Showing posts with label adventure. Show all posts
Showing posts with label adventure. Show all posts

Sunday, December 16, 2012

Sri Lanka: Victoria's Secret, Dilmah Tea dan Sebuah Kekecewaan

Stand pameran Sri Lanka Tourism
Akhirnya pagi datang di Colombo. Dari jendela kamar saya bisa melihat pemandangan kota dan sebuah danau berkilau di belakang Hotel Grand Colombo.

Tapi saya harus bergegas gara-gara liputan pembukaan Sri Lanka Expo 2012, yang manaaaaaa Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa akan membuka acara. Ngomong-ngomong, Rajapaksa adalah nama yang keren untuk seorang presiden. Powerful banget kan, Raja-Paksa.

Anyway, berkumpul lah kami di lobi setelah sarapan. Para wartawan, saya, Roland, Imung, Astrid dan Mbak Glory dari Singapore Airlines membuat kesepakatan. Kita kan diundang oleh Sri Lanka Tourism, ngapain juga kita liput pidatonya presiden. Serahkan itu kepada wartawan Sri Lanka hehehe. Itu artinya satu jam tambahan untuk mengumpulkan tenaga.

Jemputan anak sekolah
Lantas bergeraklah kami menuju lokasi Expo di Bandaranaike Memorial International Convention Hall (BMICH). Inilah JCC-nya punya Colombo. Sepanjang jalan, barulah saya bisa menikmati pemandangan. Anak-anak naik mobil jemputan sekolah, bajaj lalu lalang, orang-orang berkerumun di pinggir jalan, gedung-gedung beraneka rupa.

BMICH sendiri tidak sebagus JCC, sebagian jalannya masih tanah, dengan stand-stand pameran berserakan. Paspampres bersiaga, rupanya Presiden Rajapaksa baru pulang. Wartawan masuk dari pintu yang tidak mengenakan, dari belakang dan entah tembus ke sebelah mananya pameran. Rabu 28 Maret 2012 itu, matahari bersinar terik di langit Colombo.

Batu mulia dan perhiasan
Jangan mengeluh kawan, inilah pameran besar di Colombo pertama kalinya usai selesai perang saudara dengan gerilyawan Macan Tamil. Terakhir mereka bikin pameran seperti ini 15 tahun lalu. Usahanya kelihatan kok betapa mereka ingin pemodal kembali masuk ke Sri Lanka.

Ini pameran besar-besaran diikuti 370 eksporter termasuk 70 perusahaan kecil dan menengah, serta 1.200 delegasi perdagangan. Sri Lanka mempromosikan komoditi ekspor mereka yaitu pakaian jadi, karet dan produk karet, batu mulia dan perhiasan, teknologi informasi, makanan dan minuman serta rempah-rempah.

Produsen lingerie Victoria's Secret saja pameran di sini. Hmmm, mungkin mereka mau bikin lingerie-sari atau apa begitu kali. Tapi tidak ada yang mengalahkan perhatian saya selain stand pameran Dilmah Tea! Hell yeaaaah!

Victoria's Secret ada yang mau?
Stand pamerannya besar banget dengan teh Dilmah asli Sri Lanka beraneka rasa menggugah selera. Bikin mupeeeeeng. Tapi yang jelas ada aneka produsen teh dan semua produk promo gratisannya saya sikat, hohohoho. Kantung tas ransel saya isinya teh sachet aneka pabrik.

Puas merampas teh, saatnya liputan. Wartawan detikcom (awas lagi sombong) sanggup meliput apa saja. Wartawan news, kalau situasi membutuhkan, bisa juga meliput ekonomi, olahraga, gosip, otomotif dll. Walaupun saya di detikTravel, aroma acaranya saja membuat saya harus menyetor berita ekonomi ke detikFinance. Ini hasilnya.

Nah, untuk kebutuhan kanal sendiri, saya mencari Sri Lanka Tourism. Wah, rupanya satu tenda sendiri dia. Saya girang bukan kepalang. Saya masuk ke dalam tenda dan ada beraneka meja dan brosur. Terbayang dong saya mau bertanya soal bagaimana liburan ke Sri Lanka, apa yang menarik, naik apa, kalau mau backpackeran bagaimana dll.

Dilmaaaaaaaaaaah 
Tapi yang saya hadapi adalah wajah-wajah tertegun.... padahal saya sudah menunjukan identitas saya sebagai wartawan. Saya dioper ke sana, ke sini, untuk sebuah wawancara yang semestinya sederhana. Ujung-ujungnya mereka bilang, "Maaf pejabat yang berhak menjawab Anda sedang tidak berada di tempat. Kami tidak berwenang untuk menjawabnya."

Tiba-tiba saya merasa sedang berada di kelurahan mana begitu dengan birokrat yang menyebalkan. I'm sorry, you invite me all the way long from Jakarta, then you reject an interview? Saya kan undangan kalian, haloooo? Kalian meminta saya menulis apa kalau begini?

Saya keluar dari tenda itu dengan hati gondok, nggak dapat berita. Saya menghela nafas panjang, Sri Lanka masih belajar....

Sri Lanka: Nama Bandaranya, Bandaranaike!

Bandara Bandaranaike (bingung ya tulisannya?)
Saya sebenarnya tidak suka jika sampai ke negeri orang pada malam hari. Saya butuh melihat suasana sejak detik pertama sampai ke suatu tempat, dan itu lebih enak dilakukan pada siang hari. Jadinya terbayang dan tahu tempat begitu.

