Saturday, July 21, 2012

I Love Miss USA (and Miss Universe too)

Ini analisa politik gue seputar rekayasa di balik Miss USA dan Miss Universe 2010. Diuplod di Facebook tertanggal 17 Mei 2010 silam. Di blog ini saya copas-kan juga prediksi Miss Universe 2010, dan tebakan saya benar waktu itu. Miss Universe-nya dari Meksiko yang gambarnya ada di samping ini.

Barusan baca berita Detikhot, Rima Fakih menjadi muslim pertama yang menang Miss USA 2010.......

Pemilihan ratu kecantikan Amerika dan ratu sejagat, adalah dua momen yang tidak boleh saya lewatkan, karena pesan tersembunyinya. Percaya atau tidak, saya punya cara pandang yang sama sekali berbeda terhadap ajang adu kecantikan itu.

Ketika orang mengagumi paras, bodi aduhai, atau mungkin juga kecerdasan mereka, buat saya, itu semua tidak penting. Miss USA dan Miss Universe, buat saya hanya bermakna tunggal, POLITIK.

Anda tahu nggak, Miss USA dan nanti dilanjutkan Miss Universe adalah cara paling sederhana untuk memahami garis-garis kebijakan politik Paman Sam. Miss USA adalah potret kebijakan politik dalam negeri, Miss Universe adalah potret kebijakan politik luar negeri. Itu semua untuk satu tahun ke depan setelah sang putri kecantikan terpilih.

Nggak percaya? Lebih baik kali ini Anda percaya. Mari kita mulai urai analisanya:

Komunikasi politik, adalah elemen paling penting dalam strategi politik di Amerika.Pencitraan menjadi senjata paling ampuh untuk menentukan baik buruknya sesuatu. Dan peran tunggal pencitraan diserahkan kepada MEDIA. Yang tentu sudah banyak anda tahu betapa gurita media AS juga menjalankan tugas propaganda, terutama televisi.

Namun, yang belum banyak Anda sadari, pesan tersembunyi banyak disusupkan dalam beraneka program televesi. Dan itu bukan dalam berita. Percayalah, Gedung Putih sudah tahu gambar apa yang harus muncul di depan mata anda. Mulai dari wajah orang sampai latar belakang. Semua bisa menanamkan pesan di benak anda.

Miss USA dan Miss Universe dalam 4 dekade terakhir, telah menjadi alat propaganda yang efektif. Gadis-gadis yang terpilih sebagai ratu kecantikan, jangan dilihat sebagai individu. Mohon kiranya bisa melihat mereka dengan berbagai agenda politik yang bisa disimbolkan lewat daerah asal, etnisitas, bahkan nama mereka.

Terus terang biasanya saya langsung fokus dengan Miss Universe karena politik luar negeri AS lebih penting dari pada urusan dalam negeri mereka. Sebelum saya memberikan contoh, ini dia prinsip paling dasar untuk menonton acara penobatan Miss Universe.

1. Top 10 Finalis Miss Universe dipilih dari negara-negara yang mendapatkan apresiasi Gedung Putih untuk satu tahun yang sudah berlalu. Biasanya negara-negara yang tunduk pada tekanan AS, memberikan pintu lebar untuk masuknya perusahaan-perusaahaan asing, atau negara binaan AS yang harus mendapatkan publikasi.

2. Top 5 Finalis Miss Universe dipilih dari negara-negara yang akan menjadi fokus perhatian Gedung putih untuk tahun ini. Mereka akan menjadi target pendekatan karena kepemilikan minyak dan gas, beraneka bahan tambang, lokasinya penting secara geografis, atau negaranya penting untuk dijadikan sekutu.

3. Miss Universe dipilih dari satu negara yang menjadi negara fokus yang akan diberikan pencitraan oleh AS. Negara ini akan didekati habis-habisan, untuk mendukung kebijakan politik luar negeri AS.

OK! Sudah dihapal tiga rumusan di atas? Sekarang saya mau ingatkan, pemilihan Miss Universe tidak bisa lepas dari situasi politik internasional, dan nasional untuk kasus Miss USA. Ayo kita masuk ke contoh, rumusannya kita bikin begini: Situasi politik internasional dulu, baru kita lihat siapa Miss Universe-nya.

