Thursday, March 6, 2008

Hongkong: Pengap.....

Selasa, 14 Agustus 2007, hari keempat gue ada di Hongkong. Suasananya selalu sama setiap pagi. Hiruk pikuk manusia bergegas dalam hujan rintik-rintik.

Dari Paterson Street, Causeway Bay, dan sebenarnya sama dimanapun di Pulau Hongkong, gue setiap kali mendongak ke atas melihat gedung puluhan lantai dalam jarak yang amat dekat satu sama lain.

Hawa Hongkong buat gue jauh dari segar. Lembab itu sudah pasti. Tapi yang paling nggak enak, pengap....... Nafas aja berat. Gerah minta ampun padahal hujan.

Kenapa ya? Lagi-lagi gue nanyanya orang Konjen RI Pak Nugie. Jawabannya dahsyat.

"Gedungnya kan tinggi-tinggi tuh apartemen semua. Nah semua orang Hongkong pasang AC, exhaustnya ngarah ke jalan......" kata dia.

Ya iyalah gerahnya setengah mampus. Ada dinding puluhan meter dan saling berhadapan sangat dekat dan semua masang exhaust AC.

Dan gue pun melongok lagi ke arah langit, AC berbagai model nangkring di semua jendela warga Hongkong. Ratusan, bahkan ribuan. Semua berbarengan menghembuskan angin panas ke jalanan......... Uugggggggggghhhhh!

Monday, March 3, 2008

Hongkong: Drama-drama Jendela

Pulang dari Restoran Jin Yuen, Hongkong, Senin (13/8/2007), kami tidak langsung tidur. Beres-beres buat persiapan liputan besok. Guest house yang kami sewa itu ada 4 kamar tidur. Gue sekamar dengan Mas Rachmat dari Republika.

Gue pilih tempat tidur dekat jendela. Pemandangannya lumayan serem buat yang takut ketinggian. Gue ada di lantai 14 dari deretan rapat apartemen di Paterson Street, Causeway Bay, Hongkong.

Dari jendela kamar gue ada ratusan jendela yang bisa gue lihat. Apartemen di Hongkong bisa menjulang belasan lantai dengan jarak yang rapat-rapat. Dari sejak awal gue nyampe di Hongkong, gue paling suka lihat-lihat pemandangan dari jendela. Bukan ngintip lho... Tapi gue seolah melihat ratusan drama dari setiap jendela.

Apalagi kalau sudah malam, dimana para warga Hongkong kembali ke rumah mereka. Ada keluarga yang berkumpul menikmati makan malam penuh dengan gelak tawa. Ada juga sepasang manula yang sepertinya hanya hidup berdua.

Ada pemuda yang asyik dalam gelap. Satu-satunya cahaya adalah layar komputer yang menyorot wajahnya. Mungkin dari orang ini gue dapat tebengan hotspot hehehehe. Nggak tahu deh lagi lihat apaan.

Ada juga keluarga yang modelnya menikmati tontonan TV menjelang tidur, lalu satu persatu anak mereka pamit tidur. Ortunya juga ngantuk, lalu terakhir seluruh lampu apartemen itu gelap. Tapi ada juga yang baru datang ke rumah langsung tutup tirai, penuh rahasia hehehe.

Setiap jendela punya cerita sendiri..... Cerita keseharian warga Hongkong yang apa adanya....

Hongkong: Bebek Peking? Mmm.. Crunchy

Liputan soal profil Wiwik Lo TKI sukses makan waktu juga. Teman RCTI bikin rekaman juga sih, jadinya lebih makan waktu, setting adegan dll. Nggak kerasa, hari mulai gelap saat liputan selesai.

Udah gitu, kita nggak langsung pulang. Pasangan David dan Wiwik Lo mau mentraktir kita Bebek Peking. Bebek Peking adalah makanan oriental yang tersohor. Seperti apa sih rasanya? Jadi penasaran.