Tapi apa daya, pesawat Singapore Airlines yang membawa saya ke Colombo, Sri Lanka akhirnya mendarat lewat tengah malam, tepatnya Rabu 28 Maret 2012 dini hari. Dari jendela pesawat saya baca tulisan 'Bandaranaike', itukah nama bandara dalam bahasa Sri Lanka? Pikir saya begitu.

Turun dari pesawat, panitia Sri Lanka Expo menunggu kami, para wartawan dari Indonesia, saya, Roland, Imung, Astrid. Namun ada masalah, pemandu yang akan mengantar kami selama di Sri Lanka belum datang, Anthony namanya. Bukan bule, tapi orang lokal bernama barat.

Ya sudah saya mengamati saja bandara ini. Ukurannya mungkin hanya sebesar Terminal Tiga Bandara Soekarno Hatta, tapi lebih bagus Cengkareng. Terlihat ada renovasi yang dikebut harus selesai demi menyambut Sri Lanka Expo. Banner-banner menggantung di langit-langit bandara, semua soal Sri Lanka Expo. Kayaknya tipikal negara dunia ketiga ya, pembangunan itu kejar setoran menjelang ada hajatan besar.

Dekorasi di ruang makan utama Grand Colombo
"I'm sorry Sir, Madam!" sebuah suara memanggil kami. Ini dia Anthony! Pria paruh baya berkulit gelap namun dengan senyum ramah. Sejurus kemudian backpack Deuter saya melompat masuk ke belakang mobil dan kami meluncur ke luar bandara.

Tapi ya itu tadi, malam hari membuat saya tidak bisa membayangkan bagaimana itu Colombo. Ada hutan, ada sungai, rumah-rumah yang sepi karena sudah dini hari, deretan gedung-gedung yang juga sepi. Tidak sampai satu jam kemudian kami pun sampai.

Cinnamon Grand Colombo, hotel besar banget. Bayangkanlah Grand Indonesia kali ya. Yang bikin mulut menganga ini adalah lampu bermodel lentera atau lampion super besar di atas ruang makan utamanya yang punya langit-langit tinggi.

Ah, tubuh ini sudah terlalu lelah untuk mengagumi. Check in beres dan saya hanya memfoto kamar sebelum tubuh ini menghempaskan diri di atasnya. Sudah pukul 03.00 waktu setempat dan pukul 07.00 nanti saya harus sudah siap liputan. 'Pidato Presiden Sri Lanka', ah ya ampun tulisan di TOR liputan ini bikin badan bertambah lemas.

Kamar hotel saya nih
Begitulah nasib wartawan, harus siap tempur 24 jam. Padahal niat saya besok sederhana saja, saya ingin melihat wajah Colombo ketika surya datang menyapa.

Dan dalam beberapa jam, saya tahu kalau Bandaranaike itu nama bapak bangsanya Sri Lanka, seperti Soekarno-nya. Yang jelas bukan terjemahan bandara dalam bahasa Sri Lanka. Hehehehe, maaf.

Sunday, November 11, 2012

Batik Kopi Pecah, Batiknya Penggemar Kopi

Batik Kopi Pecah khas Desa Losari

Kopi sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup orang. Starbucks Coffee menjamur dan sepertinya harga mahal bukan masalah. Kalau mengaku penggemar kopi, wajib deh hukumnya membeli batik bermotif kopi di Desa Losari, Magelang.

Pada hari kedua di Resor MesaStila awal Oktober lalu, usai lomba lari MesaStila Challenge, saya akhirnya bisa melihat batik bermotif kopi ini. Bos PT Adaro sekaligus pemilik resor, Sandiaga Uno rupanya mau memberi bantuan untuk warga di Balai Desa Losari, Magelang.

Di Balai Desa, ruang serbaguna penuh dengan ibu-ibu membatik. Masuk ke dalamnya, saya melihat rak-rak dengan kain-kain batik cantik yang menggantung dan menjuntai.

Desa Losari rupanya tidak hanya memiliki perkebunan kopi. Yang terbaru dari desa ini untuk wisatawan, justru adalah kerajinan batik Losari yang sedang menggeliat. Nama tempatnya adalah Sanggar Batik Eyang Mas Ayu.

Bryan Hoare, Sandiaga Uno dan saya
"Kami baru mulai pada 2008 akhir. Berawal dari pelatihan dan kini diproduksi di rumah masing-masing warga," kata Kepala Desa Losari, Purbo Widodo waktu mengobrol dengan saya. Sebelum penyerahan bantuan dari Sandiaga Uno.

Pembina para ibu-ibu ini adalah Tri Hapsari, istri Purbo. Menurut Tri, kerajinan batik Losari berawal dari pelatihan batik tulis oleh Ibu Laras. Setelah hampir 4 tahun, warga sudah membatik sendiri. Motif batiknya tentu bermacam-macam. Namun rupanya, warga sudah memiliki sebuah motif khas yang menjadi identitas Losari: Kopi.

Ini adalah motif yang menurut saya paling cantik dan sangat mewakili identitas mereka. Nama motifnya adalah Batik Kopi Pecah. Motif batik ini berbentuk daun-daun kopi, bunga dan buah kopi. Warnanya bisa hijau, biru, coklat, ungu dan aneka warna lain.