2004
George W Bush sudah empat tahun mengobarkan perang melawan terorisme, sebentar lagi Pilpres di AS dan Bush harus bertahan. Afghanistan sudah takluk dan ladang minyak sudah dibagi-bagi. 'Perang melawan terorisme' memasuki babak pre-emptive action dengan menyerbu Irak. Inggris yang jadi sekutu loyal, terus dihantam protes dalam negeri meminta tentara dipulangkan. AS butuh sekutu tambahan untuk dibujuk mengirim anak muda mereka untuk dikorbankan di Irak.

Miss Universe: Jennifer Hawkins dari Australia

2007
Kavling minyak di Irak juga sudah dibagi-bagi rata untuk para sponsor perang. Sekarang Bush ingin menghantam Ahmadinejad dari Iran. Namun setelah beberapa tahun, Ahmadinejad terus bertahan, sementara Kim Jong Il juga mulai jahil di Korea Utara. Bush menyebut mereka Evil Axis, Poros Setan. Sementara tinggal 1 tahun tersisa, Ahmadinejad tidak juga goyah. Bush memutuskan melepas Ahmadinejad dan memilih menahan Kim Jong Il. Butuh sekutu yang bertetangga dengan Korea Utara dan bisa dibujuk agar mengeluarkan kebijakan diplomasi keras untuk Korea Utara.

Miss Universe: Riyo Mori dari Jepang

2008-2009
Krisis ekonomi global sudah dirasakan dampaknya. Harga minyak membumbung tinggi. AS sedang berganti presiden. Irak rupanya tidak bisa jadi jaminan. Pembakaran ladang minyak sudah membuat mereka pusing, dan sudah ribuan tentara AS mati sia-sia. Situasi sulit untuk Bush (2008) dan Obama (2009). Untuk mengamankan perekonomian, siapapun harus bisa memegang minyak. Minyak yang aman ada di Amerika Latin. Bisa didapat tanpa perang, namun para kepala negaranya benci dengan AS, jadi perlu dibujuk.

Miss Universe: 2008 - Dayana Mendoza dan 2009 - Stefania Fernandez, keduanya dari Venezuela

Sudah agak paham belum? Masih kurang buktinya? Ayo kita lihat untuk skala mikro: Miss USA. Kalau Miss USA ini untuk urusan politik internal Amerika saja.

2008
Tahun terakhir pemerintahan Bush. Popularitasnya terjun drastis. Publik sudah lelah dengan perang Irak. Krisis ekonomi merajalela. Pemerintah butuh dukungan dari kelompok lain di luar White-Anglo-Saxon-Protestant. Mereka harus diangkat-angkat biar mau mendukung pemerintah.

Miss USA: Crystle Stewart (Afro-American)

2010
Tahun kedua pemerintahan Obama. AS berusaha memperbaiki citra internasional akibat 10 tahun perang melawan terorisme. Obama yang keturunan Kenya, sempat menjadi Muslim, merasa punya modal untuk menyelamatkan muka USA di hadapan negara muslim. Obama pidato di Kairo memuji dialog Islam dan Barat. Bulan Juni nanti Obama akan ke Indonesia, negara Muslim terbesar. Sebelum ke Indonesia, harus ada kabar baik soal Islam di Amerika.

Miss USA: Rima Fakih (Muslim)

Jadi..... pasang mata baik-baik, dan kita bisa meraba sepak terjang Amerika dalam setahun ke depan. Bahkan bila data-data Anda sudah cukup, mungkin Anda bisa memprediksi pemenang tahun depan.

-----------

Ini prediksi saya sebelum acara mulai:

Fitraya Ramadhanny Ini prediksi top 10 Miss Universe 2010:
USA, Venezuela, Inggris, Georgia, Jerman, Yunani, Meksiko, Korea Selatan, Mesir, Indonesia.
Ayo kita tunggu tanggal mainnya.....


Tebakannya benar, yang menang Meksiko yaitu Ximena Navarrete, satu dari 10 negara yang saya prediksi.

