Friday, November 21, 2008

The First Snow

Jumat, 21 November 2008, menjadi suatu hari yang istimewa. Ketika di pagi hari sambil gue belajar masak opor ayam....... salju turun.....

Zahra pun sangat-sangat-sangat excited. Dengan mata yang berbinar menatap jendela melihat bunga-bunga es berguguran. Melayang pelan sambil bercampur dengan hujan gerimis yang memang sudah turun sejak subuh.

Salju turun cuma setengah jam. Rupanya, sang awan masih belajar bikin salju tahun ini. Padahal dengan global warming, gue pikir ngga akan lihat salju di Berlin, kudu ke Swiss hehe. Tapi dari situs cuaca Jerman 'Wetter.de' suhu hari ini cuma mentok 3 derajat Celcius, dan nanti malem 0 derajat. Brrrrrrrrr!

Balik salat Jumat, jam 4-an menjelang magrib, salju turun lagi. Lebih banyak dari pada tadi pagi. Gue buka jendela apartemen karena Zahra penasaran mau megang salju. Gue yang menjulurkan tangan jauh jauh ke luar jendela.

"Mana Pah saljunya?" seru Zahra girang melihat bunga es yang mendarat di telapak tangan gue dan dengan cepat mencair.

Ini juga pertama kali gue lihat salju (ndeso mode ON). Secara setahun di Australia, gue tinggal di Rockhampton yang sama panasnya kaya di NTT. Desti waktu di Korea malah udah duluan maen salju .

Yang jelas, tadi pagi gue, Desti dan Zahra di ruang makan bisa menikmati salju yang turun di luar jendela. Hadiah yang romantis dari Allah di hari ulang tahun pernikahan kita yang keempat......

Friday, November 7, 2008

Ersten Wochen

Minggu-minggu pertama kami (gue dan Zahra) di Berlin adalah......adaptasi. Melanjutkan hidup dan kembali mengejar mimpi-mimpi.

Tapi hari-hari pertama jelas milik Zahra, yang kembali utuh mendapatkan kedua orang tuanya. Dia bahagia banget, dan kebahagiaannya jadi semangat buat kami.

Kita tinggal di Sparrstrasse 27, Wedding, Berlin, di sebuah wohnung (apartemen) di lantai 4 dari total 5 lantai. Di depannya ada taman dan lapangan bola. Tentu saja di tengah musim gugur, semuanya daun serba merah dan kuning. Favorit Zahra duduk di bingkai jendela besar (yang dikunci sangat-sangat rapat dan aman). Soalnya dia bisa lihat taman di depan wohnung.


Akhirnya pas hari libur, Desti bisa ngajak kita keliling rumah. Kita punya trolly baru lungsuran Teh Fifi dan Kang Dany. Makasih ya........ Di Jerman ngga ada ceritanya anak kecil digendong hehehe. Semua naek kereta roda walau udah 5 tahun. So... jadilah kita bisa melakukan aktivitas favorit kita.....ke pasar. Walau pasarnya lebih seperti toko, tepatnya Toko Turki gitu. Cuaca dingin juga ngga masalah lah.




Jalan-jalan kurang pas kalo ngga jajan. Tapi yang murmer aja, kaya pfankuchen ini. 2 Euro dapat 5 biji, dan rasanya jauh lebih enak dari Dunkin Donuts. Aduuuuuuh Jerman itu, toko-toko rotinya semua mengeluarkan aroma yang bikin ngiler..............

Komunikasi dengan Indonesia juga ngga masalah. Di hari terakhir di Indonesia masih sempat ngajarin mama chatting pake Yahoo Massenger. Jadi neneknya Zahra ini tinggal kirim sms kapan mau chatting terus kita online bareng. Paling yang punya warnet bingung liat ada ibu-ibu nyelip di antara anak-anak yang lagi ngenet ato maen game online hehehe.


Coba lihat gaya Zahra lagi VOIP ama neneknya hehehehe keren..........

Willkommen...

3 minggu sudah kami reuni di Berlin. Kalau mengingat perjalanannya, gampang-gampang susah. Soalnya gue sendirian bawa Zahra yang baru 2 tahun 9 bulan. Kita berangkat 19 Oktober 2008 jam 23.35 nyaris tengah malam pake Qatar Airways.