"Untuk batik tulis harganya Rp 250 ribu-500 ribu untuk kain 2,5 meter. Kalau batik cetak harganya Rp 100 ribu-150 ribu untuk panjang kain yang sama," kata Tri.

Ibu-ibu membatik di Balai Desa Losari
Nah untuk saat ini, Batik Kopi Pecah belum bisa ditemukan di toko-toko dan pasar di Magelang. Para wisatawan yang ingin berburu batik ini bisa datang langsung ke Balai Desa Losari atau ke kediaman Tri Hapsari yang untuk sementara ini menjadi ruang pamer batik Losari.

Jika Anda sedang menginap di Resor MesaStila, pihak hotel akan dengan senang hati mengantar Anda untuk membeli batik Kopi Pecah. Warga pembatik ini juga adalah warga binaan pihak hotel. Bahkan, MesaStila terkadang mengundang para pembatik untuk unjuk kebolehan di depan wisatawan, atau para wisatawan ini yang dibawa ke Sanggar Batik Eyang Mas Ayu.

Harapan Tri, batik asal Losari bisa mendapatkan tempat di hati para wisatawan, bahkan diekspor keluar negeri. Sejauh ini, ibu-ibu pembatik ini sudah mengerjakan pesanan dari berbagai kota di Indonesia.

Wisatawan yang tertarik membeli batik Kopi Pecah, bisa menghubungi Ibu Tri di Sanggar Batik Eyang Mas Ayu, Desa Losari, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Tri juga bisa dihubungi di ponselnya 0813 9295 4450 atau di 0813 2674 1125.

Mencanting
Batik Kopi Pecah dari Sanggar Batik Eyang Mas Ayu, layak menjadi oleh-oleh baru saat Anda berlibur ke Losari, Magelang. Sambil membantu perekonomian warga desa, Anda bisa membawa pulang batik bermotif kopi yang cantik. Apalagi kalau Anda memang penggemar minuman legit ini, harus beli! Saya angkat jempol dan ikut berdoa untuk mimpi para warga Desa Losari.

Silakan juga menikmati versi beritanya di sini.

Saturday, November 10, 2012

Tidur Mewah Ala Raja Jawa di MesaStila

Mayong Station - The Front Office
Usai menikmati Lawang Sewu, Semarang, sore hari awal Oktober itu, mobil kami melesat di jalan tol melewati Ungaran dan akhirnya tiba di Resor MesaStila di Desa Losari, Magelang. Hawa sejuk malam hari menyapa tatkala kaki ini sampai di depan sebuah stasiun kereta tua bertuliskan Mayong. Namun di dalam stasiun itu ternyata adalah sebuah front office hotel.

"Ini asli, Mas. Dipindahkan dari Mayong di Jepara ke Magelang sini," ujar pelayan hotel sambil mengambil tas backpack saya. MesaStila langsung membuat saya penasaran malam itu juga. Namun, temaram lampu yang cantik di resor dan spa ini malah membuat saya makin penasaran.

Pagi harinya, pemandangan cantik jelita itu terjawab sudah. Bersama embun pagi, jelas sudah panorama di resor seluas 22 hektar, yang dulu bernama Losari Spa Retreat and Coffee Plantation ini. Separuh kawasan resor ini adalah perkebunan kopi yang masih aktif.

Telomoyo
MesaStila memiliki 22 villa yang merupakan rumah joglo dan limas tua. Asli dipindahkan dari tempat asalnya ke MesaStila. Luar biasa!

Jari jemari saya menyusuri lekuk kusen-kusen dan ukiran kayu dari villa yang saya tempati, Telomoyo namanya. Di kamar ini saya bersama Pak Made dari Kompas. Telomoyo menurut saya adalah relokasi sebuah memori dari masa silam Jawa yang sukses. Bukan hanya satu, tapi 22 rumah Jawa dan bangunan lain yang dikoleksi MesaStila dan dialihfungsikan sebagai villa dan bangunan resor lainnya.

"Di MesaStila, kami ingin menampilkan suasana khas Jawa yang nyaman untuk semua tamu kita," kata Mbak Sri Utami dalam obrolan usai makan malam di ruang makan utama MesaStila. Dia ini Direktur Marketing Mesa Hotels and Resorts.

The Club House
Suasana Jawa dan Kolonial kental terasa di MesaStila. Ini lantaran sebuah bangunan utama di sebuah bukit kecil yang tampil dominan. Ini adalah club house hotel, namun aslinya rumah seorang Belanda bernama Gustav Van Der Swan yang dibangun pada 1928. Gustav adalah pemilik pertama perkebunan kopi di Losari, Magelang. Rumah Gustav adalah bangunan pertama dan asli yang berdiri di tempat ini.

Kontur perbukitan di MesaStila, memanjakan mata dengan pemandangan Gunung Andong, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, dan sederet pegunungan lain. Turun ke lembah dari sisi kiri Club House ada perkebunan kopi menghampar dengan aneka pepohonan besar sebagai peneduh. Dalam suasana tenang, hati pun terasa damai.

Selanjutnya, bersiaplah dimanjakan MesaStila dengan fasilitas kamarnya. Villa-nya terbagi dalam beberapa kelas yaitu Plantation Villa, Arum Villa dengan satu kamar tidur, Ambar Villa dengan dua kamar tidur, dan The Bella Vista yang terdiri dari 5 villa yang terkoneksi. Nah, Bella Vista ini yang mewah banget karena kamar inilah yang pernah dipakai Presiden SBY untuk menginap.