Pada Senin (13/8/2007) malam, kami mendatangi Jin Yuen Restaurant di samping City Garden, North Point Hong Kong. Restoran yang lebih elit dari dari restoran Spicy Crab di Wan Chai. Kami makan bersama dengan David dan Wiwik Lo, bekas TKW yang kini sukses berbisnis di Hongkong, serta staf Konjen RI.

Dengan pelayan berjas, restoran bernuansa warna merah ini berukuran besar dengan belasan meja, atau meja-meja privat yang dilengkapi televisi. Kami berdelapan termasuk staf Konjen RI Viktor memilih satu meja agak depan.

Seafood memang bukan menu utama di sini, melainkan unggas. Meski demikian, restoran ini menyediakan banyak pilihan termasuk seafood segar juga.

Kami memilih makanan yang bukan seafood, setidaknya seafood yang belum kami coba di Spicy Crab. David dan Wiwik Lo yang memiliki perusahaan jasa paket khusus TKI ini, sepertinya memang hobi makan. 8 Menu pun dipilihkan untuk kami.

Kami memesan Peking Duck with Lemon Sauce (bebek panggang), Roasted Pigeon (burung dara bakar), Baked Crispy Chicken (ayam panggang), Steam Prawn (udang rebus), Dried Fried Squid With Chili and Salt (cumi goreng tepung), Garoupa with Pickle Sauce (ikan kerapu), cah kangkung, dan bubur kacang hijau dan kacang merah.

Makan malam dimulai dengan udang rebus segar yang ditemani kecap asin. Udang ini benar-benar hanya direbus tanpa bumbu dan baru mendapat rasa dari kecap asinnya, daging udangnya terasa sangat segar.

Kemudian datanglah burung dara bakar yang ternyata dagingnya sangat lembut. "Wah di Indonesia dagingnya liat," ujar kawan wartawan yang memang gemar burung dara. Ayam panggangnya pun bercita rasa sama.

Belum kami tuntas dengan burung dara, cumi goreng tepung sudah datang. Kecap dan irisan cabe atau garam, menjadi pilihan bumbu pelengkapnya. Rasanya sungguh renyah. Kalau cah kangkung mirip-miriplah dengan yang biasa kita dapatkan di Indonesia.

Akhinya yang ditunggu-tunggu datang. Pelayan restoran membawa meja dorong dengan bebek panggang tersaji matang. Warna coklat keemasan sungguh mengundang selera.

Bebek peking panggang dimakan kulitnya karena renyah. Sang pelayan mengiris kulitnya dengan cekatan dan menyajikannya dengan kulit lumpia basah bertabur wijen.

Irisan kulit bebek dioleskan ke saus tiram, ditemani potongan panjang ketimun dan lalu dibungkus kulit lumpia. Mmmmmm.... maknyussss! Lidah kami pun bergoyang.

Bebek yang sudah dikuliti kemudian dipotong-potong, lantas dimasak lagi dengan sup berkuah kaldu dan ditemani sayur bhok coy. Sup panas ini sungguh gurih, apalagi jika Anda memang pencinta sayur kerabat cay sim ini.

Menjelang perut kenyang, ternyata masih ada lagi ikan kerapu yang direbus dan disajikan dengan kecap asin. Ikan ini hanya dimasak sesaat agar dagingnya tidak menggumpal. Kerapu di Hong Kong dan banyak makanan laut lain, ternyata diimpor dari Indonesia.

"Kepala dan buntutnya harus dihabiskan, ini kebiasaan di sini," ujar Wiwik Lo memaksa kami mengisi ruang perut yang hampir tidak tersisa.

Hidangan penutup pun akhirnya disajikan. Bubur kacang hijau dan kacang merah. Saya pilih kacang merah, karena kacang hijau sudah biasa saya makan. Saya tadi membayangkan kacang merah berukuran besar. Namun ternyata ukurannya seperti kacang hijau, namun warnanya merah dan rasanya sama.

