Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Monday, December 24, 2012

Menikah Muda dan Bangga!

Di tengah tulip Britzergarten Berlin
"Mas Faya anaknya mau tiga, dan kita belum menikah!" pekik anak buah saya, Putri, waktu saya memberi tahu Travel Troopers (sebutan untuk awak detikTravel), kalau Desti lagi hamil.

Yup, saya dan Desti menikah dalam usia 23 tahun. Pada saat saya berumur 24 tahun, saya sudah menggendong bayi bernama Zahra. Masih muda bukan? Sampai ibu saya bilang, pernah ada yang menduga kami menikah karena Desti hamil duluan. Apaaa? Sembarangan! Saya adalah pria gentle yang menjaga kehormatan perempuan...

Tergesa-gesa juga bukan. Menikah dengan Desti adalah keputusan terbaik dalam hidup saya. Menikah muda adalah langkah yang kami ambil dengan PENUH perhitungan. Lihat, kata 'penuh' ditulis dengan bold, italic, underline dan uppercase. Ini bukan main-main.

Pada saat saya seusia anak buah saya sekarang, saya sudah berpikir jauh lebih dewasa dari mereka. Dunia mereka masih bermain, belajar kerja, cinta masih dicari, kalaupun dapat masih flirting kanan kiri. Mungkin enak hidup seperti itu. Namun sayang, itu bukan pilihan untuk saya saat itu.

Saya menjalani hidup yang keras. 5 Tahun paling kelam yang akhirnya mengubah Fitraya Ramadhanny selamanya. Shafa, anak buah saya, nggak percaya saya pernah hidup dalam kegelapan hahahaha. Dia mengira saya lugu, polos dan lurus hehehehe.

Mungkin butuh 5 blog untuk menjelaskan masa-masa itu, tidak sederhana memang. Ibu saya berulang kali bilang, "Mama bersyukur kamu bisa melewati masa itu, bahkan kamu itu nggak lari ke narkoba!" Saya pribadi bersyukur masih hidup, tidak berakhir menjadi sebuah artikel di koran lampu merah bagian berita bunuh diri.

Saya dipaksa hancur di saat saya baru mau meretas masa depan. Saya melawan dengan menjadi nakal. Lelah menjadi nakal, saya lari. Lelah melarikan diri, saya belajar bangkit dan menolak hancur. Saya harus melindungi orang-orang yang saya sayang. Walaupun saya babak belur, namun saya merasa hidup saya masih layak diperjuangkan. Karena saya menjalani itu tidak sendirian, ada seorang gadis cantik dan brilian otaknya, yang mengetahui kejadian itu sejak awal, dan menemani saya melewati masa sulit itu. Namanya Desti Fitriani.

Kebun anggur Sans Soucci Palace, Postdam
Desti, juga menjalani hidup yang sama keras. Dalam usia sebelia itu, kami dipaksa menghadapi dan mengatasi masalah untuk orang-orang 10-20 tahun lebih tua dari kami, justru karena mereka yang kekanak-kanakan. Situasi memaksa kami berpikir dan bertindak dewasa, jauh lebih dewasa dari teman-teman sebaya. Pilihan kami cuma dua, bertahan atau hancur.

"Kita mesti mikir hidup ini nanti bagaimana, bukan bagaimana nanti," ujar Desti, yang selalu saya ingat sampai sekarang. We were living in hell...

Penasaran ya ada apa yang terjadi? Desti bilang, nggak usah ditulis jadi blog hahahaha. Cukup jadi lesson learned for us. Sori......... Anyway, cinta kami yang awalnya tipikal gejolak kawula muda (halah ampun ini istilahnya), tiba-tiba menemukan makna sejatinya. Jadi beneran, jadi serius. Kami saling mencintai untuk bertahan hidup. Saling menguatkan satu sama lain, saling membantu satu sama lain, saling menjaga satu sama lain. Saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing, ini yang paling sukar. Mentertawakan dan meratapi nasib kami bareng-bareng.

Kami seperti tinggal berdua melawan dunia.Teman-teman SMA, cuma 2 orang yang tahu masalahnya. Teman-teman kampus nggak ada yang tahu juga kami menghadapi apa, dan masa iya kami mesti pasang pengumuman. Kami tersenyum di depan mereka dengan hati yang getir, kami tertawa dengan hati yang menangis.

Kenapa saya begitu yakin akan menghabiskan hidup dengan Desti? Saya saat itu menyadari kalau pasangan hidup bukan seseorang yang sempurna. Manusia nggak ada yang seperti itu. Pasangan hidup adalah seseorang yang saya butuhkan. Seseorang yang bisa melengkapi keberadaan kita, walaupun dia berbeda sifat. Apa yang nggak ada di saya, ada di Desti. Begitu juga sebaliknya. Desti lah yang menyempurnakan keberadaan saya di dunia.

Saya dan Desti sampai kepada suatu titik kesimpulan. Menikah adalah tiket kami untuk menyelamatkan diri dari dunia kami yang sakit. Saat itu usia kami bahkan baru 20 tahun. Sadar bahwa kami mungkin menghadapi tantangan dari orangtua masing-masing, kami mempersiapkan dulu pernikahan itu, sebelum kami benar-benar menyampaikan rencana itu kepada orangtua kami 2 tahun kemudian.

Saya menyampaikan niat saya menikah dengan Desti, bicara empat mata dengan ayahnya, saat umur saya 22 tahun.... masih kuliah. Tapi saya berani karena membawa rencana matang, bukan omong kosong. Calon mertua saya tahu cobaan hidup apa yang saya hadapi.... dan mengizinkan saya menikahi Desti. Dengan syarat, saya lulus kuliah dulu, karena Desti lulus setahun lebih cepat. Desti angkatan 1999, saya angkatan 2000.

6 Bulan setelah lulus kuliah, tepatnya 20 November 2004, kami menikah. Sebuah pernikahan yang kami persiapkan sendiri dibantu teman-teman, karena kami sadar tidak bisa membebani orangtua kami terlalu banyak saat itu.

Stockholm Palace
Delapan tahun berlalu sejak saat itu. Kami mensyukuri pernikahan kami. Benar-benar memulai dari nol, kini kehidupan kami penuh warna. Sempat berkelana 1 tahun di Jerman dan backpacker keliling Eropa, itu juga pengalaman berharga buat keluarga kecil kami. Ada Zahra si juara kelas, ada Dzaky si ganteng yang penuh tenaga, dan bayi di perut Desti.Saya sekarang Redaktur Pelaksana detikTravel dan Desti adalah dosen FEUI dengan gelar Master dari Jerman.

Tentu saja kami masih punya mimpi dan cita-cita. Mimpi dan cita-cita yang saya tahu tidak bisa saya kerjakan sendiri. Sedari awal, saya dan Desti adalah tim yang solid dan akan terus seperti itu. Kami harus punya visi jauh ke depan, itu yang membuat kami bertahan, walaupun dipaksa dewasa sebelum waktunya hehehe.

Kami kini sudah bisa tersenyum melihat masa lalu kami yang berat. Saya sendiri sudah berdamai dengan masa lalu, saya sudah memaafkan semua yang terjadi, memaafkan semua yang membuat kami jadi begini. Kami kini sudah memahami apa rencana Allah di balik semua ini. Memang ini yang jalan yang ditetapkan Allah untuk kami.

