Monday, January 29, 2018

Penerawangan Politik 2018

Sambil nyeruput teh panas malem ini, izinkan saya menerawang jagat politik 2018. Bagaimana serunya permainan tahta tahun ini? Yuk kita bagi dalam beberapa poin:

1. Jokowi
Presiden selalu jadi aktor utama politik Indonesia. Tahun 2018 ini dia akan memastikan jalannya lapang menuju Pilpres 2019.

3 tahun pertama sudah dia habiskan untuk menguasai Indonesia dari ujung, diakhiri dengan cuci muka di Rote. Dia biarkan musuhnya bergumul di Jakarta, sementara dia bikin orang pedalaman jatuh cinta sama dia lewat aneka proyek pembangunan yang dia resmikan.

Dari desa mengepung kota. Itulah strategi Jokowi 2018. Dari ujung Indonesia, menyerbu Jawa. Pilkada 2018 akan jadi pertarungan Jokowi menguasai Jawa, karena Djawa adalah koentji!

Tahun ini Jokowi akan buka cabang ke partai lain. Menguasai dari balik layar, menaruh orang, atau melakukan deal tingkat tinggi dengan para ketum parpol. Ini untuk memastikan mesin partainya saat Pilpres 2019 bukan cuma PDIP. Jokowi juga akan menambah koleksi jenderal di sekelilingnya
Jokowi ini juga sudah menggarap pemilih milenial lewat setidaknya 3 orang KOL. Tinggal jentik jari, berubah jadi dukungan politik. Siapa KOL ini, tunggu aja tanggal mainnya. Sekitar 6 bulan dari sekarang, Jokowi untuk pertama kalinya akan mengungkap kekuatan politik yang disembunyikannya selama ini lewat imej lemah yang dia lempar dengan sengaja, seperti muka planga-plongo atau petugas partai.

2. Pilkada

Pilkada diamati banyak akademisi ilmu politik untuk melihat konsistensi koalisi politik di Jakarta berhadapan dengan kondisi politik di Jawa dan provinsi utama di Sumatera dan Sulawesi. Analis dan pengamat sama-sama menunggu hasil eksperimen pencalonan pasangan cagub yang bisa berubah sampai detik terakhir.

Pilkada Jabar sebagai penyangga Jakarta, adalah duel mesin parpol-parpol. Semua tampak imbang di sini demi pemanasan bertarung di Pemilu 2019. Pilkada Jateng adalah duel Jokowi VS JK. Ganjar adalah jago Jokowi, Sudirman Said adalah orangnya JK. Pilkada Jatim adalah all Jokowi Finals. Ipul didukung PDIP, Khofifah adalah orang Jokowi yang disokong PD, hasil deal Jokowi-SBY yang sudah tukeran warna baju batik dan luput dari perhatian oposisi.

Dari sini kita bisa melihat pola bahwa kekuatan oposisi makin jauh dari Jakarta, makin lemah dia. Gerindra dan PKS bahkan berkongsi dengan partai pendukung penista agama di Jawa Timur. Koalisi maut oposisi di Jakarta menggusur Ahok, tidak bisa dilanjutkan di daerah.

3. Tokoh alternatif

2017 dan 2018 adalah tahun lahirnya tokoh alternatif. Tokoh tua selain incumbent, tidak pernah laku di negeri ini. JK, Mega dan SBY sudah pasti jadi King Maker. Panggung tokoh alternatif menjadi milik Gatot Nurmayanto dan Anies Baswedan.

Gatot punya daya tawar tinggi. Tapi JK dan Prabowo sudah berinvestasi politik dalam sosok Anies. Itu sebabnya Anies jaim sementara Sandi dimagangkan sebagai gubernur, terutama untuk ngomongin kebijakan kontroversial.

Satu masalah adalah Gatot berebut kue pasar pemilih yang sama dengan Prabowo. Bisa saja dipasangkan Gatot-Anies atau Prabowo-Anies. Tapi ini belum mengakuisisi pasar pemilih nasionalis abangan. Justru Gatot adalah pasangan yang sempurna untuk Jokowi, pasar nasionalis abangan dan pasar religius. Kepada siapa Gatot akan berlabuh?