Kami pun meninggalkan Jin Yuen Restaurant dengan perut kenyang dan lidah yang dimanjakan. Nikmat renyahnya kulit bebek peking terus terbayang hingga kami kembali ke Causeway Bay.

Hongkong: TKI Juga Bisa Jadi Bos

Selesai liputan soal aktivitas Konjen RI Hongkong, agenda sore adalah membuat profil TKI sukses. "Ada loh, TKI jadi bos...," pernyataan itu menggelitik kuping kami. Jadilah kami sore itu diantar ke North Point. Hasil tulisannya ini nih:

Nasib TKI tidak selamanya berada di bawah. Di North Point, Hong Kong, ada TKW yang menjadi bos jasa pengiriman paket.

Wiwik Nurbaiti Lo (34) adalah pemilik perusahaan paket JIL yang melayani jasa pengiriman paket untuk TKI. Kantornya di City Garden Shopping Centre, North Point, Hongkong selalu kebanjiran TKI terutama di akhir pekan.

Namun kesuksesan ini bukan diraih dalam semalam. Wiwik merintis bisnis paket dari nol dan harus menelan banyak pil pahit pada tahun-tahun pertama.

Di sela-sela kesibukannya Senin (13/8/2007), Wiwik menyempatkan memenuhi permintaan detikcom dan dua media lain dari Indonesia untuk menceritakan pengalamannya. Semua dimulai di Blitar tahun 1992. Wiwik yang baru lulus SMA memutuskan untuk mengadu nasib di Hongkong sebagai TKI pada usia 19 tahun.

Di Hongkong, dia bertemu pria bernama David Lo yang masih merupakan kerabat majikannya. Ternyata Wiwik mengenal David yang pernah beberapa kali ke Blitar untuk berbisnis.

Keduanya pun jatuh cinta dan menikah dua tahun kemudian pada 1994. Karena menikahi pria Hongkong, Wiwik mendapatkan status residen. Gelombang TKI pun mulai mengalir ke Hongkong dan David melihat peluang bisnis jasa pengiriman paket.

Wiwik yang mengenal dunia TKI sangat membantu David merintis bisnisnya. Sebaliknya Wiwik berguru kepada David. "Apa yang dia ajarkan saya teruskan, modifikasi dan perbaiki," kata Wiwik.

Tahun-tahun awal bisnisnya sangatlah sulit. Apalagi menjadi jasa khusus TKI. Jangankan rekanan di Indonesia, TKI pun tega menipunya. "Barang kiriman saya ada yang dihilangkan rekanan. TKI pun tega menipu saya, berpura-pura barangnya hilang dan menuntut ganti rugi," kenangnya.

Pengalaman ini tidak membuat Wiwik dan suaminya surut. Berbagai kesalahan dijadikan Wiwik sebagai masukan untuk kemudian menyusun standar operasi. JIL kini memastikan keselamatan barang dengan bukti kuitansi, tanda tangan dan bukti identitas penerima, sampai bukti foto kalau barang sampai dengan selamat. Sopir pengantar pun diharamkan menerima uang tips.

"Kalau ada TKI yang coba bohong, saya sudah punya buktinya. Kalau masih ngotot, saya panggil polisi," tegasnya.

Dari toko berukuran 10x15 meter, Wiwik kini menyewa hampir 2 lantai gedung yang sama (sumpah tokonya gede banget). 6 Pegawai kini berkembang lebih dari 120 orang termasuk di Indonesia.

8 Mobil boks yang disewa dari orang lain kini menjadi 23 truk dan mobil boks di Hongkong dan Indonesia. Wiwik bahkan mengembangkan bisnis warnet, mini market, tempat karaoke, jasa paspor dan kredit elektronik dan motor Cina. Pada Juli 2007 saja, Wiwik mengirimkan 19 kontainer paket ke seluruh wilayah Indonesia.

"Buat saya yang penting adalah menjaga kepercayaan. Kita harus berani bertanggung jawab kalau mau sukses. Mending hilang uang daripada dapat nama jelek, Mas," kata dia.