The Bella Vista
"Presiden SBY pernah duduk dibangku itu," kata seorang staf hotel kepada saya menunjuk ke bangku di taman menghadap ke sebuah lembah. Barulah saya sadar itulah pojok yang pernah saya lihat di galeri foto Kantor Kepresidenan. SBY pernah menulis puisi dan naskah pidato di pojok itu.

Semua bangunan ini adalah rumah Joglo dan Limas tampak antik dari luar, namun modern di dalam. Masa silam dan masa kini dikawinkan sempurna di MesaStila. Rumah antik yang dijadikan villa ini memiliki AC, wifi, TV kabel, air panas, telepon dan aneka fasilitas lain layaknya resor.

Namun suasana antik dijaga dengan aneka dekorasi ukiran, ornamen Jawa, lemari antik, bale-bale, bahkan ubinnya tegel khas Jawa zaman baheula. Melihat pembaringannya, serasa melihat tempat tidur para raja Jawa. Mewah!

"The Bella Vista itu aslinya memang rumah pangeran Jawa di Solo, lho," kata Mbak Tami.

Loket Stasiun Kereta Mayong, masih ada!
Ngomong-ngomong orisinil, Stasiun Kereta Mayong yang jadi kantor Front Office itu saking aslinya, masih ada loket tiketnya. Dahsyat! Unik begitu deh ada front office hotel dengan loket untuk membeli tiket kereta di zaman dulu.

Sebagai resor berkonsep retreat, MesaStila menawarkan aneka fasilitas untuk relaksasi dan menenangkan diri. Ada kolam renang dengan pemandangan gunung dan lembah, serta jalur refleksologi. Ada juga jungle gym, semacam outbound mini tanpa flying fox.

MesaStila juga menawarkan aneka kegiatan mulai dari yoga, agrowisata tur ke perkebunan kopi, berkuda, sampai pencak silat. Kegiatan ini ekslusif untuk mereka yang menginap ke MesaStila, kecuali tur perkebunan kopi yang dibuka untuk umum dengan biaya Rp 450.000 ++ per orang termasuk makan siang dan suvenir kopi asli yang dipanen dari MesaStila.

Untuk kesehatan, MesaStila punya fasilitas spa dengan jamu dan aneka rempah-rempah. Yang patut dicoba adalah The Hammam Spa. Ini adalah mandi ala Turki yang diklaim hanya ada satu-satunya di Asia selain di negeri aslinya. Wow!

The Hammam Spa
Berapa room rates di MesaStila? Menurut Tami, tersedia beragam paket menginap menarik mulai dari Experience Losari mulai dari Rp 1.200.000 ++/malam/villa di Plantation villa.

"Ada juga beberapa Wellness Packages yang tersedia seperti Dynamism atau Escapism untuk menginap 2 malam, Executive Recharge atau Destress & Indulgence untuk 3 malam dan lainnya sesuai dengan kebutuhan dari para tamunya," kata Tami.

Dengan kemewahan ala Raja Jawa, MesaStila bisa menjadi pilihan buat mereka yang ingin menyepi dari segala hiruk pikuk kehidupan kota besar. Mencari ketenangan di tengah perkebunan kopi atau mungkin pasangan yang sedang berbulan madu, bisa menemukan tempat tetirahnya di MesaStila.

Yang asyik dari MesaStila ini adalah suasananya yang homy banget. Sesi makan adalah saat dimana para tamu bisa mengobrol dengan pengelola hotel. Chef asal Australia bernama Darren, ini orang Australia kesekian bernama demikian yang saya temui, asyik untuk diajak ngobrol karena dia memantau langsung suasana makan.

"What do we have for dinner?" Dan dia dengan senang hati menunjukkan satu-satu masakan yang dia buat.

The ambience
Satu lagi adalah Retreat Manager MesaStila Bryan Hoare, yang merupakan atlet triathlon dan sudah punya tato Iron Man (bukan superhero ya!) sebagai tanda pernah ikut dan juara triathlon. Bryan ini sudah jatuh cinta banget dengan Jawa Tengah.

"Kami ingin semua orang yang datang ke tempat ini bisa mendapatkan liburan dengan aktivitas yang positif untuk tubuh dan kesehatan mereka. Tempat ini memiliki seluruh kecantikan yang ada di Jawa," kata Retreat Manager MesaStila Bryan Hoare.

Dalam sebuah obrolan dengan Bryan, dia cerita sudah pernah mengurus hotel di Phuket, Maladewa, Malaysia, dan beberapa tempat destinasi top lain. Nah, dia bilang nggak ada tempat di dunia ini dengan masyarakat seperti di Jawa Tengah.

"Di Amerika, orang bilang 'See you again' tetapi setelah itu mereka tidak peduli. Orang Thailand juga bilang 'Sawasdee' tapi tidak ada yang setulus orang Jawa menyapa kamu. Begitu murni hatinya," kata Bryan. Saya setuju, Bryan!

Oh iya, kalau mau lihat versi beritanya ada di sini

Thursday, October 11, 2012

Waktu Seperti Membeku di Lawang Sewu


Kalau tidak punya waktu banyak di suatu tempat, kadang cara paling enak untuk menikmatinya ya duduk saja. Biarkan waktu yang sedikit itu bergulir perlahan dengan kita menikmati suasananya. Begitulah waktu saya beberapa waktu lalu ke Semarang.