Catatan Akhir di Sudut Berlin

Ini adalah sebuah catatan akhir sebelum kami pulang dari Jerman. Tersimpan di notes Facebook tertanggal 15 November 2011.

Perlebergerstrasse tiba-tiba menjadi begitu sepi hari Minggu pagi itu, saat kaki melangkah pulang dari Al Falah. Sinar matahari mulai menguapkan embun dari tumpukan daun maple yang gugur. Dan tiba-tiba Berlin memberikan ruang bagiku untuk menyusuri jalan itu..... sendiri.

Dan betapa angin dingin yang menerpa wajahku menyegarkan semua kenangan di dalam kepala. Tentang sebuah perjalanan. Tentang sebuah episode kehidupan. Tentang sebuah fase. Tentang aku, Desti dan Zahra. Tentang mimpi kami dan cita-cita.

Kakiku pun berhenti di Birkenstrasse. Saat aku sejenak memejamkan mata, aku tahu di belakangku adalah satu tahun yang luar biasa. Sementara di depan ada episode lain yang menunggu. Sementara tepat di tempat aku berdiri, hati dan jiwa ku mulai menulis catatan.

Catatan indah mengenai persahabatan dengan manusia-manusia luar biasa. Catatan seru menjelajah bumi Sang Khalik. Catatan cinta, tawa dan air mata. Catatan tentang segala rencana. Dan betapa diri ini tidak pernah bisa sempurna. Namun pada akhirnya aku mencoba memahami ini semua sebagai pelajaran untuk kami mensyukuri dan memaknai hidup.

Aaah..... sungguh kami masih lemah ya Allah. Jadikan kami orang yang pandai bersabar dan bersyukur. Daratkan kami di tempat yang Engkau ridhoi, karena Engkau lah tujuan akhir kami. Jadikan semua pengalaman ini menjadi energi bagi kami untuk melanjutkan hidup kami, berlari dan berlari lagi, kapan pun, kemana pun, di planet ini untuk meraih diri-Mu.

Saat aku membuka mata......... sang matahari pun lembut menyapa lewat sinarnya yang hangat. Fay, ini adalah waktunya untuk pulang.......

Berlin, 15.11.2009

In The Past Three Years

Wow! Saya nggak tahu harus mulai dari mana. Kegiatan nge-blog tiba-tiba berhenti 3 tahun silam di Jerman ketika saya larut kegiatan belajar bahasa Jerman di Hartnackschule, Berlin. Tiba-tiba, wussh! Waktu berlalu 3 tahun kemudian.

Saya harus menebus dosa ini, tapi pelan-pelan. Dalam 3 tahun terakhir, ada banyak kisah yang tercecer dan harus dikumpulkan lagi dari berbagai sumber. Entah dari Facebook, atau kisah-kisah yang justru malah saya beritakan di detikcom, tapi lupa saya masukan ke blog.

Garis besarnya begini, saya menjalani hidup di Jerman tepatnya 11 bulan 2 minggu. Sempat backpacker ke Belgia, Belanda, Prancis, Italia, Swiss, Austria, Swedia, Denmark dan tentu saja Jerman.

Saya kembali ke Indonesia pada akhir 2009 dan didapuk menjadi Wakil Redaktur Pelaksana detikNews sekaligus Kepala Biro Daerah. Ngurusin wartawan-wartawan yang lebih tua dari saya yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pada 23 Mei 2011, babak baru keluarga saya dimulai. Anak kedua kami lahir, Dzaky Ritter Ramadhanny. It was so great karena kami memang mendamba seorang putra.

Hal ketiga yang terpenting dalam 3 tahun terakhir ini adalah detikTravel. Sebuah kanal berita muda belia yang diserahkan nasibnya ke tangan saya.

I promise, I will give you the highlight later on............

O My God, Where Have I Been?

"Tulis di blog dong....," kata Mas Gol A Gong dalam sebuah obrolan di tepi Danau UI, sore itu.

"Saya punya 2 blog dan nggak keurus, Mas," jawab saya.

"Mulai dong 5W 1H aja," kata Mas Gong sembari menandatangani aneka buku penggemar.

"Hasrat menulisnya tersalurkan dengan bikin berita, Mas," si tolol ini mencoba membela diri.