Hongkong: Hiruk Pikuk Pengurusan Paspor

Hari kerja di Konsulat Jenderal (Konjen) RI di Hongkong adalah hiruk pikuknya pelayanan keimigrasian. Dengan kantor yang berdiri menjulang 21 lantai, Konjen RI harus melayani 110 ribu TKI di Hongkong.

"Konjen RI setiap harinya mengurus 150 paspor. Proses pengurusan paspor diselesaikan dalam 10 hari kerja," ujar Konsul Imigrasi Konjen RI Djoni Muhammad di kantornya di Leighton Road No 127-129, Causeway Bay, Hongkong, Senin (13/8/2007).

Para TKI datang pagi hari pukul 09.30 untuk menyerahkan berkas berupa paspor lama, KTP Hongkong, slip pembayaran dari bank dan kontrak kerja. Penyerahan berkas dilakukan hingga pukul 12.30 waktu setempat.

Para TKI akan menerima tanda bukti permohonan sekaligus pemberitahuan tanggal pengambilan paspor 10 hari kemudian. Pada hari yang ditentukan, mereka akan kembali ke Konjen.

Waktu pengambilan paspor adalah pukul 14.30-16.30. Namun seringya mereka sudah antre menunggu sebelum loket dibuka. Begitu dibuka, mereka pun membanjir masuk.

Agar tertib, mereka diminta mengambil nomor panggil. Sambil menunggu panggilan, mereka asyik mengobrol dengan teman-temannya.

Jika nomor dipanggil, mereka mengambil paspor baru dan kemudian pulang. Biasanya memang tidak berlama-lama, karena pada hari kerja sebenarnya mereka memanfaatkan sedikit waktu dari padatnya tugas membersihkan rumah.

Tidak hanya jasa paspor, Konjen pun mengurusi permohonan visa bagi warga Hong Kong yang ingin berkunjung ke Indonesia. Para agen TKI pun berurusan dengan konjen, inilah tugas Konsul Konsuler. "Kami menjalankan fungsi pelayanan, perlindungan, dan pembinaan TKI," ujar Konsul Konsuler Konjen RI Ayodhia Kalake.

Menurut pria yang akrab dipanggil Odhie ini, proses pengiriman TKI dimulai dari job order atau perjanjian antar agen pemilik lisensi Konjen RI dan Depnaker Hongkong dan PJTKI pemilik surat izin pengiriman TKI. Agen lalu menawarkan data TKI ke calon majikan.

Jika majikan berminat, dibuatlah kontrak kerja yang harus dilegalisir KJRI lalu dikirim ke Indonesia. Kantor imigrasi Hongkong kemudian memverifikasi apakah sang majikan layak menerima TKI atau tidak.

Mereka akan memerika penghasilan si majikan dan kondisi rumah mereka. Jika Kantor imigrasi Hongkong memberikan lampu hijau, visa pun dikirimkan ke Indoensia dan TKI pun berangkat ke Hongkong.

"Total kebutuhan pembantu di rumah tangga di Hongkong adalah 250 ribu orang. Pada Juli 2007 sudah ada 239.470 pembantu. 110.510 di antaranya dari Indonesia," pungkas Odhie.

Hongkong: Rain....

Selesai liputan lomba 17 Agustus di Victoria Park, gue pulang dengan sepatu berlumpur. Jadilah malam itu gue nyuci sepatu.

Sambil kirim-kirim berita lewat email. Gue nyuri hotspot entah punya siapa hehehe, ke-detect ama laptop gue.

Pagi harinya alias Senin (13/8/2007), cuacanya hujan sejak awal pagi. Padahal agenda kita lumayan padat. Kita mau ke kantor Konjen RI melihat suasana pengurusan paspor oleh para TKI.

Jadilah kita berpayung menuju lokasi yang hanya beberapa blok. Suasananya gitu deh, hujan dan semua orang berpayung.