Yang anter ada mama, Cupit (ade ipar), Usep dan Kokom (sepupu Desti). Sebenernya kita bawa barang overload 4 kilo, tapi karena kita mau pergi lama akhirnya dibolehin selain juga bawa anak kecil. Bawa botol air juga dibolehin karena buat susu Zahra. Pas cek in Zahra bilang ke petugasnya.

"Zahra mau ke Berlin, om jangan ikut ya......" Petugasnya ketawa-tawa.

Alhamdulillah Zahra ngga bayar fiskal karena dibawah 12 tahun. Karena fiskal dibayar sekali seumur hidup, kuitansi fiskal juga gue simpen. Cuma pas mau berangkat Zahra nangis-nangis. Selain ngantuk dia juga ngga mau berpisah ama tantenya (adeknya Desti). Dia nangis ga mau pake safety belt padahal biasanya dia hobi pake safety blt.

Sebelumnya pas cek in di loket Qatar, gue minta makanan khusus anak-anak buat ama mainan buat Zahra. Jadi dia udah dikasih boneka bentuknya pesawat tapi tetap nangis. Akhirnya kita take off sambil Zahra gue pegangin.

Kita terbang Jakarta-Singapura (naek turunin penumpang doang) terus langsung ke Doha. Zahra mau makan dan ngemil-ngemil udah gitu tidur. Pelayanan Qatar bagus banget, makanannya enak dan semua penumpang punya remote di bangkunya jadi bisa milih film sendiri-sendiri. Bukan film yang diputerin ama crewnya. Lebih bagus dari Emirates, apalagi Gulf Air.

Udah tidur 8 jam sejak jam 12 malem. Tapi karena terbang ke bumi sebelah barat, kita dapetnya malam terus. Walhasil, zahra udah kenyang tidur, tapi pesawat masih gelap. sejam sebelum landing semua penumpang sarapan. Zahra dapat pure kentang diperkedel ama daging burger, tapi karena gue makan nasi goreng dia pilih makanan gue hehehe.

Kita landing di Doha jam 6 pagi waktu setempat. Zahra yang selalu membawa boneka ulat hijau yang sama panjang ama badannya, selalu jadi perhatian orang yang senyum-senyum gemes. Apalagi waktu turun dari pesawat, naek bis ke bandaranya.

"Dadah pesawat....." kata Zahra.
"Can I take your doll?" berkali-kali orang godain Zahra.

Doha bandaranya kecil cuma segede Grage Mall kalo di Cirebon, cuma dua lantai. Kalau di Depok mungkin sebesar Plaza Depok doang. Kita ke toilet pria karena Zahra belum pipis. Tapi buset dah toiletnya. Udah flushnya rusak, pake acara ada tokai-tokai yang udah kering gitu hoooeeeek.

Akhirnya kita cari toilet yang jauh yang rada lumayanan. Sekalian aja gue cari ruangan bayi buat Zahra sikat gigi ama cuci muka. Doha sebenarnya selain punya mesjid juga ada ruangan tidur pria dan wanita. Bentuknya kaya kursi dokter gigi ato kursi pijet gitu. Ada juga ruangan bermain anak2 kaya di McD ato KFC gitu. Tapi Zahra ogah maen. Kita sengaja ngga bawa troli bayi Zahra karena dia juga senengnya naek di troli koper.

Zahra rupanya masih laper. Jadi kita brunch pake KFC yg beli di Cengkareng. Nasinya..... timbel dua batang ama beli piring plastik. Thanks Mom!. Kenyang makan Zahra tidur soalnya di Indonesia itu udah waktu tidur siang. Gue juga ngantuk tapi susah tidur. Untungnya kita transit 7 jam jadi santai.

Zahra kenyang tidur, gue ke tempat internet gratis yang antrenya panjang. Chatting ama Desti sebelum take off lagi. Zahra terus salin baju dengan baju yang lebih tebel biar siap di Berlin. Kita berangkat ke Berlin dengan pesawat airbus yang lebih kecil yang sederet cuma 3 - 3. Pdhl dr Indonesia kita pake airbus yang besar yang 2 - 4 - 2.