Allah mengganti semua air mata itu dengan sejuta kebahagiaan. Titik balik itu adalah pernikahan dini kami, seperti janji-Nya bahwa menikah itu membuka pintu rezeki. Menikah dalam usia muda, adalah hal terbaik yang pernah kami lakukan.

Friday, September 28, 2012

Ein Ritter in Der Familie

Ini adalah satu dari 3 peristiwa besar saat saya vacum dari aktivitas nge-blog: Kelahiran anak kedua kami, laki-laki. Siapa yang nggak ingin punya anak laki-laki, tapi buat saya dan Desti apapun yang diberikan Allah, apapun gendernya.

Bukan tanpa sebab, program anak kedua rupanya jauh lebih sulit dari dugaan kita. Merencanakan kehamilan Desti sudah dimulai sejak Desti mendapatkan gelar Master di Berlin, Jerman. Tapi sampai kami pulang ke Indonesia dan berbulan-bulan kemudian, belum hamil juga.

Perlu satu blog sendiri bagaimana akhirnya Desti hamil, sempat konsultasi ke RSCM segala soalnya hehehe. Saya dan Desti tes ini itu. Tapi sebelum semuanya tuntas, Desti sudah hamil. Alhamdulillah!

Saya benar-benar nggak masalah dengan gender si bayi, karena Desti bisa hamil saja perjuangannya lumayan. Tapi, sejak awal Zahra selalu bilang, "Mama, Papa, aku mau adik laki-laki nanti namanya Dzaky." Kami meng-amin-kan sambil berpikir andai saja memiliki bayi semudah membeli laptop, bisa diatur spek-nya mau bagaimana.

Namun Allah menjawab doa Zahra. Sejak proses USG, ibu dokter kandungan langganan kami sudah bilang bayinya laki-laki. "Itu ada kodenya 0-1-0," kata si ibu dokter berjilbab itu sambil menatap monitor. Testikel-Penis-Testikel, demikian dia menjelaskan sebentuk 'angka' yang muncul di layar USG, di bagian selangkangan bayi kami.

Tiba akhirnya pada Senin 23 Mei 2011, sore hari. Desti menghubungi dari telepon dengan nada santai, "Say, aku sudah pembukaan, kamu nyusul ke RS yaaaa." Ada ibu saya memang di rumah, kebetulan sedang liburan menengok cucunya. Saya waktu itu masih jadi Waredpel detikNews, mohon pamit ke Mba Nurul selaku Redaktur Eksekutif dan tancap gas ke RSIA Citra Insani, Parung, Bogor.

Kelahiran anak adalah momen penting buat saya. Maaf, saya bukan tipikal suami yang menunggu di luar ruang bersalin. Bagi saya, itu adalah momen paling genting untuk Desti dan saya harus ada di sampingnya sejak awal. Ikut berlumur bersama darah dan air ketuban, serta tangan yang lecet-lecet dicubit dan dicakar Desti, yang penting saya hadir saat detik pertama anak kami lahir. Saya ada di situ waktu detik pertama Zahra lahir. Saya harus ada di situ juga saat adiknya lahir.

Saat kepalanya nongol saya cuma bilang, "Come on, my boy!" Melihat kepala mungil berlumur darah dan air ketuban. Pukul 21.45 WIB, putra kami lahir, menangis kecil, dibersihkan suster dan saya mendampingi sang bayi. Saya hitung kelengkapan organ tubuhnya, melihat timbangannya 3,6 kg, panjangnya 50 cm. Yang paling penting, saya mengadzani si bayi kecil.

"Siapa nama bayinya, Pak?" tanya suster. Saya menjawab mantap, "Dzaky Ritter Ramadhanny!"

Proses penamaannya tidak sebentar, karena nama adalah doa dari orangtua. Zahra sudah memberikan nama depan, kami cari ejaan yang benar ternyata "Dzaky" artinya cerdas. Nama belakang sudah pasti ikut nama bapaknya, Ramadhanny walaupun bukan lahir saat Ramadan. Kami tinggal mencari nama tengah.

Sejak awal kami berniat nama tengahnya harus dalam bahasa Jerman, untuk mengenang pengembaraan kami di Negeri Bratwurst itu. Tapi, nama Jerman ini kami tidak mau nama Injil dan bukan pula nama tradisional Jerman yang terkait dengan pekerjaan nenek moyang, contoh: Schumacher - Pembuat Sepatu, Fischer - Nelayan, Schneider - Tukang Jahit, Schweinsteiger - Penunggang Babi.

Kami mencari nama-nama bernada ningrat atau kata sifat yang macho. Tadinya mau pakai Stark (Kuat) tapi sudah dipakai untuk nama belakang superhero Iron Man. Di level nama bangsawan ada Der Koenig (Raja) dan Der Prinze (Pangeran). Namun pilihan saya jatuh pada Der Ritter (Ksatria), di situ ada sifat membela yang lemah, berjuang, berani, bertanggung jawab, gentleman, bersifat ksatria.

Und, haben wir ein Ritter in der Familie! Kami punya seorang Ksatria di dalam keluarga kami! Dzaky, 1,5 tahun kemudian tumbuh menjadi bayi yang berotot betis dan lengan kencang. Energinya tidak pernah habis. Aktif sekali dengan motoriknya bagus. Bodinya sebesar sepupunya yang blasteran bule Australia. Saya bersyukur kepada Allah!

Tapi, orang yang paling berjasa dalam kelahiran Dzaky adalah neneknya. Begini ceritanya, rupanya Desti mengalami Ketuban Pecah Dini dan Desti tidak mengerti. Per detik itu menjadi sangat berarti untuk segera membawa Desti ke RS sebelum kondisinya menjadi genting. Ibu saya gitu-gitu juga pernah jadi istri dokter kandungan. Dia mengambil keputusan cepat dengan BERAKTING, agar Desti bisa dirayu cepat pergi ke RS, tanpa panik.

"Ke RS saja yuk sekarang," kata Mama.
"Kenapa sekarang Ma?" kata Desti yang nggak tahu sudah mengalami Ketuban Pecah Dini.
"Kalau sudah begini cepat kok lahirannya," kata Mama, berpura-pura tenang.

Mama ambil Terios kami dan pergi membawa Desti ke RS dalam kondisi cuaca hujan badai! Pas saya sampai RS, hujan itu baru selesai. Pheeeww.... Mom, you were the hero for us!

Saturday, July 21, 2012

Pesan Untuk Zahra


Ini puisi untuk Zahra yang ultah kelima. Ditulis pas 6 Februari 2011 silam, diuplod di Facebook pada 11 Februari 2011

Pesan Untuk Zahra

Zahra,
Hari ini usiamu genap lima
Selain doa,
Ada juga pesan papa dan mama

Nak, hidup itu seperti buku gambar
Kau isi dengan warna ceria yang kau gemar
Bahagia itu, bukanlah coklat di dalam kulkas
Tapi syukur alhamdulillah yang kau ucap ikhlas

Teruslah bertanya
Ilmu itu luas tak terkira
Teruslah mencoba
Salah adalah jalan menuju bisa
Teruslah ceria
Kau membuat dunia tertawa

Jangan takut berbeda
Karena setiap orang istimewa
Taati Allah-mu
Sayangi keluargamu
Hormati gurumu
Lindungi temanmu

Selamat Ulang Tahun Zahra
Papa, Mama, Zahra
Dan adik bayi di perut Mama
Kita adalah tim yang luar biasa

Bogor 6.2.2011

Catatan Akhir di Sudut Berlin

Ini adalah sebuah catatan akhir sebelum kami pulang dari Jerman. Tersimpan di notes Facebook tertanggal 15 November 2011.