Jumat 5 Oktober sore itu, tidak banyak waktu saya di Simpang Lima, Semarang. Tinggal menunggu mobil yang akan membawa saya ke MesaStila Resort di Magelang. Rombongan lain ada perlu membeli charger Blackberry. Alih-alih bengong, lebih baik saya menunggu di tempat yang asyik.


Kaki pun melangkah menuju Lawang Sewu. Inilah bekas kantor pusat kereta api Belanda, Nederlandsche Indische Spoorweg Matschappij (NIS). Dibangun pada tahun 1904 selesai pada tahun 1907.

Saya tidak masuk ke dalam, tapi memutuskan untuk menikmati pemandangannya dari arah taman di tengah Simpang Lima. Bersama saya, ada beberapa pasangan yang duduk mojok pacaran. Segerombolan ABG asyik bercanda ria. Sedangkan, tiga penghobi foto membidik Lawang Sewu seperti juga saya.

Jika saya adalah Lawang Sewu, terbayang betapa suasana di hadapan saya berubah dalam 105 tahun. Jepang menjadikan ruang bawah tanahnya sebagai penjara. Darah pemuda Indonesia pernah tumpah di depan Lawang Sewu saat Pertempuran 5 Hari di Semarang, 14-19 Oktober 1945.


Pohon-pohon ada yang hilang berganti jadi gedung dan kantor. Kereta kuda yang melintas berubah menjadi motor dan mobil. Sedangkan si Lawang Sewu... sang waktu berhenti berdetak untuknya.

Lampu merah berganti hijau dan motor lantas menderu duluan disusul mobil-mobil dan bis, mengitari Taman Simpang Lima. Roda-roda yang bergulir seperti tidak peduli ada Lawang Sewu di sana, menunggu perhatian mereka.

Sahabat setianya hanya sebuah lokomotif tua bernomor C 23 01 buatan Chemnitz, Jerman, tahun 1908. Berdua, mereka menyaksikan zaman berubah dan mereka bertahan di Simpang Lima. Entah sampai kapan... Tapi dinikmati saja, seperti saya menikmati suasana di depan Lawang Sewu sore itu dengan sederhana.

Saat matahari sore sudah lebih turun, kaki saya pun melangkah pulang. Paling saya hanya 15 menit di tempat itu. Satu hari lagi akan berlalu untuk gedung berjuluk seribu pintu itu.

Baca versi beritanya di sini

Sunday, August 26, 2012

Ini Dia Tahu yang Lebih Enak Dari Tahu Sumedang!

Buat banyak orang, Tahu Sumedang sudah tersohor kelezatannya. Tapi untuk yang tinggal di Ciayumajakuning - Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan plus Ciamis, mereka mungkin tahu yang Anda belum tahu: Ada yang lebih enak dari Tahu Sumedang.

Tahu Lamping namanya, asli dari Kuningan. Bentuknya mirip Tahu Sumedang, disajikan dalam keranjang anyaman. Rasanya boleh diadu, tapi Tahu Lamping ini diklaim lebih padat dan tidak kopong seperti Tahu Sumedang. Pembaca detikTravel menyebut persaingan dua tahu ini seseru Apple VS Samsung. Saya setuju.....

Kalau saya harus memilih, saya membela Tahu Lamping. Soalnya saya memang membenci kopongnya Tahu Sumedang, nggak kenyang-kenyang jadinya. Lantas, kemana kita mencari Tahu Lamping?

Lamping adalah sebuah daerah di Kuningan, tepatnya 1 km setelah Masjid Agung Kuningan ke arah Ciamis. Ciri-cirinya gampang, tiba-tiba Anda akan terjebak kemacetan selepas Masjid Agung. Itulah daerah Lamping, atau tepatnya Jl Veteran, Kuningan.

Kemacetan ini karena banyak kendaraan yang parkir di kanan dan kiri jalan. Perhatikan baik-baik, di kanan dan kiri jalan itu banyak toko yang menjual tahu panas, Tahu Lamping namanya.

Ada banyak toko penjual Tahu Lamping, tapi yang menjadi favorit adalah Tahu Kopeci dan cabangnya Tahu Kopeci 2 yang berada di seberangnya. Tahu Kopeci paling menyedot perhatian traveler dibandingkan toko Tahu Lamping lainnya. Tahu Kopeci ini favorit mendiang bapak mertua. Beliau lah yang mengajarkan saya untuk mencintai Tahu Lamping dan pindah ke lain hati dari Tahu Sumedang hehehe.

Saya mampir Selasa 21 Agustus, hari ketiga Lebaran. Kopeci Satu tutup, tapi Kopeci Dua sudah buka begitu pula aneka pesaing mereka. Suasana di Tahu Kopeci penuh sesak pengunjung. Sambil menunggu antrean, saya wawancara seorang pembeli.

"Tahu ini lebih enak dari Tahu Sumedang. Kalau Tahu Sumedang yang baru digoreng kan kopong, kalau Tahu Lamping ini tetap padat berisi. Jadi, tahu ini lebih mengenyangkan selain juga lebih gurih," kata Iip, asal Ciamis. Saya manggut-manggut setuju.

Model pembeliannya "first come first served", yang datang duluan dilayani duluan. Saking lakunya, tahu yang baru keluar dari kuali besar tidak pernah lama-lama berada di tempat saji. Hup hup! Penjual Tahu Lamping dengan cekatan memasukkan tahu panas ke dalam keranjang. Teteh-teteh yang melayani pembeli ini sudah biasa memegang tahu panas.