Zahra dpt lagi tas ransel isinya botol minum, buku mewarnai, dan camilan. Sebelumnya dia dapat lunch box isinya camilan anak-anak dari permen ampe coklat. Gimana dia nggak girang hehehe.

Udah kerasa banget kalao Zahra jetlag, secara di Indonesia ini udah jam tidur malam dia. Walhasil setengah jalan ke Berlin, dia tidur lelap. Sampai landing di Berlin dia masih tidur di kursinya meluk boneka ulat dan berbalut safety belt. Gue bangunin malah marah-marah.

Sambil ngantuk dia mau dituntun. Diluar perkiraan gue, kita ngga pake belalai. Tapi dijemput lagi pake bis bandara. Zahra langsung melek begitu kena angin malam musim gugur yang dingin 11 derajat Celcius. Sebelum check out di imigrasi, gue pakein jaket winter yang kegedean buat dia.

Walau Desti kuatir, alhamdulilah petugas imigrasinya ngga rese dan ngga banyak tanya. Padahal sebelum gue ada orang Nepal yang dipaksa bongkar ransel buat ngebuktiin kalau dia punya surat bukti diterima kuliah S2 di Leipzig.

Soal troli barang di Berlin, untung Desti ngingetin gue bawa koin 1 Euro. Troli barangnya harus masukin koin 1 euro ke lobang kuncinya kalo mau dipake. Uangnya bisa keluar lagi kl trolinya dimasukin ke parkiran.

Di luar Desti dan 2 temennya udah nunggu. Tawa Zahra lah yang paling bahagia. Setelah jumpa pisah sejak Januari, Zahra hampir ngga percaya sekarang mama papanya lengkap berdua.

Kita sampe Berlin hari Senin 20 Oktober 2008 jam 19.35 waktu setempat atau jam 24.35 WIB. Kita lalu pulang ke apartemen naek bis dari bandara, dan Zahra terpesona melihat ke jendela kalau dia sudah ada di negeri orang.

"Zahra ada di mana sekarang?"
"Di Berlin......" kata dia mantap....

Iya sayang, ini jawaban dari doa dan penantian kita selama ini..... Semoga kami didaratkan di tempat terbaik pilihan-Mu, ya Rabb

Friday, October 24, 2008

Hongkong: Menjelajah Pasar Bowrington

Menjelajah pasar tradisional bersama istri tercinta selalu menyenangkan. Makanya sewaktu liputan ke Hongkong, Agustus 2007 lalu saya sempatkan mampir ke pasar setempat. Ini tulisan yang tidak saya pasang di Detikcom.

Tempat itu adalah Bowrington Road Market di kawasan Wanchai, Hongkong. 2 Bangunan masing-masing 2 lantai yang saling berhadapan. Mirip dengan model pasar-pasar punya pemerintah kota di Indonesia. Termasuk lantai ubinnya yang agak becek-becek.

Saya penasaran dengan apa saja yang dijual di pasar ini. Bermacam sayur beraneka warna sungguh menarik mata. Namun sebenarnya hampir semua sama dengan yang dijual di Indonesia. Bayam, kangkung, tomat, kentang. Tapi tentunya sayur-sayur khas Cina lebih banyak dijual seperti Cay Sim atau Bok Choy.

Sampai ke bagian daging, apalagi kalau bukan para penjual daging Babi. Banyak banget kaki babi bergantungan dan juga irisan daging berwarna pink ini dijual. Agak-agak geli saya segera beralih ke penjual ayam.

Wabah Flu Burung juga menjadi ancaman serius di Hongkong. Beraneka poster himbauan pemerintah menempel di tembok pasar. Para pembeli tidak diperkenankan menyentuh ayam hidup yang dijual. Mereka tinggal menunjuk nanti sang penjual akan menjagal ayam itu untuk anda.

Los daging ikan juga menarik untuk dikunjungi. Meja-meja bertaburan es serut dipenuhi ikan-ikan yang berjejer rapi. Orang Hongkong suka juga menyantap ikan terutama Kerapu (Grouper Fish). Namun Hongkong bukanlah daerah penghasil ikan yang banyak. Ikan-ikan diambil dari daerah lain seperti..... Indonesia. Mungkin dengan illegal fishing hehehe.