Sementara itu bursa Wapres lebih ramai lagi untuk calon pasangan Jokowi. Menteri aktif, ketum parpol, alumni kepala daerah, sampai tokoh nasional bersaing ketat. Jokowi akan mengungkapnya 6 bulan lagi.

4. Xenophobic populism

Xenophobic = isu SARA, populism = bualan angin surga. Saya waktu kuliah ngabisin waktu 8 bulan tahun 2004, buat meneliti gaya politik unik ini dengan studi kasus Australia. Nggak nyangka kalau gaya politik ini bisa tumbuh di Indonesia 10 tahun kemudian. Dalam kajian ilmu politik, Xenophobic Populism muncul ketika incumbent penguasa, susah dilawan di level pikiran, ide, gagasan dan kebijakan, karena sedang bagus dan stabil.

Jadi, incumbent dilawan di level emosi, mengagregasi kemarahan dan rasa frustasi karena kalah, lewat isu SARA dan omongan berbusa-busa menawarkan mimpi. Xenophobic populism muncul ketika Amerika sedang punya Obama, Prancis sedang punya Hollande dan Indonesia sedang punya Jokowi. Di Amerika dia menang lewat Trump, di Prancis dia kalah terhadap Macron, di Indonesia kita tunggu 2019.

Xenophobic populism akan terus mewarnai politik Indonesia sampai 2019. Meskipun di daerah, tidak sekuat di Jakarta atau Jawa. Karena Pilpres ini berpusat di Jakarta, maka Xenophobic populism akan tetap mendapat panggung. Sabar-sabar ya ama isu SARA dan bualan-bualan kejayaan. Hoax adalah materi propaganda paling umum dari Xenophobic populism, jadi atur sedikit Facebook Anda supaya algoritmanya bersih dari materi Hoax.

5. Broker Politik

Tahun 2018 juga bakal ramai dengan yang namanya broker politik. Teman saya yang ikut aksi 212 bilang, perjuangan mereka selesai setelah Ahok dipenjara. Saya setuju. Lantas apa itu yang masih kasak kusuk kesana kemari bawa-bawa nama umat Islam sampai sekarang? Itulah para Middle Men, yang punya agenda tersembunyi. Mereka lebih berkuasa dari grass root, tapi lebih lemah di hadapan partai dan elit politik.

Parpol dan elit butuh middle men buat menggerakan massa akar rumput dan menampung uang bancakan untuk nanti dipakai lagi buat Pemilu 2019. Jadi tahun 2018 ini, jangan heran bakal banyak proyek baru dengan harga yang bombastis, impor a sampe z atau suntikan dana ini itu. Semuanya modus aja buat nabung duit menyambut pemilu. Middle men ini ada pengusaha, avonturir politik, aktivis, pentolan ormas dan LSM.

Kita melihat middle men tarik ulur kepentingan dengan majikan mereka. Minta jatah kepala daerah, nggak dikasih terus ngambek. Ada lagi yang bikin proyek supermahal, atau disuntik duit melebihi kebutuhan. Middle men mengabdikan diri kepada siapa yang sanggup bayar. Mereka bermain di dua kaki, kubu penguasa dan oposisi. Jadi jangan pernah percaya dengan mulut mereka, jangan pernah. Rakyat mereka jual sebagai posisi tawar di hadapan para majikan. Tujuan mereka cuma dua: cari duit dan naik kelas jadi kelompok elit.

5 Hal itu aja dulu yah yang diterawang. Ntar ditambahin lagi deh, kalau ada pertanyaan dari kawan-kawan sekalian. Tehnya udah habis nih...

Tuesday, November 29, 2016

Obrolan Taksi Tentang Nasib Pilkada DKI

Landing dari Jerman, hape saya yang punya aplikasi taksi online mati. Jadilah saya pulang naik taksi dari bandara. Si bapak ini rupanya adalah orang yang doyan ngobrol.