Perlebergerstrasse tiba-tiba menjadi begitu sepi hari Minggu pagi itu, saat kaki melangkah pulang dari Al Falah. Sinar matahari mulai menguapkan embun dari tumpukan daun maple yang gugur. Dan tiba-tiba Berlin memberikan ruang bagiku untuk menyusuri jalan itu..... sendiri.

Dan betapa angin dingin yang menerpa wajahku menyegarkan semua kenangan di dalam kepala. Tentang sebuah perjalanan. Tentang sebuah episode kehidupan. Tentang sebuah fase. Tentang aku, Desti dan Zahra. Tentang mimpi kami dan cita-cita.

Kakiku pun berhenti di Birkenstrasse. Saat aku sejenak memejamkan mata, aku tahu di belakangku adalah satu tahun yang luar biasa. Sementara di depan ada episode lain yang menunggu. Sementara tepat di tempat aku berdiri, hati dan jiwa ku mulai menulis catatan.

Catatan indah mengenai persahabatan dengan manusia-manusia luar biasa. Catatan seru menjelajah bumi Sang Khalik. Catatan cinta, tawa dan air mata. Catatan tentang segala rencana. Dan betapa diri ini tidak pernah bisa sempurna. Namun pada akhirnya aku mencoba memahami ini semua sebagai pelajaran untuk kami mensyukuri dan memaknai hidup.

Aaah..... sungguh kami masih lemah ya Allah. Jadikan kami orang yang pandai bersabar dan bersyukur. Daratkan kami di tempat yang Engkau ridhoi, karena Engkau lah tujuan akhir kami. Jadikan semua pengalaman ini menjadi energi bagi kami untuk melanjutkan hidup kami, berlari dan berlari lagi, kapan pun, kemana pun, di planet ini untuk meraih diri-Mu.

Saat aku membuka mata......... sang matahari pun lembut menyapa lewat sinarnya yang hangat. Fay, ini adalah waktunya untuk pulang.......

Berlin, 15.11.2009

Saturday, March 28, 2009

Brussels: Arrival

Liburan ke Brussels, Belgia, pada akhir Februari kemarin adalah liburan yang sudah jauh-jauh hari kita rancang. Tepatnya sejak Desember. Idenya adalah liburan ke rumah Teteh Shanti dan jalan-jalan di Brussels.

Kita rancang jauh-jauh hari biar semua serba siap, maklum bawa Zahra yang baru tiga tahun. Kalau ngga ada anak, kita sih pasti akan liburan gaya backpacker dengan tas ransel tinggi menjulang di punggung kita. Serba murah serba hemat, yang penting jalan-jalan.

Berangkat ke Brussels itu hari Jumat 27 Februari sore, pake EasyJet, pesawat murah model Air Asia. Namanya pesawat murah, ngga boleh bawa koper gede, kalau bawa bayar mahal banget. Kami beli dua sport bag, itu tuh... tas selempang yang biasa dibawa buat perlengkapan olahraga. Buat bawa bola basket, raket atau sepatu.

Desti bikin cheese burger yang enak banget buat bekel di jalan. Lepas dzuhur, kita berangkat ke Bandara Schonefeld pake kereta S-Bahn. Kita berangkat sangat awal biar ngga buru-buru, padahal pesawat baru take off jam 16 sore. Check in juga lancar, tas sport bag kita lolos uji layak bawa. Patokannya asal muat dimasukin di kotak standar kabin.

Zahra sangat-sangat senang menunggu berangkat sambil lihat-lihat pesawat parkir. Kita dapat status penumpang khusus karena bawa anak kecil, jadi boleh naik pesawat duluan. Selain yang bawa anak, orang cacat ama manula juga dapat status khusus.

Pesawat kita Airbus yang kecil, bangkunya satu baris ada tiga di kiri dan tiga di kanan. Tapi bangkunya ngga bisa direbahkan, mungkin biar penumpangnya bisa muat banyak. Jadinya kita duduk setengah tegak. Kalau Zahra mah biasa, begitu take off langsung tidurrrrr.

Perjalanan cuma sejam, sama aja kayak Jakarta-Bali. Terus sampe deh kita di Brussels International Airport. Asli bandaranya gede banget. Berlin mah bandaranya cuma level Halim atau Ngurah Rai hehehehe. Ya... namanya juga Brussels ibukota Uni Eropa. Maklum lah kalau bandaranya besar.

Cuma ya itu, mau keluar aja jauh bener. Padahal Teh Shanti udah SMS nunggu kita di luar. Akhirnya kita ketemu Teh Shanti. Terus lanjut ke kota pake kereta api. Ternyata kereta yang datang, mirip sama kereta bisnis punya PTKA di Indonesia. Ternyata, Jerman lebih maju dari Belgia hehehe. Perjalanan dari bandara ke kota serasa naek Cirebon Ekspress.

Kita turun di stasiun Brussels Nord. Suasananya terus terang ngga serapi Berlin Hauptbahnhof. Udah pasang mata cari brosur peta gratisan tapi ngga kelihatan. Petunjuk arah pun tidak jelas-jelas amat. Walhasil kita yang nyari halte bus malah nyasar ke peron Metro (subway).

Setelah berhasil nemu halte bus, terus naek bis kota sampe jalan Leopold II daerah Sint Jan Molenbeek. Wah rumah Teh Shanti itu strategis banget, pinggir jalan raya dan dekat halte bis dan Metro.

Hari pertama ini kita baru bener-bener melepas lelah dulu. Kita makan malem rame-rame bareng Teh Shanti dan Ulrik yang sayangnya lagi sakit flu. Besok hari Sabtu baru kita mau jalan-jalan keliling kota.

Saturday, January 24, 2009

Catatan Mama Zahra: Zahraku Sakit

Hari Minggu 11 Januari, seharusnya jadi hari keluarga yang menyenangkan. Hari itu juga aku udah janjian sama temen-temen pengajian untuk ke Masjid Indonesia di Perlebergerstrasse, Berlin.

Tadinya sekalian mau ngajak Zahra supaya ikutan TPA bareng anak-anak Indonesia lainnya. Tapi... tiba-tiba Zahra muntah-muntah setelah aku suapin beberapa sendok sup. Awalnya batuk sesekali, trus tiba-tiba aja dia muntahin semuanya.... Haduhh... sia-sia deh makanan yang udah sempet masuk ke lambung dia. Habis ga bersisa. Habis itu Zahra keliatan lemes sekali, gak ceria dan tampak "nakal" seperti biasanya. " Zahra gak mau makan lagi mama.... ga enak", cetus Zahra. Aku coba rayu dengan makan roti dan selai coklat kesukaan dia. Tapi cuma mau setengah lembar roti aja... Ya sudahlah daripada nggak sama sekali.