"Nggak usah dipikirin, udah nulis aja di blog," sambar Mas Gong lagi.

Di kepala saya, kata-kata itu berbunyi "Udah nulis aja (LAGI) di blog", dengan kata LAGI huruf besar, bold, italic, underlined. Rasanya seperti sebuah tamparan...

Beberapa waktu kemudian, saya berada di depan laptop menatap faya-thinkbig.blogspot.com dan fayathinkbig.blogdetik.com yang terbengkalai hampir 3 tahun. Mereka berdua seperti buku usang berdebu di pojok gudang tak terurus. Saya merasa bersalah.

Dalam 3 tahun banyak hal yang terjadi dalam hidup seorang Fitraya Ramadhanny. Post terakhir saya adalah 24 Agustus 2009, separuh cerita backpacker kami di Belgia. Tuntas saya beritakan untuk detikcom, tapi tak pernah tuntas saya ceritakan di Blog.

Tapi izinkan saya membela diri, sekembalinya dari Jerman, saya didapuk menjadi Wakil Redaktur Pelaksana detikNews sekaligus Kepala Biro Daerah. Jabatan sibuk yang membuat saya nggak bisa nge-blog di kantor. Pun rumah nun jauh di kampung Parung, Bogor belum tersentuh jaringan internet kabel. *alasan saja kau Faya!!!

Tapi detik ini, saya sudah punya internet kabel, pun posisi sudah menjadi Redaktur Pelaksana detikTravel, yang tiba-tiba kok rasanya leluasa ya mau nulis blog di kantor (dulu soalnya duduk depan wapimred dan pimred hehehehe, nggak berani). Tim saya di detikTravel, terutama Shafa dan Sastri kok kayanya enak banget nge-blog (dan tanpa minta izin Redpelnya, bahkan tidak untuk ucapan, "Mas beritanya udah naek, saya nge-blog dulu yaa. *jitak Shafa dan Sastri).

Tapi pada suatu malam beberapa hari lalu, saya dan Desti menemukan alasan paling kuat kenapa saya harus menghidupkan blog ini lagi: Blog adalah rekam jejak tumbuh kembang anak-anak kami!! Momen-momen yang tidak terulang dan berisiko hilang tanpa kenangan. Kami harus mencegah itu.

Cukup sudah saya tidak mau berpikir panjang lagi. faya-thinkbig.blogspot.com sudah menunggu saya  terlalu lama. Harus sekarang atau saya akan terus kehilangan kisah emas.

Dengan mengucap bismillah saat mentari separuh naik di hari pertama Ramadan (versi pemerintah), saya niatkan blog ini HIDUP kembali. Tanpa gunting pita, tanpa tabur bunga, cukup niat dan komitmen yang baru. Setelah ini mungkin saya merekapitulasi hidup 3 tahun dalam beberapa tulisan saja.

Saya tidak tahu dari mana harus memulai, tapi tulis sajalah. Nggak usah banyak dipikirin.
Mas Gong............. Makasih yaaaa........

Monday, August 24, 2009

Amsterdam: Melesatlah TGV!

Hari keempat liburan di Brussels, Senin 2 Maret. Kita mau mampir ke Amsterdam. Nanggung udah tinggal sedikit lagi. Lagian hari Senin, Teh Shanti harus kerja juga. Agar tidak mengganggu kita jalan-jalan sendiri aja.

Kita rencananya naek kereta Thalys, perusahaan patungan Belgia, Prancis, Jerman. Kita pesan tiket sebelum datang ke Brussels

Mesin dan gerbongnya diambil dari TGV Prancis, cuma dicat ulang. Yup, ini kereta peluru, man! Desti sih udah pernah naek kereta peluru Jerman. Tapi ini juga pengalaman pertama gue hihihi. Naeknya dari stasiun Bruxelles Midi.

Interiornya enak, nyaman, lega. Ada kompartemen barang. Keretanya punya Wifi buat yang mau internetan. Restorannya juga keren.