Kemana umat Islam mencari daging halal? Tidak usah bingung, Bowrington juga memiliki daging halal yang dijual orang-orang Pakistan.

Pasar yang merupakan tempat berinteraksi penjual dan pembeli menjadi potret keseharian masyarakat setempat. Ini selalu menjadi resep jitu memahami kebudayaan setempat. Datangi saja pasar tradisionalnya, seperti di Bowrington.

Thursday, October 23, 2008

Hongkong: Campursari di Pennington


Jauh dari kampung halaman, tentu membuat para TKI di Hongkong rindu. Rindu makanannya sampai rindu lagu campursari Didi Kempot. Ada satu tempat yang bisa mengobati rindu mereka.

Di Pennington Street, Causeway Bay, Hongkong, ada tempat bernama Warung Malang yang menjadi tempat para TKI mengobati kangen kampung halaman. Tidak hanya menjual masakan Indonesia, Warung Malang juga menjual lagu-lagu Indonesia terutama lagu-lagu Jawa.

Pemiliknya adalah pasangan Mochamad Nurali dan Katinem. Nurali yang pensiunan staf Konjen RI di Hongkong, merintis usaha kuliner bersama sang istri. Katinem memang memiliki bakat memasak dan usaha rumah makan dari orangtuanya.

"Tahun 1998, Bapak pensiun, terus buka warung Malang," ujar Katinem yang ditemui saya di sela kesibukannya melayani pelanggan, Kamis (20/8/2007) lalu.

Nama Warung Malang dipilih wanita yang dipanggil Bu Kat ini karena banyak pelanggannya merupakan TKI asal Malang. Di restoran berukuran 90 meter persegi ini, dia menjual masakan khas Indonesia antara lain gado-gado, sayur asem dan bakwan. Warung Malang juga menjual kaset-kaset lagu Indonesia.

Kaset-kaset ini dipajang di dekat kassa. Ada lagu Campursari Didi Kempot, lagu berirama gambus, Jathilan khas Jawa Timur, dangdut atau kaset-kaset pengajian. Lagu-lagu penyanyi pop idola TKI juga ada seperti Siti Nurhaliza atau grup nasyid Malaysia Raihan. Kaset-kaset ini dihargai HK$ 20-30. "Lumayan, Mas. Banyak yang beli," kata dia.

Menurut Bu Kat, pelanggannya terus meningkat seiring bertambahnya jumlah TKI di Hong Kong. Tidak hanya TKI, pegawai Konjen RI pun menjadi langganannya. Warga Hongkong dan bule-bule pun kerap mendatangi Warung Malang.

"Makanan saya dijamin halal. Pernah ada orang Malaysia, cuma mau makan di sini. Dia dapat nama Warung Malang dari internet. Saya nggak tahu siapa yang masang," Katinem tersenyum.

Rupanya Katinem tidak menyadari, kalau Warung Malang termasuk dalam daftar restoran halal yang dimuat di situs resmi The Islamic Union of Hongkong. Bagi dia, yang penting, usahanya banjir pembeli setiap hari. Memang berapa sih omset Bu Kat dalam sehari?


"Jangan ah, itu rahasia. Hahaha...," Katinem pun tertawa penuh arti.

Hongkong: Dahsyatnya Tarif Parkir Mobil


Hongkong hanya memiliki wilayah terbatas untuk 7 juta penduduknya. Lahan parkir mobil pun menjadi barang mewah. Tarif parkir dipatok tinggi dan bisa membuat dahi berkerut.

Secara umum, mobil dilarang parkir di pinggir jalan, untuk di seluruh wilayah Hongkong. Mobil hanya boleh berhenti untuk menunggu dan menaikturunkan penumpang atau barang. Taksi pun,
jika tidak distop di pinggir jalan oleh penumpang, hanya boleh mencari penumpang di pinggir jalan bertanda khusus saja.

Jangan coba-coba memarkirkan kendaraan Anda di tepi jalan. Aparat tidak segan-segan menilang atau bahkan menderek mobil Anda tanpa pemberitahuan. Mobil-mobil di Hongkong hanya boleh parkir di tempat khusus.

Hal itu yang menyebabkan kebutuhan akan gedung parkir amat tinggi. Gedung parkir memang dengan mudah ditemukan, karena sering menyatu dengan apartemen, pertokoan dan perkantoran.