Makin lama batuknya makin parah... Sepertinya ada dahak yang mengganjal di tenggorokan dia. Untungnya masih ada sedikit sisa obat di lemari, bawaan dari Indonesia. Tinggal sisa 2 sendok teh obat batuk dan flu dan sebotol paracetamol syrup. Kepikiran juga mau ke dokter, tapi baru inget kalo Minggu ga ada yang buka. Malemnya Zahra batuk-batuk dan muntah lagi, padahal perutnya blom diisi apa-apa. Jadilah kami berdua gantian jagain Zahra.

Senin pagi, Zahra sepertinya udah baikan. Papanya nganter Zahra ke KITA (playgroup-red), dan aku ke kampus. Siangnya Zahra dan papanya balik ke rumah. Zahra tampak kelelahan sekali, dan napasnya bunyi "ngikk...ngik.." kaya yang lagi bengek aja nih. Olala.. ternyata Zahra abis diajak jalan-jalan ke taman kota yang jaraknya sangat jauh buat ukuran anak kecil, kira-kira 800 meter sekali jalan, so.. totalnya dia musti jalan kaki 1,6 Km (hihi...matematikanya dipake nih..).

"Kaki Zahra sakit mah... Cape.. Tadi sama Frau Silke diajak jalan ke taman sama temen-temen", kata Zahra. Waduh...beneran nih orang Jerman, ga bisa tahan liat matahari nongol dikit aja, langsung minta jalan-jalan ke luar. Hari itu memang matahari bersinar cukup terang di hari yang dingin saat Winter ini.

Malamnya.. batuk Zahra makin menjadi. Kali ini ditambah demam yang cukup tinggi. Zahra makin rewel aja, nangis terus dan ga bisa tidur nyenyak. So..this gonna be another night for us to stay awake for Zahra. Kita putuskan besok pagi Zahra gak masuk KITA dulu dan dibawa ke Dokter Anak. Tapi.... blom tentu juga bisa dibawa ke Dokter Anak hari itu juga, karena disini kudu bikin janji dulu. Segala jenis jasa Dokter disini ga bisa instant hari itu juga kita datang.. musti reservasi dulu.. gimana kalo ada sakit gawat darurat tengah malem?? Masa kudu janjian dulu.. keburu "lewat" dong pasiennya.. hehehe...

Alhamdulillah paginya pas kita telepon Dokter Cremer, ternyata bisa bikin janji hari itu juga jam 11 pagi (lagi sepi order nih dokter..heheh..). Tapi kita juga masih cemas, apa iya yang dialami Zahra ini bakalan dianggap penyakit. Sebelumnya aku pernah bawa Zahra ke dokter ini juga, karena Zahra sejak awal Winter di bulan November pilek ga sembuh-sembuh... Ada kali 3 minggu itu pilek ga ilang. Tapi gak dikasih obat apa-apa sama dokter, cuma disuruh pulang aja dan kasih pesen minum yang banyak. Coba kalo dokter Indo.. huh.. langsung deh resepnya banyak plus antibiotik si obat andalan.

Sama Dokter Cremer, Zahra dikasih resep satu doang. Sirup Obat Batuk extract daun Thyme.. obat batuk herbal gitu. Walah, ini Jerman kok jadi tradisionil gini ya? Jadi inget iklan obat panas dalem, "Extract Thyme! Ini dipake juga in my country!"

Alhamdulillah kita punya asuransi, kalo nggak mah gak tau deh musti bayar jasa dokternya berapa. Disini kalo biaya jasa yang menggunakan tenaga orang lain harganya mahal luar biasa. Mau pindahan nyewa mobil harganya 110 euro per jam (plg murah), manggil teknisi internet kalo ada masalah koneksi sekali dtg 60 eur0 (dengan kerjanya yang cuma satu menit ajah). Apalagi bayar dokter.. wedehh ga kebayang. Tapi untuk obatnya kita musti bayar, dengan harga Student.. lumayan lah cuma 6,5 Euro.

Hari ini... udah hampir seminggu Zahra sakit. Yang berkurang sih demamnya doang. Batuk dan pileknya masih ada (dan ga dikasi obat pilek lagi..hiks..). Sekarang dia udah bisa tidur lumayan lama, paling-paling kebangun lagi setelah tidur 3-4 jam, karena batuk dan ngeluarin dahak. Suaranya sampe hilang. Aduh...kasian banget Zahraku...lemes banget. Aku sempet mikir, betapa berharganya keceriaan dan 'kenakalan' Zahra selama ini, dibanding melihat kesakitan dan kesedihan dia. Ada rasa menyesal kenapa selalu memarahi Zahra kalo dia suka iseng, berantakin rumah, bandel. Sekarang aku kangen bandel dan cerianya Zahra.

Zahraku sayang... cepet sembuh yaa... jangan sakit lagi. Sekarang giliran mama dan papa yang ketularan sakitnya Zahra, ketika Zahra udah mulai membaik. Tapi gapapa.. yang penting Zahra sehat. Mama kangen Zahra yang makannya banyak, suka nyanyi-nyanyi di depan kaca sambil egal egol pantatnya..hiihihi...We miss your cheerfull Zahra. Get well soon dear...

Memahami Niat Zahra

Siapa yang tidak kesal kalau anak kita bertingkah nyeleneh dan menyusahkan. Bawaannya pengen marah.

Dan kata-kata itu pun keluar begitu saja dari mulut kita. "Bikin berantakan aja!", "Itu kan baru dibersihin!", "Apa-apaan sih!", "Hayo! Kamu bikin ulah apa lagi?", "Bisa diem ngga sih?", "Jangan dimakan! Kotor!".

Sebenarnya apa sih yang ada dipikiran seorang anak, ketika dia berbuat sesuatu yang membuat orang tuanya berkacak pinggang?

Dan kami pun memutuskan untuk bertanya ketika Zahra "berulah" untuk yang kesekian kali. Jadi pada suatu pagi, saat mama dan papanya bekerja dengan laptop dari atas kasur, Zahra datang sambil berlari.

Mukanya berlumuran selai coklat yang berasal dari roti yang semestinya menjadi sarapan dia. Huuuuuh, kenapa lagi ini anak? Tapi sebelum kita memutuskan untuk ngomel, kita tanya dulu tersangka cilik kita ini.

"Zahra, kenapa mukanya dilumuri coklat begitu?"
"Zahra mau lucu Pah!" ujarnya dengan cengir nakal.

Olala, dibalik hasil akhirnya yang kacau balau, Zahra hanya ingin melucu dan mencari perhatian mama dan papa. Untung kami bertanya, kalau tidak kita membuang energi sia-sia dengan mengomeli dia.

Di saat lain mukanya kembali berlumuran..... yoghurt. Yang memang dengan sengaja dia oles ke seluruh mukanya. Dengan resep bertanya, jawabannya ternyata begitu polos.

"Zahra lagi pakai pelembab kaya mama," ujarnya.

Ternyata, kami salah menangkap niat Zahra dan lebih melihatnya sebagai ulah yang berlebih-lebihan. Dan betapa banyak niat polos anak-anak kita, yang sayangnya kita nilai sebagai cari masalah. Karena terkadang hasil akhirnya juga memang berantakan hehehe.

Akhirnya kami memutuskan untuk menilai perbuatan Zahra berdasarkan niatnya. Selama niatnya positif, tidak masalah jika kami harus membereskan barang-barang di rumah berulang kali. Zahra is just a little baby girl.