Waktu di dalam kota, kecepatannya sih biasa. Begitu udah di pinggir kota mulailah melesat. Wuusssh! Puncak kecepatan Thalys ini 300 km/jam. Pemandangan di luar kereta udah tinggal sekelebatan. Tapi suspensinya empuuuuk maknyuss. Goncangannya minim, masih lebih goyang Cirebon Ekspress.

Sayangnya, jalur Brussels-Amsterdam ini tidak terlalu kuat buat kereta peluru. Jadi kecepatannya ngga bisa sampai 300 km/jam. Sayang banget. Tapi enaknya, Zahra ngga bayar asal ngga ambil bangku. Tapi banyak bangku kosong juga kok, jadi Zahra duduk sendiri aja.

Soal harga tiket, di Eropa orang biasa berburu tiket 3 bulan sebelum berangkat. Bisa dapat harga murah banget, kalau udah deket hari baru mahal. Harga pembukaan Thalys ini cuma 19 Euro atau Rp 285 ribu. Bayangin, kereta peluru harganya sama kaya kereta Argo. 2,5 jam sampe deh kita di Amsterdam Centraal.

Brussels: Bertemu Tintin, Yeeaah!

Yang satu ini tokoh komik favorit gue. Tintin. Wartawan berjambul dari Belgia yang kesohor, hero-nya para wartawan. Jadi sesama kolega, haruslah gue mengunjungi beliau.

Kalau mau mencari Tintin di Brussels, kita pergi ke Centre Belge de la Bande Dessinée atau Belgian Comic Strip Center di Rue de Sables, Brussels. Sederhananya, ini adalah museum komik Brussel.

Semua tokoh komik Belgia ada di sini, dari Lucky Luke sampe Smurf. Wah gue paling seneng deh bisa dateng kesini. Padahal tempatnya ngga di pinggir jalan raya, tapi agak masuk ke dalem.

Kita kesini Minggu sore 1 Maret, setelah sebelumnya dari Grote Markt. Begitu sampe lobi utama, patung Tintin dan foto pengarangnya, Herge, sudah menyambut pengunjung bersama dengan roket Tintin untuk pergi ke Bulan.

Secara Tintin itu paling ngetop, dia punya kavling paling gede di lantai 3. Orang bisa melihat sejarah Tintin, dan kawan-kawan. Sampai ada replika benda-benda penting dalam komik Tintin. Misalnya saja ada Patung Kuping Belah, Tongkat Raja Ottokar dan Cerutu Sang Pharaoh.

Kita juga bisa berfoto dari balik lukisan kakek moyang Kapten Haddock. Yang unik, ubin pecah di tangga museum pun diberi tanda dengan gambar Kapten Haddock terpeleset. Gue bisa ngejelasin ke Zahra tentang Tintin.

"Zahra, dulu Nin Ratti suka bacain komik Tintin untuk Papa. Terus Papa udah gede jadi wartawan deh hehehe," Zahranya manggut-manggut.

Di museum ini, juga ada bioskopnya. Anak-anak bisa lihat film Smurf. Ada juga toko komik dan merchandise, tapi mahal banget bow! Tapi Alhamdulillah, kesampaian juga ketemu Tintin.

Brussels: Maneken Piss

Masih di hari ketiga di Brussels, Minggu 1 Maret. Salah satu tujuan utama kita di Brussels adalah harus bisa lihat Manneken Piss. Patung anak kecil pipis ini sudah sangat mendunia. Harus lah kita kesini.

Jadi setelah pagi kita ke Atomium, makan ayam di Hector, Teh Shanti anter kita ke Grote Markt, di kawasan kota tua Brussels. Sekalian beli batere. Tapi tempat patungnya Teh Shanti agak-agak lupa. Jadilah kita menyusuri jalan-jalan sempit di barat daya alun-alun Grote Markt. Jadi, jangan bayangkan ini adalah patung di tengah kolam air mancur yang luas.

Di pojok pertemuan jalan Rue de Chene dan Rue de l'Etuve ada sebuah kolam kecil. Di atasnya ada patung perunggu berbentuk anak kecil lagi pipis. Patungnya cuma setinggi 61 cm doang. Mungil bukan?