Pak Nugie, orang Konjen bilang, setelah topan, pasti hujan 2-3 hari. Dan kemarin ada Topan Pabuk, jadi mungkin kita masih akan berhujan-hujan sampai besok atau lusa.

Wednesday, February 13, 2008

Song In My Ears

Pulang liputan, hampir selalu melelahkan. Dari Istana Negara, masih ada 50 km perjalanan menuju rumah gue yang nyaman di Parung. Ngantuk, stress, macet, hujan bisa membuat perjalanan tidak nyaman.

Tapi buat itu mah, gue punya solusinya. Dengerin musik aja.....

Creative Divicam gue masih punya 1 fungsi terakhir, setelah baterenya bocor dan kualitas gambarnya ketinggalan zaman dibanding Nokia E61i yang gue pegang sekarang. MP3-nya masih OK...

Mendengarkan musik sambil pulang ke rumah sungguh menyenangkan buat gue. Bawa motor jadi santai, tetap fokus dan rileks. Walaupun sebenernya, semua orang pada kebut-kebutan, salip-salipan dll. I'm stay focused... and saved.

Lagu-lagunya ga ada preferensi khusus, pokoknya harus membuat mood tenang. Lagu baru atau lama sama aja buat gue. Lagu KKEB Andre Hehanusa wajib ada walaupun agak jadul, tapi gue punya juga Kisah Tak Sempurna - Samsons.

Biar semangat ada Fighting Spirit - OST Naruto ato Sweet Child of Mine - Guns n Roses. Atau yang bertema kangen seperti Kangen - Dewa (versi Once) atau Perjalanan Ini - Padi. Jazz ada Dave Kozz ama Jamie Cullum, penyanyi cewek ada The Corrs ama Alanis Morisete, campur-campur aja. Bosen tinggal ganti pake lagu baru.

Ga masalah sambil naik motor. Earphonenya panjang, Creative-nya gue taro di tas. Volumenya maksimal untuk melawan bising jalanan. Dan gue melaju pulang dengan lagu-lagu di telinga....

Turning Point

Selasa 29 Januari 2008, siang. Gue lagi izin recovery badan gue. Liputan Soeharto sungguh menguras tenaga. Lagi tidur, tahu-tahu DAAD Jakarta nelepon. Desti diterima beasiswanya ke FHW Berlin. Akhir minggunya Desti langsung pulang dari Korea.

Sementara dari Cirebon, Teteh Fanny ngasih kabar sudah punya tanggal lamaran dengan pujaan hatinya Arri.

Gue merasa kita semua sekarang sudah menjelang babak baru dalam hidup kami. Sebuah titik balik....

Hampir 9 tahun lalu kami semua jatuh, saat tahu papa punya selingkuhan dan ujungnya mama diceraikan papa. Tapi kami sadar, kami tidak bisa selamanya terpuruk. Kami harus bangkit, dengan atau tanpa bantuan papa. Kami harus melakukan yang terbaik demi kebaikan satu sama lain.

Tahun-tahun berlalu dalam gemblengan Allah yang sungguh mendewasakan kami. Lalu kami mendambakan 'hijrah'. Hijrah buat gue, Desti dan Zahra adalah kuliah S2 ke luar negeri. Hijrah buat teteh adalah menikah. Hijrah buat mama adalah pindah rumah ke kota kelahirannya Bogor.

Titik hijrah keluarga gue dan teteh sudah di depan mata, mama mungkin masih punya cerita yang belum selesai dari Allah. Gue sungguh berharap akan babak-babak baru dalam kehidupan kami semua.

Mudahkanlah, ya Rabb.....

UPDATED 22 November 2008:
Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan doa kami. Engkau telah mengumpulkan kami semua di Berlin. Aku, istri dan dan anakku. Jadikan kami orang-orang pandai bersabar dan bersyukur. Dua aturan sederhana untuk hidup yang orang sering lupa.