Thursday, December 25, 2008

Papa, Mama, Zahra Minta Maaf......

Meminta maaf menjadi sebuah pelajaran penting untuk kami sekeluarga. Pada suatu malam, Zahra sudah sedemikian nakalnya. Zahra mencakar pipi Papanya sampai berdarah.

Kami pun memutuskan memberi hukuman untuk dia. Tapi kita tidak suka dengan konsep hukuman fisik. Jadi kami memberikan hukuman yang ringan untuk kita tapi berat untuk Zahra.

Zahra boleh bermain dimana pun di apartemen kami, tapi..... dia tidak boleh bermain di kasur bersama Mama dan Papanya. Zahra boleh bermain di kasur dengan syarat, dia meminta maaf kepada Papanya.

Kami merasa itu akan menjadi pembelajaran yang baik, karena selama ini kami memperhatikan, dia tidak pernah meminta maaf dan selalu merasa benar. Saat merebut mainan sepupunya Saskia, atau saat mencubit tantenya Bi Aina. Zahra tidak pernah mau meminta maaf.

Benar saja, Zahra memaksa main di kasur. Tapi tentu saja kami halangi karena dia belum meminta maaf. Semakin kami halangi, Zahra semakin marah dan mulai menangis bahkan berteriak-teriak. Tapi sayangnya dia tetap tidak mau meminta maaf.

"Zahra nggak mau minta maaf, kayak orang bodoh!" teriaknya yang juga membuat kami kaget. Inikah yang ada dipikirannya selama ini tentang meminta maaf.

"Zahra, kan Zahra sering lihat Papa minta maaf kalau punya salah sama Mama, juga sebaliknya. Meminta maaf itu tidak bodoh Zahra. Itu berarti Zahra anak shalihah kalau meminta maaf," kata Desti.

Dua jam lebih berlalu, Zahra tetap berteriak-teriak dan tidak mau minta maaf. Wajahnya terlihat lelah dengan air mata bercucuran. Kami sungguh tidak tega melihatnya. Padahal asal dia bilang maaf, dan semua ini berakhir. Sayang Zahra begitu keras kepala hingga dia kelelahan.

Desti pun memeluk dia sampai Zahra tertidur. Setelah Zahra ditidurkan, kami berpelukan. "Ma, kita coba lain kali ya," kata gue. Apa kami terlalu keras terhadap dia? Kami juga tidak mau menjadi orang tua yang kejam.

Pada pagi harinya, Desti sedang menyiapkan sarapan dan gue membereskan kamar tidur. Zahra tiba-tiba berlari dari arah ruang makan dan memeluk gue.

"Papa, Zahra minta maaf," ujarnya dan gue bengong. Lalu dia pun lari ke dapur sambil gue susul dari belakang.
"Ma, Zahra udah minta maaf sama Papa," kata gue. Zahra pun lalu memeluk mama.
"Mama, Zahra minta maaf,"

Orang tua mana yang tidak luluh kalau anaknya meminta maaf dengan tulus. Kami pun memeluk Zahra erat-erat. Pelajaran meminta maaf kami ternyata berhasil. Dan Zahra pun duduk senang menikmati yoghurt strawberry kesukaannya sebagai hadiah.

Sejak saat itu meminta maaf menjadi lebih mudah untuk Zahra. Maaf saat dia menumpahkan jus jeruk. Maaf saat dia ribut waktu mamanya main gamelan di KBRI. Dan maaf-maaf yang lain.

Di sisi lain, kami pun selalu berusaha memberi contoh di depan dia saat kita saling meminta maaf. Meminta maaf adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Meminta maaf tidak hanya menjadi pelajaran penting buat Zahra, tapi juga buat gue dan Desti.

Zahra dan Snow White

Akhirnya kami menemukan tontonan yang pas untuk Zahra. Pertama-tama kita memang tidak punya televisi di Berlin. Jadi hiburan kita adalah Youtube yang kita tonton dari internet di laptop Desti.

Zahra sudah mulai bosan dengan beberapa lagu anak-anak berbahasa Indonesia, Inggris atau Jerman, juga Baby Einstein. Kita coba browsing film-film klasik Disney dan kita nemu... Snow White.

Kami sekeluarga sangat menikmati film itu. Zahra senang dengan banyaknya hewan yang lucu di film itu. Juga kurcaci-kurcaci sahabat Snow White. Filmnya jadi mengharukan saat Snow White makan apel beracun. Zahra membuat analisa sendiri.

"Pah, Puteri Saljunya sakit perut makan apel ya???"

Akhirnya sang pangeran datang mencium sang puteri untuk membebaskan kutukannya. Snow White pun pergi dengan sang pangeran...... The End.....

Tapi... kok tiba-tiba Zahra mukanya mau nangis gitu. Bibirnya pun menyan menyon menahan nangis.

"Zahra kenapa?" kata Desti....
"Kok puterinya pergi? Kurcacinya ditinggalin ya Ma??" kata dia dengan mata berkaca-kaca. Lalu dia nangis tersedu-sedu.

Aduuuuuuh Zahra kami yang lucu, rupanya dia mudah terharu gitu hehehehehehe. Dia rupanya terbawa perasaan menonton film Snow White. Dia pikir filmnya sad ending dengan adegan puteri meninggalkan sahabat-sahabatnya... Zahra absolutely dislike the farewell scene.

Jadilah kami menjelaskan, "Zahra, mereka tidak berpisah. Puterinya pulang dulu ke istana dengan pangeran. Kan nanti puterinya bisa maen lagi ke hutan kalau mau bertemu kurcaci". Zahra seemed to understand.

Next time, kita nonton Cinderella. Adegan penutupnya, Cinderella dijemput pangeran setelah dia terbukti sebagai puteri bersepatu kaca. Cinderella meninggalkan semua teman-teman hewannya yang lucu.

Walah....alamatan nangis lagi nih anak. Eh bener kan mulutnya menyan menyen lagi dengan mata berkaca-kaca. Jadilah buru-buru Desti memeluk dia sambil membuat klarifikasi sebelum dia salah paham lagi hehehehehe.

"Zahra, Cinderellanya cuma pergi sebentar kok ama pangeran. Kan nanti bisa balik lagi," kata Desti.

Zahra kami itu, dibalik sifatnya yang super aktif, banyak akal cenderung bandel, jago ngeles, plus galak, ternyata...... perasaaannya halus..... We love you Zahra....!

Leunca!!!!

Ini sebenernya cerita yang ditunggu-tunggu keluarga di Indonesia, maaf baru dimasukin blog sekarang. Jadi November kemaren akhirnya gue bisa balik lagi ke Istana Sanssouci, Postdam. Dulu tahun 2003 kesini bareng temen-temen kampus waktu studi banding DAAD.

Yang paling membahagiakan adalah sekarang bisa balik lagi ke istana saingan Versailles ini bareng Desti dan Zahra. Ini salah satu dari sekian banyak doa yang dikabulkan Allah. Alhamdulillah.

Istana ini masih tetap romantis seperti dulu. Alhamdulillah dari sekian banyak hari di musim gugur yang mendung atau hujan, hari itu matahari bersinar cerah. Kami sangat-sangat menikmati berkeliling di istana kerajaan Prussia ini.