Kesan pertamanya.... Gini doang neh? Ya ampun, bener-bener imut banget, hehehe. Tapi walaupun kecil, banyak banget turis yang datang kesini. Mau foto aja mesti gantian. Jadilah kita nunggu turis laen dulu buat foto ama patung Manneken Pis.

Patung bocah pipis ini sejarahnya adalah karya Jerome Duquesnoy pada 1619. Ini untuk menggantikan patung aslinya dari batu yang sudah ada sejak 1388, namun hilang dicuri. Legendanya juga macem-macem.

Ada yang bilang patung ini adalah anak bangsawan yang hilang dan akhirnya ditemukan sedang pipis di sudut jalan. Ada juga legenda yang mengatakan ini adalah anak kecil yang mengencingi bahan peledak yang akan menghancurkan Brussel di abad 14. Kalau kata Ulrik, dia bilang dulu Raja Belgia membawa anak yang diminta pipis di depan Raja Prancis sebagai bentuk penolakan Belgia untuk berunding dengan Prancis.

Nah ternyata, Manneken Pis ini punya pasangan, namanya Jeanneke Pis. Patung perempuan pipis, tapi sebenernya dibikin untuk lucu-lucuan doang. Nyari patung ini lebih susah lagi. Di ujung gang buntu Fidelite dan harus ngelewatin resto yang pelayannya berebutan calon konsumen gitu.

Setelah lolos dari jerat para pelayan restoran, sampe deh kita ke depan patung anak perempuan berkepang pipis sambil jongkok. Ngga sopan banget pipisnya... Tapi suasananya kontras, Jeanneke Pis mah sepi, ngga banyak turis yang tahu.

Oh iya, satu lagi. Sebelah Manneken Pis ada toko wafel Belgia. Besonders lecker!

Friday, August 14, 2009

Brussels: Atomium yang Futuritis

Di hari ketiga di Brussels, Minggu 1 Maret, kita pengen jalan agak jauh. Jadi Teh Shanti bawa kita ke pinggir kota buat liat Menara Atomium yang unik. Pagi ini juga terasa hangat, enak buat jalan-jalan.

Mama waktu seumuran gue, pernah kesini waktu kuliah di Prancis. Atomium itu ada di luar kota, tepatnya di kawasan Heysel Park, arena pekan raya semacam PRJ di Kemayoran.

Begitu keluar stasiun menaranya udah keliatan. 9 Bola baja raksasa disusun membentuk struktur inti sebuah kristal. Futuristis banget. Menara Atomium menjadi salah satu ikon Brussels, selain Manneken Piss.


Atomium itu ternyata kenang-kenangan Pekan Raya Brussel Expo 1958. Andre Waterkeyn merancang menara Atomium karena pada masa itu teknologi atom dianggap sebagai teknologi yang paling mumpuni.
Yang keren adalah, semua bola raksasa ini bisa tegak berdiri hanya bertumpu pada satu bola utama saja ditambah 3 tiang penunjang.

Kita mesti jalan 500 meter dari stasiun ke Atomium. Tapi dari jauh aja boleh metalnya udah berkilauan. Jadilah kita foto-foto depan Atomium dari kejauhan. Maklum, Atomium tingginya 102 meter, bola raksasanya berdiameter 18 meter. Lumayan terlihat dari jauh.

Lagi enak-enak berfoto, eh mulai deh bencana. Batere kamera habis dan gue ngga punya cadangan. Ya udah deh pinjem kamera Teh Shanti, tapi jadi ngga foto-foto.
Kita juga ngga masuk ke dalam soalnya bayar hehe. Kita kan turis paket serba hemat.

Di dekat Atomium juga ada Mini Europa, miniatur bangunan di Eropa. Sayangnya baru buka lagi menjelang musim panas. Ya sudahlah kita menuju tujuan jalan-jalan selanjutnya. Dan teuteup, makan siang di Hector.

Brussels: Wow! Serunya Parade Komik

Setelah puas di Jubel Parc, Teh Shanti ngajak kita makan ayam goreng Hector di daerah Plas de Broukere. Tanpa kita tahu sebuah kejutan besar menanti kita.

P
as sampai sana, kok jalanan di blokir seperti mau ada parade. Bertebaran spanduk "BD Comic Strip Brussels 2009". Oalah rupanya Sabtu 28 Februari alias hari ini, ada parade tokoh komik tahunan yang terkenal di Brussels!