Monday, January 28, 2008

Antara Hillary, Obama dan Hegemoni Itu

Proses Pemilu AS 2008 dipotret dunia kecuali AS sendiri, sebagai pemilunya Partai Demokrat. Semua tingkah polah dua kandidat utamanya Hillary Clinton dan Barack Obama, adalah berita.

Jago-jago kubu Republik tidak punya gaung di luar Negeri Paman Sam itu. Mitt Romney? John MacCain? Dunia seolah tidak perlu mengetahui mereka. Pemilu AS 2008 seolah bukan menjadi pemilu Partai Republik. Setidaknya bukan untuk George W Bush yang sudah tidak bisa maju lagi.

Publik memang sudah bosan dengan Bush, dan ini berdampak serius untuk Partai Republik. Jagonya pasti kandidat-kandidat baru, tapi rohnya tetap sama. Elang-elang neo konservatif pada dasarnya masih menjadi motor di Republik.

Isu perang Irak adalah pertaruhan gengsi dan kepentingan modal. Sebuah resiko dalam bisnis dan prajurit-prajurit adalah alat produksi yang bisa dibelanjakan dan dihabiskan, sampai tujuan ekonomi di Irak bisa diraih. Jalan untuk berbagai gurita MNC yang sahamnya dibagi rata di antara elang-elang ini.

Maka, Hillary dan Obama sungguh tampil sebagai pemimpin alternatif. Mereka akan menadi presiden perempuan pertama atau kulit hitam pertama. Keberadaan mereka yang menjadi favorit pada esensinya adalah penantang sejati tradisi politik AS yang diimani kelompok neo konservatif: The White Anglo Saxon Protestant (and male).

Pemilu AS 2008 memiliki daya tarik tersendiri. Dunia menunggu, akankah tradisi ini berhasil didobrak? Akankah demokrasi di AS tidak sekadar empty signifier yang pemaknaannya dihegemoni sepihak oleh kubu konservatif?

Saya juga menunggu........ Kemenangan Hillary atau Obama, keduanya akan mengukir sejarah. Sejarah yang harus dicegah mati-matian oleh Republikan.

Sunday, January 27, 2008

So Long.......... Old Man!

Jumpa pers Presiden SBY soal kenaikan harga pangan, pada Minggu sore itu berakhir agak ganjil. Tanpa tanya jawab dan Kepala BIN Syamsir Siregar merapat ke RI 1. Lalu SBY menunjuk kami-kami ini para wartawan.

"Wartawan jangan kemana-mana," kata SBY sebelum menghilang berdua dengan Jusuf Kalla. Kondisi Soeharto yang super kritis sepanjang pagi pastilah menjadi sebabnya. Puluhan wartawan serentak mengangkat ponsel termasuk gue untuk mencari tahu kabar dari RSPP.

Dari ujung telepon temen gue Arry Anggadha menyahut, orang kuat Orde Baru ini lewat............

Hilang sudah kesempatan menuntut hari libur gue hari itu. Per detik momen yang berlalu sungguh berarti. SBY mengucap belasungkawa, ada doa, bendera setengah tiang, hari berkabung nasional. Dari Cendana ribuan orang membanjir, wartawan, pelayat, polisi, tentara, ormas, warga setempat.

Sejarah sedang ditulis sang zaman. Apa yang terjadi hari ini dan beberapa hari mendatang akan diingat semua orang. Sang Patron telah mangkat. Yang sedih banyak, tapi yang gembira juga tidak kalah banyak.....

Kalau gue? Gue ingin duduk manis dengan segelas teh manis panas dan menunggu. Menunggu kemana Allah akan membawa drama ini. Kemana Keluarga Cendana dan kroni akan mencari naungan... Kemana mereka akan sembunyi dari senyum jahil Jaksa Agung Hendarman Supanji dengan surat tagihan perdata Rp 4 triliun. Kemana kisah anak-anak Soeharto berlanjut, Tommy, Bambang, Tutut, Titiek, Mamiek, Sigit.....

So long..... old man! Tapi buat gue ini baru prolognya....