Zahra bisa liat bebek-bebek yang bulunya cantik-cantik. Dan sama-sama menikmati sandwich yang Desti bikin untuk bekal.

Akhirnya kita sampai di kebun anggur istana yang disusun indah berundak-undak. Kalau dilihat dari kolam ke arah istana, bentuknya bagus banget. Seperti foto yang di atas itu. Sayang sudah mau masuk winter, jadi sudah tidak berbuah.

Kita pikir ini pengalaman bagus buat Zahra melihat langsung pohon anggur. Jadi Desti mencari-cari dan ternyata masih ada sisa-sisa buah anggur yang kacingkalang alias gagal matang. Ukurannya pun lebih kecil dari anggur biasa.

"Zahra ini buah anggur...," kata Desti. Zahra berpikir sebentar dan lalu spontan menyahut.
"Ini leunca ya ma!!!"

HAHAHHAHAHAHA ya ampun Zahra, kok ada leunca alias lalapan orang Sunda di Istana raja Jerman. Wah ini sih pasti gara-gara Zahra suka bantuin Nin Ratti dan Uu di Cirebon metik leunca. Zahra pikir itu buah yang sama karena bentuknya sama-sama kecil dan sudah menghitam.

Friday, November 21, 2008

The First Snow

Jumat, 21 November 2008, menjadi suatu hari yang istimewa. Ketika di pagi hari sambil gue belajar masak opor ayam....... salju turun.....

Zahra pun sangat-sangat-sangat excited. Dengan mata yang berbinar menatap jendela melihat bunga-bunga es berguguran. Melayang pelan sambil bercampur dengan hujan gerimis yang memang sudah turun sejak subuh.

Salju turun cuma setengah jam. Rupanya, sang awan masih belajar bikin salju tahun ini. Padahal dengan global warming, gue pikir ngga akan lihat salju di Berlin, kudu ke Swiss hehe. Tapi dari situs cuaca Jerman 'Wetter.de' suhu hari ini cuma mentok 3 derajat Celcius, dan nanti malem 0 derajat. Brrrrrrrrr!

Balik salat Jumat, jam 4-an menjelang magrib, salju turun lagi. Lebih banyak dari pada tadi pagi. Gue buka jendela apartemen karena Zahra penasaran mau megang salju. Gue yang menjulurkan tangan jauh jauh ke luar jendela.

"Mana Pah saljunya?" seru Zahra girang melihat bunga es yang mendarat di telapak tangan gue dan dengan cepat mencair.

Ini juga pertama kali gue lihat salju (ndeso mode ON). Secara setahun di Australia, gue tinggal di Rockhampton yang sama panasnya kaya di NTT. Desti waktu di Korea malah udah duluan maen salju .

Yang jelas, tadi pagi gue, Desti dan Zahra di ruang makan bisa menikmati salju yang turun di luar jendela. Hadiah yang romantis dari Allah di hari ulang tahun pernikahan kita yang keempat......

Friday, November 7, 2008

Ersten Wochen

Minggu-minggu pertama kami (gue dan Zahra) di Berlin adalah......adaptasi. Melanjutkan hidup dan kembali mengejar mimpi-mimpi.

Tapi hari-hari pertama jelas milik Zahra, yang kembali utuh mendapatkan kedua orang tuanya. Dia bahagia banget, dan kebahagiaannya jadi semangat buat kami.

Kita tinggal di Sparrstrasse 27, Wedding, Berlin, di sebuah wohnung (apartemen) di lantai 4 dari total 5 lantai. Di depannya ada taman dan lapangan bola. Tentu saja di tengah musim gugur, semuanya daun serba merah dan kuning. Favorit Zahra duduk di bingkai jendela besar (yang dikunci sangat-sangat rapat dan aman). Soalnya dia bisa lihat taman di depan wohnung.


Akhirnya pas hari libur, Desti bisa ngajak kita keliling rumah. Kita punya trolly baru lungsuran Teh Fifi dan Kang Dany. Makasih ya........ Di Jerman ngga ada ceritanya anak kecil digendong hehehe. Semua naek kereta roda walau udah 5 tahun. So... jadilah kita bisa melakukan aktivitas favorit kita.....ke pasar. Walau pasarnya lebih seperti toko, tepatnya Toko Turki gitu. Cuaca dingin juga ngga masalah lah.




Jalan-jalan kurang pas kalo ngga jajan. Tapi yang murmer aja, kaya pfankuchen ini. 2 Euro dapat 5 biji, dan rasanya jauh lebih enak dari Dunkin Donuts. Aduuuuuuh Jerman itu, toko-toko rotinya semua mengeluarkan aroma yang bikin ngiler..............

Komunikasi dengan Indonesia juga ngga masalah. Di hari terakhir di Indonesia masih sempat ngajarin mama chatting pake Yahoo Massenger. Jadi neneknya Zahra ini tinggal kirim sms kapan mau chatting terus kita online bareng. Paling yang punya warnet bingung liat ada ibu-ibu nyelip di antara anak-anak yang lagi ngenet ato maen game online hehehe.


Coba lihat gaya Zahra lagi VOIP ama neneknya hehehehe keren..........

Willkommen...

3 minggu sudah kami reuni di Berlin. Kalau mengingat perjalanannya, gampang-gampang susah. Soalnya gue sendirian bawa Zahra yang baru 2 tahun 9 bulan. Kita berangkat 19 Oktober 2008 jam 23.35 nyaris tengah malam pake Qatar Airways.

Yang anter ada mama, Cupit (ade ipar), Usep dan Kokom (sepupu Desti). Sebenernya kita bawa barang overload 4 kilo, tapi karena kita mau pergi lama akhirnya dibolehin selain juga bawa anak kecil. Bawa botol air juga dibolehin karena buat susu Zahra. Pas cek in Zahra bilang ke petugasnya.

"Zahra mau ke Berlin, om jangan ikut ya......" Petugasnya ketawa-tawa.

Alhamdulillah Zahra ngga bayar fiskal karena dibawah 12 tahun. Karena fiskal dibayar sekali seumur hidup, kuitansi fiskal juga gue simpen. Cuma pas mau berangkat Zahra nangis-nangis. Selain ngantuk dia juga ngga mau berpisah ama tantenya (adeknya Desti). Dia nangis ga mau pake safety belt padahal biasanya dia hobi pake safety blt.

Sebelumnya pas cek in di loket Qatar, gue minta makanan khusus anak-anak buat ama mainan buat Zahra. Jadi dia udah dikasih boneka bentuknya pesawat tapi tetap nangis. Akhirnya kita take off sambil Zahra gue pegangin.

Kita terbang Jakarta-Singapura (naek turunin penumpang doang) terus langsung ke Doha. Zahra mau makan dan ngemil-ngemil udah gitu tidur. Pelayanan Qatar bagus banget, makanannya enak dan semua penumpang punya remote di bangkunya jadi bisa milih film sendiri-sendiri. Bukan film yang diputerin ama crewnya. Lebih bagus dari Emirates, apalagi Gulf Air.

Udah tidur 8 jam sejak jam 12 malem. Tapi karena terbang ke bumi sebelah barat, kita dapetnya malam terus. Walhasil, zahra udah kenyang tidur, tapi pesawat masih gelap. sejam sebelum landing semua penumpang sarapan. Zahra dapat pure kentang diperkedel ama daging burger, tapi karena gue makan nasi goreng dia pilih makanan gue hehehe.