"Pulang liburan, Mas?"
"Bukan, liputan seminggu,"
"Oh Mas-nya wartawan yah. Seminggu ditinggal pergi Jakarta rame lho, Mas,"
"Iya nih saya baca di hape juga gitu ya,"
"Islam itu kan rahmatan lil alamin ya Mas. Tapi kok ulamanya nggak rahmatan lil alamin..."
"Kenapa gitu Pak?"
"Masa khotbah Jumat kemarin khotibnya bilang siap-siap Jakarta menghadapi Perang Badar. Yaelah Pilkada DKI kok disama-samain ama Perang Badar,"

Saya terkekeh dengan ucapannya yang ceplas-ceplos. "Kan Ahok menista agama, Pak..."

"Tapi Ahok bisa batal maju nggak, Mas?"
"Nggak sih, penistaan agama nggak masuk UU Pilkada. Kalau Bapak emang ngeliat Jakarta sekarang gimana?" saya iseng bertanya...

"Saya mah orang kecil, Mas. Nggak ngerti politik-politik gitu. Saya cuma ngerasa sekarang hidup saya di Jakarta lebih rileks..."
"Rileks gimana maksudnya?"
"Ibu mertua saya kemaren operasi jantung, pasang ring, biayanya Rp 150 juta..... Saya nggak keluar duit apa-apa,"
"Kok bisa?"
"Kan saya punya KJS.... Orang kaya bayar, orang miskin gratis...."

Ooooh kata yang dia maksud sebenarnya Secured bukan Rileks... "Gara-gara Ahok ya, Pak? Ahok kasar lho pak, emosional, emang enak punya gubernur begitu?"

"Mulutnya emang masalah sih, Mas. Tapi kan Ahok udah minta maaf, udah dibawa ke polisi, udah jadi tersangka. Kok masih dikerjain ya, Mas? Orang mah yang tadinya sebel, lama-lama malah bisa jadi kasian lho ama dia, bener lho. Kenapa sih ini orang digituin terus..."
"Orang yang mana, Pak?"
"Yaaaa kayak saya ama temen-temen saya, kalo sopir ngumpul kan ngobrolin beginian juga,"

"Eh, Mas," celetuk dia tiba-tiba... "Saya ngomong gini bisa jadi berita buat Mas, nggak?"
Dalam hati saya menjawab tidak. Tapi mulut ini berucap, "Kenapa gitu, Pak?"

"Siapa yang mau dengerin suara rakyat kecil kayak saya? Saya mau bicara tapi ke siapa? Saya pengen bilang Islam itu damai dong, Jakarta itu damai dong," kata dia...

Saya menghela nafas..... "Bapak nggak sendirian, suara bapak mungkin mewakili ribuan orang Jakarta lain. Semua juga pengen damai, Pak."
"Mas nyoblos?"
"Saya KTP Depok kan, Gubernur saya Aher," saya kasih cengiran buat si bapak.
Saya menyahut lagi, "Pilkada DKI sekarang enak lho Pak. Ada Agus yang tentara, ada Ahok yang tegas, ada Anies yang pemerhati pendidikan."

"Tapi masa sih kita mesti takluk ama O*** A***," tukasnya.
Waduh... "Pak, nggak semua ulama begitu kan. Masih banyak yang ulama benar dan jujur,"
"Lah tapi dia kan dulu kemana-mana naek ojek, sekarang beuuuh mewah bener hidupnya,"
"Kok Bapak tahu?"
"Kan temen saya tetangganya," jawabnya cepat

"Eh, Mas.... Saya pernah lihat habib turun dari mobil mewahnya.... Pas depan taksi saya,"
"Yang Hummer?"
"Bukan, yang Pajero,"
"Saya sempet kepikiran. Apa saya tabrak aja ya, Mas biar mati. Jakarta mungkin lebih damai kali ya. Saya nggak mewakili siapa-siapa, Mas. Biarin saya ditangkap. Saya malu lihat Islam dirusak..." nada suaranya bergetar.

"Astagfirullah, jangan Pak. Hmmm..." agak bingung juga saya jawab dia.
"Kalau ditabrak, terus dia mati. Terus dinyatakan syahid, terus pendukungnya bergejolak, bapak dipenjara. Kan nambah runyam urusannya.."
"Oh iya ya, Mas. Saya nggak mikir sampe ke sana...."