Namun yang membuat sakit hati adalah tarifnya yang tinggi. Tempat parkir di Causeway Bay memasang tarif HK$ 16 untuk satu jam atau sekitar Rp 19.200. Sekadar perbandingan, sebuah burger lezat di McDonald Hongkong hanya HK $ 11.

Parkir di kawasan Central yang merupakan Sudirman-nya Hongkong, tarifnya lebih mahal lagi. Parkir pada jam kerja di Mack Parking dibandrol HK$ 150 atau Rp 180.000 untuk 12 jam parkir.

Agar lebih murah, sejumlah tempat parkir juga menawarkan parkir bulanan. Harganya pun dahsyat. Sebuah tempat parkir di Causeway Bay, tepat di sebelah kantor Konjen RI, memasang tarif bulanan HK$ 2.800 atau Rp 3.360.000. Gaji PNS Indonesia dijamin ludes hanya untuk membayar parkir di Hongkong.

"Makanya kita nggak beli mobil di sini. Parkirnya gila," celetuk Konsul Sosial Budaya Nugroho Aribhimo kepada saya, Kamis (16/8/2007).

Namun untung saja tarif parkir mahal ini diimbangi dengan layanan transportasi publik yang terpadu. Jika Anda tidak memiliki mobil pun, ada bus kota, kereta bawah tanah, tram, dan taksi yang siap mengantar anda ke mana saja.

Hongkong: Seabad Tram di Jalanan

Dengan usia 100 tahun lebih, tram masih bertahan di jalanan kota Hong Kong. Tram melayani penumpang mulai dari Kennedy Town di sisi barat Pulau Hong Kong hingga Shau Kei Wan di sebelah timur. Di tengah-tengah trayek ini, ada juga jalur yang membelok ke selatan menuju Happy Valley.

Saya berkesempatan menggunakan tram sepulang dari Masjid Ammar di daerah Wanchai, menuju Kantor Konsulat Jenderal RI di Causeway Bay, Kamis (16/8/2007). Saya memilih naik dari Hennessy Road yang paling dekat dengan masjid.


Jalur tram yang berada di tengah-tengah jalan raya hanya memiliki stasiun-stasiun sederhana yang lebih mirip halte bus. Penumpang tinggal langsung naik dan membayar sebelum turun. Jauh dekat tarifnya sama, HK$ 2 untuk dewasa, HK$ 1 untuk anak-anak dan manula.

Kereta tram yang memiliki 2 tingkat ini sungguh antik. Mesti tubuh gerbongnya penuh berbalut iklan, desainnya masih sama dengan saat kendaraan bertenaga listrik ini beroperasi pertama kali pada 1904.

Gerbong tram hanya memiliki lebar 2 meter. Langit-langit kabin penumpangnya pun setinggi 2 meter kurang, nyaris setinggi kepala penumpang. Para pemain basket yang naik tram pasti terpaksa menunduk-nunduk.

Gerbong berbahan besi ini pada bagian dalamnya masih menggunakan kayu-kayu yang tampak tua untuk membingkai kabin penumpang. Tempat duduk penumpang yang saling berhadapan pun dibuat sederhana, hanya dipan kayu. Tidak ada AC, penumpang cukup mendapatkan angin dari jendela yang dibuka lebar.

Tidak usah berharap tram berlari kencang seperti KRL Jabotabek. Tram melaju santai-santai saja. Bus kota masih melaju lebih cepat daripada tram. Tram pun tidak memiliki hak istimewa selain jalur khusus di tengah jalan raya. Jika berhadapan dengan lampu merah, tram harus ikut berhenti bersama bus kota, taksi dan mobil pribadi.

Pada abad ke 21 ini, tram harus bersaing dengan transportasi publik lain yang lebih moderen, termasuk kereta bawah tanah. Namun tram tetap bertahan sebagai warisan sejarah, selain harga tiketnya yang paling murah.

Hongkong: Menikmati Pagi di Victoria Park

Pulang dari Macau itu sudah nyaris subuh. Hari ini pun tidak ada agenda liputan. Dengan memaksakan badan, gue pun bergerak mencari sejumlah obyek liputan feature. Gue memulai dari Victoria Park. Hutan kota di tengah hutan beton Hong Kong.