Kita landing di Doha jam 6 pagi waktu setempat. Zahra yang selalu membawa boneka ulat hijau yang sama panjang ama badannya, selalu jadi perhatian orang yang senyum-senyum gemes. Apalagi waktu turun dari pesawat, naek bis ke bandaranya.

"Dadah pesawat....." kata Zahra.
"Can I take your doll?" berkali-kali orang godain Zahra.

Doha bandaranya kecil cuma segede Grage Mall kalo di Cirebon, cuma dua lantai. Kalau di Depok mungkin sebesar Plaza Depok doang. Kita ke toilet pria karena Zahra belum pipis. Tapi buset dah toiletnya. Udah flushnya rusak, pake acara ada tokai-tokai yang udah kering gitu hoooeeeek.

Akhirnya kita cari toilet yang jauh yang rada lumayanan. Sekalian aja gue cari ruangan bayi buat Zahra sikat gigi ama cuci muka. Doha sebenarnya selain punya mesjid juga ada ruangan tidur pria dan wanita. Bentuknya kaya kursi dokter gigi ato kursi pijet gitu. Ada juga ruangan bermain anak2 kaya di McD ato KFC gitu. Tapi Zahra ogah maen. Kita sengaja ngga bawa troli bayi Zahra karena dia juga senengnya naek di troli koper.

Zahra rupanya masih laper. Jadi kita brunch pake KFC yg beli di Cengkareng. Nasinya..... timbel dua batang ama beli piring plastik. Thanks Mom!. Kenyang makan Zahra tidur soalnya di Indonesia itu udah waktu tidur siang. Gue juga ngantuk tapi susah tidur. Untungnya kita transit 7 jam jadi santai.

Zahra kenyang tidur, gue ke tempat internet gratis yang antrenya panjang. Chatting ama Desti sebelum take off lagi. Zahra terus salin baju dengan baju yang lebih tebel biar siap di Berlin. Kita berangkat ke Berlin dengan pesawat airbus yang lebih kecil yang sederet cuma 3 - 3. Pdhl dr Indonesia kita pake airbus yang besar yang 2 - 4 - 2.

Zahra dpt lagi tas ransel isinya botol minum, buku mewarnai, dan camilan. Sebelumnya dia dapat lunch box isinya camilan anak-anak dari permen ampe coklat. Gimana dia nggak girang hehehe.

Udah kerasa banget kalao Zahra jetlag, secara di Indonesia ini udah jam tidur malam dia. Walhasil setengah jalan ke Berlin, dia tidur lelap. Sampai landing di Berlin dia masih tidur di kursinya meluk boneka ulat dan berbalut safety belt. Gue bangunin malah marah-marah.

Sambil ngantuk dia mau dituntun. Diluar perkiraan gue, kita ngga pake belalai. Tapi dijemput lagi pake bis bandara. Zahra langsung melek begitu kena angin malam musim gugur yang dingin 11 derajat Celcius. Sebelum check out di imigrasi, gue pakein jaket winter yang kegedean buat dia.

Walau Desti kuatir, alhamdulilah petugas imigrasinya ngga rese dan ngga banyak tanya. Padahal sebelum gue ada orang Nepal yang dipaksa bongkar ransel buat ngebuktiin kalau dia punya surat bukti diterima kuliah S2 di Leipzig.

Soal troli barang di Berlin, untung Desti ngingetin gue bawa koin 1 Euro. Troli barangnya harus masukin koin 1 euro ke lobang kuncinya kalo mau dipake. Uangnya bisa keluar lagi kl trolinya dimasukin ke parkiran.

Di luar Desti dan 2 temennya udah nunggu. Tawa Zahra lah yang paling bahagia. Setelah jumpa pisah sejak Januari, Zahra hampir ngga percaya sekarang mama papanya lengkap berdua.

Kita sampe Berlin hari Senin 20 Oktober 2008 jam 19.35 waktu setempat atau jam 24.35 WIB. Kita lalu pulang ke apartemen naek bis dari bandara, dan Zahra terpesona melihat ke jendela kalau dia sudah ada di negeri orang.

"Zahra ada di mana sekarang?"
"Di Berlin......" kata dia mantap....

Iya sayang, ini jawaban dari doa dan penantian kita selama ini..... Semoga kami didaratkan di tempat terbaik pilihan-Mu, ya Rabb

Tuesday, October 21, 2008

Manusia Hanya Berencana........

Hari Jumat 12 September 2008 menjadi hari yang mengejutkan. Desti memforward email DAAD yang bilang kalau visa gue dan Zahra tidak bisa diloloskan kantor Imigrasi Berlin dengan alasan masa studi Desti cuma 1,5 tahun. Gue merasa menubruk tembok besar.

Segala usaha satu tahun terakhir berhenti detik itu juga. Kami berhadapan dengan kenyataan pahit kalau semua akan terpisah, Desti di Berlin, gue di Jakarta, Zahra di Cirebon sampai tahun depan. Chatting sore hari itu penuh dengan rasa sesak di dada dan air mata.

Life must go on. Kita sangat percaya Allah menyiapkan yang terbaik ketika kita berdoa meminta yang terbaik. Manusia hanya berencana, tapi kita tidak tahu rencana-Nya. Sabar dan ikhlas kembali menjadi dua kata yang sangat berat untuk dijalankan.

Malamnya Ikhsan, Abie, dan Nyoman menghibur gue dengan berkaleng-kaleng soda dan batang coklat sampai waktu sahur tiba (thanks guys!). Gue dan Desti pun kembali menyusun kepingan optimisme kami. Ya udah, Desti kuliah, gue tetap jadi wartawan Detikcom. We tried the best and will keep doing so. Tapi ternyata, kejutan belum berakhir.

Jumat 19 September 2008, sebuah telepon dari Kedubes Jerman di Jakarta, masuk saat kaki sedang melangkah ke mesjid untuk Jumatan. Visa kami diterima......... Semua orang dan keluarga bilang ini ajaib. Gue bilang ini berkah Ramadhan.

Komentar gue...... jangan berprasangka buruk kepada-Nya. Dia punya janji untuk orang-orang yang mau bersabar. Seberapa jauh kita mau percaya kalau Allah menyiapkan yang terbaik untuk mereka yang mau berusaha.

Wahai Engkau yang maha membolak balik perasaan, terima kasih sudah mengingatkan kami yang lemah ini akan arti sabar, ikhlas dan penyerahan total dalam ketawakalan.

Dan sejak 20 Oktober 2008, kami kini berkumpul di Berlin........

Sunday, July 6, 2008

Destination Berlin

The plan was set. I'm going abroad again. Berlin, for the second time. Cuma masalah waktu aja sebelum gue berangkat. Tapi persiapannya yang membuat gue terasing dari kegiatan nge-blog.

Kursus Jerman, tes di Goethe, bikin visa dengan syarat seabrek. Termasuk surat pernyataan bukan teroris dan bersedia diperiksa kesehatannya. Gue seperti gabungan Noordin M Top dan korban selamat dari kota zombie.

Good point: everything is on the plan. Dalam cetak biru rencana hidup gue dan Desti, kita harus kejar gelar master. Yang dapat beasiswa duluan harus didukung yang lain.