"Kalau Bapak gelisah melihat situasi, itulah suara hati Bapak, itulah nurani Bapak. Orang bisa ngaku yang paling bener, tapi Bapak yang bisa menilai pake hati nurani Bapak. Hati nurani itu barang langka Pak di Jakarta sekarang. Bapak jaga aja baik-baik hati nurani Bapak..." kata saya.

Dan kami berdua diam......
"Eh Pak, saya keluar di Cilandak ya...."
"Mmmm. Wah ini udah bablas sampai Pasar Minggu, Mas!"

Laaaaahhh.........

Thursday, October 27, 2016

The Last Sanctuary of Islam

Alkisah ada seorang pria, keturunan Nabi Muhammad SAW. Buyut canggahnya dianggap imam oleh orang Syiah, padahal mereka Sunni. Namun sejarah keluarga pria itu agak kelam. Banyak anggota keluarga yang diburu seolah tanpa penghormatan bahwa mereka melanjutkan darah daging Kekasih Allah. Dari Arab mereka terus terpinggir dan menyingkir, menjauh dari Masjidil Haram.

Pria itu seperti lelah didera konflik politik, dia yakin itu bukan konflik agama. Meski sudah menjadi gubernur di kerajaan India, rasa resahnya tidak hilang. Di kepalanya cuma satu saja yang dipikirkan: menyelamatkan Islam ke tempat yang aman.

Dia berpikir dengan kondisi umat yang saling bertarung tanpa akhir, akan seperti apa Islam nanti di masa depan. Akan muncul Islam perang, bukan Islam damai. Islam yang memecah, bukan mempersatukan.

Pria ini lantas mundur dari jabatannya, menjadi seorang pengembara. Dia ingin pergi ke ujung dunia, dimana tidak ada yang namanya konflik di antara umat Islam. Dia lari ke Maroko, tapi hatinya kurang sreg, namun anaknya ditinggal di sana. Dia pergi ke Uzbekistan, tapi hatinya kurang sreg, namun anaknya ditinggal di sana.

Dia lantas ke ujung tenggara Jalur Sutera, sebuah semenanjung seindah surga, dengan penduduk yang ternyata menyimpan kebijaksanaan kuno bernama ilmu budi, ketika nama ajaran itu belum disebut sebagai Islam. Warganya pecinta kedamaian. Dia panggil anaknya yang di Maroko dan Uzbekistan, berkumpul dalam suka cita.

Di tempat itu mereka menyemai Islam yang damai, di tempat yang begitu jauh dari konflik umat Muhammad SAW. Dalam pikiran mereka, butuh waktu sampai akhir zaman, untuk Islam bohongan -yang penuh ide-ide perang dan merusak ini- sampai ke tempat mereka.

Harapannya, tempat itu menjadi The Last Sanctuary of Islam, yang dijaga keluarga besar mereka, penerus garis keturunan Rasulullah, di titik perjalanan terjauh yang tidak dibayangkan oleh mereka sendiri. Mereka mengelilingi hampir separuh Bumi.

Suatu hari keluarga mereka didatangi seorang perdana menteri di negeri itu, datang dari ibukota kerajaan naik kapal laut. Dia adalah seorang penakluk beragama kafir. Namun, bukannya mereka diberangus, anak mereka yang muda diangkat sebagai care taker wilayah yang bertanggung jawab langsung kepada dia. Silakan kalian beragama Islam, kata dia. Si perdana menteri itu bernama Gajah Mada dan pria yang saya sebut pertama kali itu, namanya Syekh Jumadil Kubro.... Keturunannya ada 9 orang yang menjadi legenda

Saturday, October 22, 2016

Bulan Roller Coaster

Seperti seorang teman baik bilang, perpisahan memang menyebalkan.
Tapi itu adalah bukti, kalau kita semua butuh ruang untuk tumbuh.

Hidup adalah perjalanan, ia bagai babak cerita
Orang-orang datang dan pergi.
Ada mimpi, ada ambisi dan sebuah persimpangan jalan.
Kita semua membuat pilihan.

Aku melihat kawan-kawan pergi.
Aku melihat kawan-kawan tetap di sini dan di kejauhan ada kawan-kawan yang datang.
Suatu hari nanti aku adalah orang yang pergi dan aku adalah orang yang datang.
Tapi bukan saat ini.