Saya sengaja masuk ke ruang penggorengan tahu, dan mengobrol dengan Maman, pengolah tahu yang sedang sibuk mengangkat papan-papan berisi tahu mentah berukuran 80x80 cm siap goreng. Sambil mengusap peluh di ruang pengap itu, Maman bertutur lancar.

"Tahu Kopeci dan Kopeci 2 ini adik kakak, sudah lama berjualan tahu di sini. Dalam sehari kita bikin 3,5 kuintal tahu, kalau Lebaran bisa sampai 4,5 kuintal dan pasti habis," kata Maman, pengolah Tahu Lamping.

Maman balik bertanya, saya siapa. Saya jelaskan saya wartawan detikTravel, situs berita traveling paling top di Indonesia, hehehe. Tapi saya jelaskan, bapak saya pun asli dari Lengkong, Kuningan. Nah di sinilah hebatnya brotherhood orang Kuningan.

Kalau Anda traveling ke Kuningan, berbincang dengan orang lokal, dan BISA menunjukan kalau Anda berkerabat/berteman dengan orang dari salah satu desa di Kuningan, Anda langsung dianggap saudara! Begitu saya bilang bapak saya dari Lengkong, Maman langsung girang.

"Pan eta si Juju juga dari Lengkong!" kata dia sumringah.
Juju siapaaaaaaa??? Nggak kenaaaaallll, rasanya saya ingin jatuh berlutut di depan dia. Tapi sifat brotherhood inilah yang membuat semua penjual mie rebus dan bubur kacang asal Kuningan di Jabodetabek kompak-kompak.

Coba saja datang, ke penjual mie rebus yang asli Kuningan, bilang "Kang, bapak saya teh asli dari (sebut nama daerah di Kuningan)." Pasti dia girang dan Anda mungkin boleh berhutang mie rebus hehehe.

Anyway, Tahu Lamping dihargai Rp 500 per biji. Biasanya pengujung membeli Rp 20.000 untuk 40 tahu yang memang pas memenuhi keranjang anyaman. Cabe rawit menjadi teman setia tahu ini. Sajian lain adalah susu kedelai yang dijual Rp 2.000 sekantung kecil ukuran 200 ml.

Tahu panas sudah di tangan saya, saatnya mencicipi tahu ini. Nyamm! Kelezatan Tahu Lamping, bukan omong kosong belaka. Satu keranjang Tahu Lamping jadi teman perjalanan saya kembali ke Cirebon hari itu.

Kisah Tahu Lamping ini bisa dinikmati versi beritanya di sini.

Monday, August 24, 2009

Amsterdam: Melesatlah TGV!

Hari keempat liburan di Brussels, Senin 2 Maret. Kita mau mampir ke Amsterdam. Nanggung udah tinggal sedikit lagi. Lagian hari Senin, Teh Shanti harus kerja juga. Agar tidak mengganggu kita jalan-jalan sendiri aja.

Kita rencananya naek kereta Thalys, perusahaan patungan Belgia, Prancis, Jerman. Kita pesan tiket sebelum datang ke Brussels

Mesin dan gerbongnya diambil dari TGV Prancis, cuma dicat ulang. Yup, ini kereta peluru, man! Desti sih udah pernah naek kereta peluru Jerman. Tapi ini juga pengalaman pertama gue hihihi. Naeknya dari stasiun Bruxelles Midi.

Interiornya enak, nyaman, lega. Ada kompartemen barang. Keretanya punya Wifi buat yang mau internetan. Restorannya juga keren.

Waktu di dalam kota, kecepatannya sih biasa. Begitu udah di pinggir kota mulailah melesat. Wuusssh! Puncak kecepatan Thalys ini 300 km/jam. Pemandangan di luar kereta udah tinggal sekelebatan. Tapi suspensinya empuuuuk maknyuss. Goncangannya minim, masih lebih goyang Cirebon Ekspress.

Sayangnya, jalur Brussels-Amsterdam ini tidak terlalu kuat buat kereta peluru. Jadi kecepatannya ngga bisa sampai 300 km/jam. Sayang banget. Tapi enaknya, Zahra ngga bayar asal ngga ambil bangku. Tapi banyak bangku kosong juga kok, jadi Zahra duduk sendiri aja.

Soal harga tiket, di Eropa orang biasa berburu tiket 3 bulan sebelum berangkat. Bisa dapat harga murah banget, kalau udah deket hari baru mahal. Harga pembukaan Thalys ini cuma 19 Euro atau Rp 285 ribu. Bayangin, kereta peluru harganya sama kaya kereta Argo. 2,5 jam sampe deh kita di Amsterdam Centraal.

Brussels: Bertemu Tintin, Yeeaah!

Yang satu ini tokoh komik favorit gue. Tintin. Wartawan berjambul dari Belgia yang kesohor, hero-nya para wartawan. Jadi sesama kolega, haruslah gue mengunjungi beliau.

Kalau mau mencari Tintin di Brussels, kita pergi ke Centre Belge de la Bande Dessinée atau Belgian Comic Strip Center di Rue de Sables, Brussels. Sederhananya, ini adalah museum komik Brussel.

Semua tokoh komik Belgia ada di sini, dari Lucky Luke sampe Smurf. Wah gue paling seneng deh bisa dateng kesini. Padahal tempatnya ngga di pinggir jalan raya, tapi agak masuk ke dalem.