Victoria Park merupakan taman kota multi fungsi. Selain berfungsi sebagai paru-paru kota, di sinilah tempat masyarakat berolah raga atau piknik bersama keluarga. Konsulat Jenderal RI di Hongkong juga pernah menggelar lomba 17 Agustus untuk TKI di taman ini.

Gue berkeliling taman ini pada Kamis (16/8/2007). Banyak kaum manula datang ke taman ini pada pagi hari. Di berbagai sudut taman, mereka berlatih Tai Chi. Praktik ratusan tahun yang menjadi rahasia kesehatan bangsa Cina.

Ada juga yang berlatih Wushu dengan alat bantu pedang, tongkat, atau kipas. Sejumlah TKI tampak mendampingi para manula ini yang merupakan majikan mereka. Sementara kaum mudanya memilih senam aerobik yang lebih enerjik.

Jogging track juga diramaikan oleh kaum muda yang berlari mengelilingi lapangan rumput seluas 200x100 meter. 6 Lapangan sepakbola berlantai semen juga diramaikan anak-anak SD bermain sepakbola.

Selain itu, Victoria Park masih dilengkapi dengan 12 lapangan tenis, kolam renang, lapangan handball, restoran, dan kolam air mancur. Di Pulau Hongkong yang terlalu banyak gedung beton, ruang terbuka hijau di Victoria Park sungguh melegakan. Hmmm... segaaar.

Tuesday, October 21, 2008

Manusia Hanya Berencana........

Hari Jumat 12 September 2008 menjadi hari yang mengejutkan. Desti memforward email DAAD yang bilang kalau visa gue dan Zahra tidak bisa diloloskan kantor Imigrasi Berlin dengan alasan masa studi Desti cuma 1,5 tahun. Gue merasa menubruk tembok besar.

Segala usaha satu tahun terakhir berhenti detik itu juga. Kami berhadapan dengan kenyataan pahit kalau semua akan terpisah, Desti di Berlin, gue di Jakarta, Zahra di Cirebon sampai tahun depan. Chatting sore hari itu penuh dengan rasa sesak di dada dan air mata.

Life must go on. Kita sangat percaya Allah menyiapkan yang terbaik ketika kita berdoa meminta yang terbaik. Manusia hanya berencana, tapi kita tidak tahu rencana-Nya. Sabar dan ikhlas kembali menjadi dua kata yang sangat berat untuk dijalankan.

Malamnya Ikhsan, Abie, dan Nyoman menghibur gue dengan berkaleng-kaleng soda dan batang coklat sampai waktu sahur tiba (thanks guys!). Gue dan Desti pun kembali menyusun kepingan optimisme kami. Ya udah, Desti kuliah, gue tetap jadi wartawan Detikcom. We tried the best and will keep doing so. Tapi ternyata, kejutan belum berakhir.

Jumat 19 September 2008, sebuah telepon dari Kedubes Jerman di Jakarta, masuk saat kaki sedang melangkah ke mesjid untuk Jumatan. Visa kami diterima......... Semua orang dan keluarga bilang ini ajaib. Gue bilang ini berkah Ramadhan.

Komentar gue...... jangan berprasangka buruk kepada-Nya. Dia punya janji untuk orang-orang yang mau bersabar. Seberapa jauh kita mau percaya kalau Allah menyiapkan yang terbaik untuk mereka yang mau berusaha.

Wahai Engkau yang maha membolak balik perasaan, terima kasih sudah mengingatkan kami yang lemah ini akan arti sabar, ikhlas dan penyerahan total dalam ketawakalan.

Dan sejak 20 Oktober 2008, kami kini berkumpul di Berlin........

Sunday, July 6, 2008

World Citizen

Bermimpi menjadi Tintin, gue pun memulai mewujudkan upaya gue mengunjungi berbagai tempat di planet ini. Kalau bisa dibayarin. Terima kasih untuk para sponsor. Petualangan masih panjang.



Australia 1998-1999 (Rotary Youth Exchange Program)



Abu Dhabi 2003 (transit doang)



Jerman 2003 (Study visit DAAD)



Hongkong 2007 (Detikcom)

Petualangan berikutnya: Jerman