Semua kenangan indah bersama teman adalah hadiah yang mengisi ruang hati.
Dan semua kisah sedih akan membentuk kita seutuhnya.
Semua tersimpan dalam istana memori.

Dimana aku?
Saat ini aku hanya ingin berdiri pagi ini.
Membiarkan sinar matahari menghangatkan jiwa.
Embun pagi menyapa lembut di ujung-ujung jari yang membelai ilalang.
Dan udara sejuk mendinginkan hati.

Ketika membuka mata, aku tahu akan melihat melihat sebuah jalan.
Aku akan berlari lebih cepat lagi dan terbang lebih tinggi lagi.
Menjadi elang.....


-sebuah sabtu pagi, untuk teman yang pergi-

Sunday, July 24, 2016

Pilkada DKI, Marketing Politik dan Cara Mengalahkan Ahok (Kalau Mau)

Pilkada seperti halnya pilpres, bukanlah pemilihan legislatif. Banyak politisi dan juga pakar (atau pembual) membuat perhitungan kekuatan suara berdasar perolehan suara legislatif atau prosentasi kekuatan parpol di DPRD.

Matematika politik, tidak begitu. Dalam berbagai kajian ilmu politik tentang pemilu, popular vote berbeda jauh, jauuuh sekali dengan electoral vote. Memilih orang, tidak pernah sama dengan memilih partai, karena sebagian pemilih tidak punya loyalitas kepada partai.

Masalahnya, apakah ini sebagian kecil, atau sebagian besar? Kalau sebagian besar, matilah semua partai politik menghadapi pilkada, karena dia sungguh berada di dimensi yang lain.

Dalam kaca mata political marketing ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Pertama adalah Produk, pilkada DKI dan pilkada lainnya menjual produk berupa tokoh. Percuma partai politik punya pemilih besar, tapi tidak punya tokoh yang dimajukan. Nyatanya, di DKI saja parpol besar banyak yang ragu majuin calon kan?

Kedua adalah Brand Awareness. Berapa tokoh yang sudah dijual kepada masyarakat menjelang pilkada DKI ini? Ahok, Yusril, Sandiaga Uno dan calon peserta lain, mereka adalah Brand. Seberapa besar mereka menciptakan Awareness.

Yang pasti luput dari perhatian kita adalah, Awareness tidak bicara kabar baik atau kabar buruk. Keduanya sama-sama menciptakan Awareness. Positive atau negative campaign keduanya menciptakan Awareness.

Makanya, jangan gembira dulu dengan banyaknya serangan untuk Ahok di medsos. Popularitasnya memang bisa terpengaruhi, tapi Awareness-nya naik. Semakin kontroversial, semakin tinggi Awareness yang dihasilkan. Nama tokohnya dulu yang nempel di kepala orang, bukan beritanya.

Ketiga adalah Brand Image, bahasa gampangnya pencitraan. Di titik ini duelnya lebih fair. Tapi sayang menurut saya imej yang dijual hanya sebatas 'Another version of Ahok'. Misalnya Ahok versi Muslim, Ahok versi pribumi atau Ahok versi santun. Belum ada yang bikin brand, 'Bukan Ahok'. Sementara di level akar rumput fans memuja setengah mati, hatersnya menghina setengah mati. Media massa dan media sosial punya peran vital memoles imej kandidat. Hal ini termasuk media abal-abal, dan pasukan cyber. Masalahnya adalah, publik bisa memilih mau percaya yang mana, sumber informasi yang valid banyak kok. Sedangkan, awareness-nya tidak bisa dicegah masuk ke kepala mereka.

Keempat, Market. Siapa pasar yang mau disasar oleh kandidat? Seberapa besar kandidat memahami pemilih. Umur mereka berapa, prosentase tua mudanya bagaimana? Tingkat pendidikan, gender, latar belakang etnis dan agama. Pemahaman terhadap voting behavior akan menentukan strategi kampanyenya.