Kita kesini Minggu sore 1 Maret, setelah sebelumnya dari Grote Markt. Begitu sampe lobi utama, patung Tintin dan foto pengarangnya, Herge, sudah menyambut pengunjung bersama dengan roket Tintin untuk pergi ke Bulan.

Secara Tintin itu paling ngetop, dia punya kavling paling gede di lantai 3. Orang bisa melihat sejarah Tintin, dan kawan-kawan. Sampai ada replika benda-benda penting dalam komik Tintin. Misalnya saja ada Patung Kuping Belah, Tongkat Raja Ottokar dan Cerutu Sang Pharaoh.

Kita juga bisa berfoto dari balik lukisan kakek moyang Kapten Haddock. Yang unik, ubin pecah di tangga museum pun diberi tanda dengan gambar Kapten Haddock terpeleset. Gue bisa ngejelasin ke Zahra tentang Tintin.

"Zahra, dulu Nin Ratti suka bacain komik Tintin untuk Papa. Terus Papa udah gede jadi wartawan deh hehehe," Zahranya manggut-manggut.

Di museum ini, juga ada bioskopnya. Anak-anak bisa lihat film Smurf. Ada juga toko komik dan merchandise, tapi mahal banget bow! Tapi Alhamdulillah, kesampaian juga ketemu Tintin.

Brussels: Maneken Piss

Masih di hari ketiga di Brussels, Minggu 1 Maret. Salah satu tujuan utama kita di Brussels adalah harus bisa lihat Manneken Piss. Patung anak kecil pipis ini sudah sangat mendunia. Harus lah kita kesini.

Jadi setelah pagi kita ke Atomium, makan ayam di Hector, Teh Shanti anter kita ke Grote Markt, di kawasan kota tua Brussels. Sekalian beli batere. Tapi tempat patungnya Teh Shanti agak-agak lupa. Jadilah kita menyusuri jalan-jalan sempit di barat daya alun-alun Grote Markt. Jadi, jangan bayangkan ini adalah patung di tengah kolam air mancur yang luas.

Di pojok pertemuan jalan Rue de Chene dan Rue de l'Etuve ada sebuah kolam kecil. Di atasnya ada patung perunggu berbentuk anak kecil lagi pipis. Patungnya cuma setinggi 61 cm doang. Mungil bukan?

Kesan pertamanya.... Gini doang neh? Ya ampun, bener-bener imut banget, hehehe. Tapi walaupun kecil, banyak banget turis yang datang kesini. Mau foto aja mesti gantian. Jadilah kita nunggu turis laen dulu buat foto ama patung Manneken Pis.

Patung bocah pipis ini sejarahnya adalah karya Jerome Duquesnoy pada 1619. Ini untuk menggantikan patung aslinya dari batu yang sudah ada sejak 1388, namun hilang dicuri. Legendanya juga macem-macem.

Ada yang bilang patung ini adalah anak bangsawan yang hilang dan akhirnya ditemukan sedang pipis di sudut jalan. Ada juga legenda yang mengatakan ini adalah anak kecil yang mengencingi bahan peledak yang akan menghancurkan Brussel di abad 14. Kalau kata Ulrik, dia bilang dulu Raja Belgia membawa anak yang diminta pipis di depan Raja Prancis sebagai bentuk penolakan Belgia untuk berunding dengan Prancis.

Nah ternyata, Manneken Pis ini punya pasangan, namanya Jeanneke Pis. Patung perempuan pipis, tapi sebenernya dibikin untuk lucu-lucuan doang. Nyari patung ini lebih susah lagi. Di ujung gang buntu Fidelite dan harus ngelewatin resto yang pelayannya berebutan calon konsumen gitu.

Setelah lolos dari jerat para pelayan restoran, sampe deh kita ke depan patung anak perempuan berkepang pipis sambil jongkok. Ngga sopan banget pipisnya... Tapi suasananya kontras, Jeanneke Pis mah sepi, ngga banyak turis yang tahu.

Oh iya, satu lagi. Sebelah Manneken Pis ada toko wafel Belgia. Besonders lecker!

Friday, August 14, 2009

Brussels: Atomium yang Futuritis

Di hari ketiga di Brussels, Minggu 1 Maret, kita pengen jalan agak jauh. Jadi Teh Shanti bawa kita ke pinggir kota buat liat Menara Atomium yang unik. Pagi ini juga terasa hangat, enak buat jalan-jalan.

Mama waktu seumuran gue, pernah kesini waktu kuliah di Prancis. Atomium itu ada di luar kota, tepatnya di kawasan Heysel Park, arena pekan raya semacam PRJ di Kemayoran.

Begitu keluar stasiun menaranya udah keliatan. 9 Bola baja raksasa disusun membentuk struktur inti sebuah kristal. Futuristis banget. Menara Atomium menjadi salah satu ikon Brussels, selain Manneken Piss.


Atomium itu ternyata kenang-kenangan Pekan Raya Brussel Expo 1958. Andre Waterkeyn merancang menara Atomium karena pada masa itu teknologi atom dianggap sebagai teknologi yang paling mumpuni.
Yang keren adalah, semua bola raksasa ini bisa tegak berdiri hanya bertumpu pada satu bola utama saja ditambah 3 tiang penunjang.