Desti dapat DAAD ke Berlin dan gue harus nyusul agar Zahra tetap bisa dibesarkan oleh kedua orang tuanya.

Gue pikir kalo kita ke luar negeri lagi buat kuliah, itu adalah Australia. Secara gue punya mimpi kembali ke Down Under setelah 10 tahun lalu meninggalkan Rockhampton.

Tapi Allah selalu punya rencana lebih keren: Jerman. Jadilah gue akan kembali ke sana. Terakhir 2003, studi banding multikulturalisme disponsorin DAAD ke Berlin juga, plus Bonn dan Frankfurt. So... here I come.

Wednesday, April 9, 2008

Lonely Journey

Kereta yang membawa gue membelah pagi meninggalkan Cirebon, Selasa itu. Suasana gerbong sepi, sama sepinya dengan hati gue.

Zahra gue titipkan (again) di neneknya. Si pipi baso ini bahkan belum bangun waktu papanya harus ke Jakarta lagi. Email Desti yang terakhir bilang, dia nggak betah sendirian di Berlin.

Gue memaksakan diri untuk tidur. Namun telepon dan SMS bergantian terus masuk ke ponsel gue menjejalkan agenda liputan.

Istana, Wapres, kantor, semua sama saja sekarang. Tidak ada yang menyambut gue pulang.... Gue sungguh menunggu waktu dimana nanti kami bertiga berkumpul lagi, dan waktu berjalan sangat-sangat lambat.

Dalam desah nafas panjang, gue memejamkan mata....

Wednesday, February 13, 2008

Turning Point

Selasa 29 Januari 2008, siang. Gue lagi izin recovery badan gue. Liputan Soeharto sungguh menguras tenaga. Lagi tidur, tahu-tahu DAAD Jakarta nelepon. Desti diterima beasiswanya ke FHW Berlin. Akhir minggunya Desti langsung pulang dari Korea.

Sementara dari Cirebon, Teteh Fanny ngasih kabar sudah punya tanggal lamaran dengan pujaan hatinya Arri.

Gue merasa kita semua sekarang sudah menjelang babak baru dalam hidup kami. Sebuah titik balik....

Hampir 9 tahun lalu kami semua jatuh, saat tahu papa punya selingkuhan dan ujungnya mama diceraikan papa. Tapi kami sadar, kami tidak bisa selamanya terpuruk. Kami harus bangkit, dengan atau tanpa bantuan papa. Kami harus melakukan yang terbaik demi kebaikan satu sama lain.

Tahun-tahun berlalu dalam gemblengan Allah yang sungguh mendewasakan kami. Lalu kami mendambakan 'hijrah'. Hijrah buat gue, Desti dan Zahra adalah kuliah S2 ke luar negeri. Hijrah buat teteh adalah menikah. Hijrah buat mama adalah pindah rumah ke kota kelahirannya Bogor.

Titik hijrah keluarga gue dan teteh sudah di depan mata, mama mungkin masih punya cerita yang belum selesai dari Allah. Gue sungguh berharap akan babak-babak baru dalam kehidupan kami semua.

Mudahkanlah, ya Rabb.....

UPDATED 22 November 2008:
Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan doa kami. Engkau telah mengumpulkan kami semua di Berlin. Aku, istri dan dan anakku. Jadikan kami orang-orang pandai bersabar dan bersyukur. Dua aturan sederhana untuk hidup yang orang sering lupa.

Monday, January 21, 2008

Reaffirm Your Loves

Being alone is suck. My wife is away for a year in Korea and my cute little daughter is in Cirebon also for a year. Going home for now is never been a happy journey. Because I know exactly, nobody wait me there.

The best way to end a day is when you get home at night. A cute funny face sees through the window, and when the door is opened she does 'daddy home dance'. Then a beautiful woman comes out to give me the best kiss.

I will miss those now until a year to come. Being alone at home is very irritating. Our little house is losing the light of love. Light that we shine everyday.

Than I realized, how strong that was. How strong our love brought the light in our house. How amazing the laughs and tears had written unforgettable stories in our wall. When I'm alone in my house, I can feel the love we share together.

Like a hologram, I remember where my wife Desti stands to cook, where my daughter Zahra plays with her toys. I thank God, for those lovely stories and realize so much I love and miss them now........

Their loves are my power to stand up and run. Run to the near future, where they will be standing in that white painted door. For that daddy home dance, for that kiss, for their loves. I will bring you the best of me..........

Sunday, January 20, 2008

The Big Path

Januari 2008.......

Hari-hari di awal tahun ini menjadi babak baru dalam kehidupan kami. Gue, Desti dan Zahra terpisah dalam ratusan kilometer.

Tapi ini sudah bagian dari rencana panjang, untuk membangun istana keluarga kami yang lebih baik lagi. Di mana semua berjuang........

Desti berjuang di Korean Development Institute, mengejar Master of Public Policy. Menjadi salah satu ahli dengan kompetensi langka di kampusnya.

Gue berjuang di Detikcom, meniti karir sampai puncak. Sampai gue merasa semua ilmu sudah gue serap habis.

Zahra berjuang di Cirebon. Belum genap dua tahun, dengan berat hati dan doa, kami latih dia mandiri bersama neneknya. Dia masih terlalu kecil, tapi Cirebon adalah tempat terbaik. Zahra ada dalam pengawasan neneknya. Karena gue sebagai bapaknya pasti pulang malam sebagai wartawan dan kami nggak mau Zahra besar sebagai anak pembantu.

There is a big path of our own....... Kami menjalani jalan masing-masing. Kami berdoa agar tahun ini bisa kami lalui dengan baik. Bulan yang sama tahun depan, kami akan berkumpul utuh seperti dulu dan kami yakin dalam kondisi yang jauh lebih baik....

Amin........

Tuesday, February 27, 2007

Sweet Child of Mine

Ini foto waktu Zahra ultah 6 Februari kemarin. Dia seneng narik gantungan koin Cina kalau lagi digendong gue. Fotonya diambil Teh Fanny. Oh iya, ini baju princess yang Desti beliin buat dia di ITC Depok, cantik banget.

Gue yang baru setahun belajar jadi ayah masih sering amaze dengan malaikat kecil ini. Ada gitu, manusia kecil yang mukanya mirip gue.

Semua orang juga bilang gitu. Mirip gue kecuali bibirnya dari Desti. Alis tebel, muka bulat, pipi tembem, mata belo, jari panjang, termasuk mimik muka manyunnya yang nggak pernah gue ajarin tapi menurun secara genetis. Sumpah mirip banget ama gue waktu kecil yang difoto ibu gue.

Desti suka manggil dia Fitraya Kecil, gue lebih suka nyebut Mini Me.

Amazing menyaksikan dia tumbuh setiap hari. Berguling, merangkak, berdiri dan sekarang berjalan. Gue berdoa semoga Allah selalu memberikan gue waktu untuk melihat Zahra tumbuh.

Weekend sempurna adalah hari di mana gue dan Desti sepenuhnya milik Zahra. Terserah dia mau minta apa. Jalan-jalan di Danau Cilala, Telaga Kahuripan atau makan di Pizza Hut walau dia baru bisa makan garlic bread doang.

Ah....... tidak ada habisnya mengagumi nikmat Allah yang ini....