Belgia kan memang terkenal dengan berbagai komiknya yang mendunia mulai dari Tintin sampai Smurf. Dan waktunya jam 14.00. Masih cukup waktu buat mengisi perut. Perut kenyang, kita segera bersiap di pinggir jalan, bersama ribuan orang Brussels lainnya.

Jam 14.00 parade pun dimulai. Balon pertama yang lewat adalah Manneken Piss, anak kecil pipis yang menjadi maskot Brussel. Setiap balon tingginya 10-20 meter tergantung karakter komiknya. Semua orang tepuk tangan. Apalagi mereka yang membawa anak-anak, mata mereka berbinar melihat balon-balon berukuran super besar. Zahra udah amaze banget lihat balon raksasa gitu.

Menyusul di belakang Manneken Piss ada beraneka karakter tokoh komik lain seperti Cat in the Hat, Spirou dan Fantasio, serta Dalton bersaudara yang menjadi musuh koboi Lucky Luke.


Yang datang agak belakang adalah keluarga Smurf, liliput lucu karya kartunis Peyo. Yang pertama tentu saja Papa Smurf. Dengan brewok putih dan topi
merah, Smurf yang berkulit biru ini melayang di antara gedung-gedung. Di belakang Papa Smurf, tentu saja Smurf muda yang bertopi putih.

Cuma sayang banget, ngga ada Tintin dalam arak-arakan. Wartawan berjambul ini kan karakter komik Belgia yang paling mendunia. Tapi ngga apa-apa deh, ini pengalaman pertama kita melihat parade balon helium. Di Indonesia ngga ada hehehe. Kita pun menghabiskan sore dengan melihat Istana Raja Belgia. Ini foto Zahra lagi gaya di depan Istana Raja Belgia.

Kalo yang bawah video sekilas suasana parade. Enjoy! Pertama kali coba uplod viedo nih. Berat juga...

Thursday, August 13, 2009

Brussels: Jubel Park

Maaf, lama banget ngga nge-blog. Aktifitas datang silih berganti (bilang aja kursus tiap hari selama 6 bulan hehe). Nyambung waktu liburan ke Brussels hari kedua nih, Sabtu 28 Februari.

Kita bilang ama Teh Shanti mau keliling Brussels lihat taman kota dsb. Teh Shanti bawa kita ke monumen nasionalnya Brussels. Kalau Jakarta punya Monas, Belgia punya
Arcade du Cinquantenaire di taman Parc du Cinquantenaire atau disebut juga Jubelpark.

Ceritanya ini monumen untuk perayaan 50 tahun kemerdekaan Kerajaan Belgia dari Prancis. Bentuknya gerbang bergaya neo klasik.
2 bangunan di sampingnya jadi museum gitu. Di awal Maret gini hawanya enak banget, pas lagi ada matahari musim semi, rumput-rumput keliatan hijau segar, pepohonan juga mulai bertunas.

Zahra seneng banget bisa lari-larian di tempat luas bgt. Buat gue dan Desti yang asyik itu ada orang jualan Wafel, pancake khas Belgia pake mobil van gitu. Gila rasanya enaaaaak banget. Seru deh, pagi-pagi sejuk, menikmati matahari pagi sambil makan wafel panas. Yang jelek cuma coret-coret Neo Nazi di pojok taman ngejekin orang Pakistan. Tapi overall ini keren banget.

Puas di taman kita nyeberang jalan sedikit dan jalan satu blok. Di situ ada gedung gede banget seberang-seberangan. Itulah gedung Parlemen Eropa. Mmmm, tapi kalau kata gue sih kurang megah untuk sebuah gedung DPR se-Uni Eropa. Tapi di Berlin juga ada gedung Komisi Eropa juga gitu doang sih bentuknya, kecil.

Nggak kerasa lapar karena udah siang, kita pengen cari makan dong. Teh Shanti ngajakin kita ke Hector, ayam goreng paling enak di Brussel. Tapi ada kejutan lain menunggu kita. Mau tahu? Tunggu di tulisan sambungannya...