Kita mesti jalan 500 meter dari stasiun ke Atomium. Tapi dari jauh aja boleh metalnya udah berkilauan. Jadilah kita foto-foto depan Atomium dari kejauhan. Maklum, Atomium tingginya 102 meter, bola raksasanya berdiameter 18 meter. Lumayan terlihat dari jauh.

Lagi enak-enak berfoto, eh mulai deh bencana. Batere kamera habis dan gue ngga punya cadangan. Ya udah deh pinjem kamera Teh Shanti, tapi jadi ngga foto-foto.
Kita juga ngga masuk ke dalam soalnya bayar hehe. Kita kan turis paket serba hemat.

Di dekat Atomium juga ada Mini Europa, miniatur bangunan di Eropa. Sayangnya baru buka lagi menjelang musim panas. Ya sudahlah kita menuju tujuan jalan-jalan selanjutnya. Dan teuteup, makan siang di Hector.

Brussels: Wow! Serunya Parade Komik

Setelah puas di Jubel Parc, Teh Shanti ngajak kita makan ayam goreng Hector di daerah Plas de Broukere. Tanpa kita tahu sebuah kejutan besar menanti kita.

P
as sampai sana, kok jalanan di blokir seperti mau ada parade. Bertebaran spanduk "BD Comic Strip Brussels 2009". Oalah rupanya Sabtu 28 Februari alias hari ini, ada parade tokoh komik tahunan yang terkenal di Brussels!

Belgia kan memang terkenal dengan berbagai komiknya yang mendunia mulai dari Tintin sampai Smurf. Dan waktunya jam 14.00. Masih cukup waktu buat mengisi perut. Perut kenyang, kita segera bersiap di pinggir jalan, bersama ribuan orang Brussels lainnya.

Jam 14.00 parade pun dimulai. Balon pertama yang lewat adalah Manneken Piss, anak kecil pipis yang menjadi maskot Brussel. Setiap balon tingginya 10-20 meter tergantung karakter komiknya. Semua orang tepuk tangan. Apalagi mereka yang membawa anak-anak, mata mereka berbinar melihat balon-balon berukuran super besar. Zahra udah amaze banget lihat balon raksasa gitu.

Menyusul di belakang Manneken Piss ada beraneka karakter tokoh komik lain seperti Cat in the Hat, Spirou dan Fantasio, serta Dalton bersaudara yang menjadi musuh koboi Lucky Luke.


Yang datang agak belakang adalah keluarga Smurf, liliput lucu karya kartunis Peyo. Yang pertama tentu saja Papa Smurf. Dengan brewok putih dan topi
merah, Smurf yang berkulit biru ini melayang di antara gedung-gedung. Di belakang Papa Smurf, tentu saja Smurf muda yang bertopi putih.

Cuma sayang banget, ngga ada Tintin dalam arak-arakan. Wartawan berjambul ini kan karakter komik Belgia yang paling mendunia. Tapi ngga apa-apa deh, ini pengalaman pertama kita melihat parade balon helium. Di Indonesia ngga ada hehehe. Kita pun menghabiskan sore dengan melihat Istana Raja Belgia. Ini foto Zahra lagi gaya di depan Istana Raja Belgia.

Kalo yang bawah video sekilas suasana parade. Enjoy! Pertama kali coba uplod viedo nih. Berat juga...

Thursday, August 13, 2009

Brussels: Jubel Park

Maaf, lama banget ngga nge-blog. Aktifitas datang silih berganti (bilang aja kursus tiap hari selama 6 bulan hehe). Nyambung waktu liburan ke Brussels hari kedua nih, Sabtu 28 Februari.

Kita bilang ama Teh Shanti mau keliling Brussels lihat taman kota dsb. Teh Shanti bawa kita ke monumen nasionalnya Brussels. Kalau Jakarta punya Monas, Belgia punya
Arcade du Cinquantenaire di taman Parc du Cinquantenaire atau disebut juga Jubelpark.

Ceritanya ini monumen untuk perayaan 50 tahun kemerdekaan Kerajaan Belgia dari Prancis. Bentuknya gerbang bergaya neo klasik.
2 bangunan di sampingnya jadi museum gitu. Di awal Maret gini hawanya enak banget, pas lagi ada matahari musim semi, rumput-rumput keliatan hijau segar, pepohonan juga mulai bertunas.

Zahra seneng banget bisa lari-larian di tempat luas bgt. Buat gue dan Desti yang asyik itu ada orang jualan Wafel, pancake khas Belgia pake mobil van gitu. Gila rasanya enaaaaak banget. Seru deh, pagi-pagi sejuk, menikmati matahari pagi sambil makan wafel panas. Yang jelek cuma coret-coret Neo Nazi di pojok taman ngejekin orang Pakistan. Tapi overall ini keren banget.

Puas di taman kita nyeberang jalan sedikit dan jalan satu blok. Di situ ada gedung gede banget seberang-seberangan. Itulah gedung Parlemen Eropa. Mmmm, tapi kalau kata gue sih kurang megah untuk sebuah gedung DPR se-Uni Eropa. Tapi di Berlin juga ada gedung Komisi Eropa juga gitu doang sih bentuknya, kecil.

Nggak kerasa lapar karena udah siang, kita pengen cari makan dong. Teh Shanti ngajakin kita ke Hector, ayam goreng paling enak di Brussel. Tapi ada kejutan lain menunggu kita. Mau tahu? Tunggu di tulisan sambungannya...