menulis catatan.

Catatan indah mengenai persahabatan dengan manusia-manusia luar biasa. Catatan seru menjelajah bumi Sang Khalik. Catatan cinta, tawa dan air mata. Catatan tentang segala rencana. Dan betapa diri ini tidak pernah bisa sempurna. Namun pada akhirnya aku mencoba memahami ini semua sebagai pelajaran untuk kami mensyukuri dan memaknai hidup.

Aaah..... sungguh kami masih lemah ya Allah. Jadikan kami orang yang pandai bersabar dan bersyukur. Daratkan kami di tempat yang Engkau ridhoi, karena Engkau lah tujuan akhir kami. Jadikan semua pengalaman ini menjadi energi bagi kami untuk melanjutkan hidup kami, berlari dan berlari lagi, kapan pun, kemana pun, di planet ini untuk meraih diri-Mu.

Saat aku membuka mata......... sang matahari pun lembut menyapa lewat sinarnya yang hangat. Fay, ini adalah waktunya untuk pulang.......

Berlin, 15.11.2009

O My God, Where Have I Been?

"Tulis di blog dong....," kata Mas Gol A Gong dalam sebuah obrolan di tepi Danau UI, sore itu.

"Saya punya 2 blog dan nggak keurus, Mas," jawab saya.

"Mulai dong 5W 1H aja," kata Mas Gong sembari menandatangani aneka buku penggemar.

"Hasrat menulisnya tersalurkan dengan bikin berita, Mas," si tolol ini mencoba membela diri.

"Nggak usah dipikirin, udah nulis aja di blog," sambar Mas Gong lagi.

Di kepala saya, kata-kata itu berbunyi "Udah nulis aja (LAGI) di blog", dengan kata LAGI huruf besar, bold, italic, underlined. Rasanya seperti sebuah tamparan...

Beberapa waktu kemudian, saya berada di depan laptop menatap faya-thinkbig.blogspot.com dan fayathinkbig.blogdetik.com yang terbengkalai hampir 3 tahun. Mereka berdua seperti buku usang berdebu di pojok gudang tak terurus. Saya merasa bersalah.

Dalam 3 tahun banyak hal yang terjadi dalam hidup seorang Fitraya Ramadhanny. Post terakhir saya adalah 24 Agustus 2009, separuh cerita backpacker kami di Belgia. Tuntas saya beritakan untuk detikcom, tapi tak pernah tuntas saya ceritakan di Blog.

Tapi izinkan saya membela diri, sekembalinya dari Jerman, saya didapuk menjadi Wakil Redaktur Pelaksana detikNews sekaligus Kepala Biro Daerah. Jabatan sibuk yang membuat saya nggak bisa nge-blog di kantor. Pun rumah nun jauh di kampung Parung, Bogor belum tersentuh jaringan internet kabel. *alasan saja kau Faya!!!

Tapi detik ini, saya sudah punya internet kabel, pun posisi sudah menjadi Redaktur Pelaksana detikTravel, yang tiba-tiba kok rasanya leluasa ya mau nulis blog di kantor (dulu soalnya duduk depan wapimred dan pimred hehehehe, nggak berani). Tim saya di detikTravel, terutama Shafa dan Sastri kok kayanya enak banget nge-blog (dan tanpa minta izin Redpelnya, bahkan tidak untuk ucapan, "Mas beritanya udah naek, saya nge-blog dulu yaa. *jitak Shafa dan Sastri).

Tapi pada suatu malam beberapa hari lalu, saya dan Desti menemukan alasan paling kuat kenapa saya harus menghidupkan blog ini lagi: Blog adalah rekam jejak tumbuh kembang anak-anak kami!! Momen-momen yang tidak terulang dan berisiko hilang tanpa kenangan. Kami harus mencegah itu.

Cukup sudah saya tidak mau berpikir panjang lagi. faya-thinkbig.blogspot.com sudah menunggu saya  terlalu lama. Harus sekarang atau saya akan terus kehilangan kisah emas.

Dengan mengucap bismillah saat mentari separuh naik di hari pertama Ramadan (versi pemerintah), saya niatkan blog ini HIDUP kembali. Tanpa gunting pita, tanpa tabur bunga, cukup niat dan komitmen yang baru. Setelah ini mungkin saya merekapitulasi hidup 3 tahun dalam beberapa tulisan saja.

Saya tidak tahu dari mana harus memulai, tapi tulis sajalah. Nggak usah banyak dipikirin.
Mas Gong............. Makasih yaaaa........

Monday, April 14, 2008

Disturbing Behaviour

Dengan tagline 'Buat gue jalan raya', mobil Willys 4x4 itu dengan giras menerobos belukar dalam sebuah iklan rokok.

Kesannya macho, gagah, penakluk alam, tapi senyumku getir. Yang aku ingat adalah pulang mendaki Kawah Ratu, Gunung Salak dan melihat kerusakan di hutan pinggir desa.

"Abis dipake balapan off road," ujar teman kami yang orang Bogor.

Dahan patah, akar tercerabut, tunas tergilas. Apa yang macho dari pemerkosaan alam seperti itu? Mereka bukan jalan raya, mereka ratusan organisme yang rusak dilindas.

Alam bukan untuk ditaklukan Bung! Kita datang ke rumah besar yang bernama alam bebas untuk bertamu. Dan tamu harus tahu aturan. Buat yang pernah dan masih naek gunung pasti ingat. Karena ini perjanjian internasional kita dengan planet bumi. Yang diamini dari puncak Everest sampai dasar Laut Bunaken.

Kill nothing but time
Take nothing but picture
Leave nothing but footprint

Kita datang ke alam bebas untuk menegaskan diri kita adalah satu keping dari puzzle besar bernama ekosistem. Kita sama aja dengan penghuni alam lain. Satu kelebihan manusia hanya karena Allah menunjuk kita jadi khalifah. Khalifah adalah manajer yang boleh memanfaatkan isi alam tapi harus memastikan ekosistem tetap berjalan dengan baik.

Kita tidak berdiri tegak menantang gunung. Tapi kita ikut duduk bertasbih bersama tupai, elang, anggrek, eidelweiss, air dan batu.

Thursday, March 13, 2008

Simply, It's Islam

Islam itu sederhana dan menyederhanakan. Pelajaran mengenai mengenal Allah dan berhubungan dengan sesama manusia diajarkan dengan bahasa, konsep dan logika-logika sederhana.

Saking sederhananya, kita sering menganggapnya remeh. Soalnya kita sering mendengar tiap hari, ayat-ayatnya kita hapal, diulang-ulang setiap khotbah.

Kita anggap itu gampang dan biasa. Tapi ujung-ujungnya kita malah lupa. Itulah manusia.

Kita diberi yang mudah malah mencari yang sulit. Kita menghindari jalan lurus nan lapang dan mencari jalan sempit berliku untuk meraih Allah.

Padahal kita tahu Allah tidak suka sesuatu yang berlebih-lebihan. Karena, dalam kesederhanaan itu tersimpan makna sedalam lautan.