Pernah nggak ada studi, black campaign anti-China terhadap Ahok itu efektif untuk pemilih yang mana, dan tidak efektif untuk pemilih yang mana? Berapa besar perbandingannya? Kalau saya sih melihat strategi mempengaruhi pasar ini dipukul rata begitu saja. Jangan heran, beberapa materi kampanye anti-Ahok jadi bahan tertawaan sebagian orang di media sosial. Pun beberapa materi kampanye pro-Ahok bernasib sama. Kalau pun berhasil menyulut emosi, itu malah orang yang nggak punya KTP Jakarta. Percuma lah, ini Pilkada DKI bray.

Kelima dan terakhir ialah Statistika Politik. Poin satu sampai empat tadi pada ujungnya hitung-hitungan statistik, naik turun angka perolehan suara. Jelang pilkada pasti banyak riset-riset tuh, walau sebagian bayaran dari para kandidat (sudah rahasia umum bukan?) Tapi pasti hitungan asli dipegang oleh masing-masing kubu.

Kalau terbiasa mengkonsumsi data fiktif, black campaign, broadcast fitnah dll, saran saya hentikan! Nggak mungkin dong maju ke medan perang pilkada dengan data palsu. Siap-siap kejang saja. Kita butuh data riil, kemungkinan perolehan suara itu berapa.

Kesimpulan saya dirangkum dalam tiga analisa prediksi:

1. Figur yang bisa menyaingi Ahok dalam produk, brand awareness, brand image dan market sampai saat ini cuma Ridwan Kamil dan Risma. Risma adalah produk dengan brand image yang lebih baik dari Ahok, Risma adalah 'bukan Ahok' sementara yang lain cuma punya brand images 'another version of Ahok' Masalahnya Risma jadi maju atau nggak? Kalau maju, barulah seru Pilkada DKI ini.

2. Kalau ada banyak calon yang akhirnya mendaftar, Ahok kemungkinan besar menang Pilkada DKI. Awareness Ahok paling tinggi. Kompetitor Ahok harus berbagi awareness, sedangkan Ahok tidak berbagi awareness dengan siapa-siapa karena ini pilkada melawan incumbent. Vote untuk kelompok anti Ahok akan pecah ke banyak kandidat. Pun, kalau sampai dua putaran, pemilih terlanjur tahu kekuatan riil semua kandidat. Nanti tuh bakal ada komentar, "Oh si anu yang dipuja-puja di medsos itu cuma segitu kemampuannya lawan Ahok."

3. Saya nggak tahu para pesaing Ahok mikir sampe sini nggak. Tapi kalau mau mengalahkan Ahok, nggak sulit kok, cukup kirim SATU kandidat saja buat menantang Ahok. Ada dua cara untuk ini yaitu dari awal majuin 1 kandidat, atau merger jadi 1 kekuatan seandainya Pilkada DKI 2 putaran. Ini akan menaikan probabilitas kemenangan, pemenangnya sudah pasti 50%+1 suara sesuai UU. 50 persen kemenangan sudah di tangan, karena mereka yang anti Ahok di berbagai kelompok politik, akan terkumpul di dalam satu kotak saja. Peluang 1:2 lebih baiklah dari pada 1:3 atau 1:4. Cagub lain mikir sampai sini nggak? Kalau nggak ya selamat bertugas kembali untuk Ahok, hehehe.

Tuesday, July 19, 2016

Erdogan Oh Erdogan

Lucu sekali melihat orang Indonesia mengomentari percobaan kudeta terhadap Erdogan di Turki. Fans Erdogan di Indonesia cukup garis keras juga ya. Tapi haters Erdogan juga lumayan keras. Saya tidak tertarik ikutan kubu-kubuan macam suporter bola begini.

Saya tidak tergoda untuk pasang aneka status. Bagi saya, cukuplah berbincang dengan orang yang saya percayai, yang berada langsung di Istanbul bertahun-tahun dan memahami betul seluk beluk kondisi politik riil di sana, bukan hasil polesan propaganda para fans atau haters Erdogan di Tanah Air.

Nggak usah saya ceritakan juga, nanti fans Erdogan sakit hati, dan hatersnya juga kecewa sekaligus. Kenapa saya selalu menyebut fans dan haters berbarengan. Karena, jauh di lubuk hati kita, Erdogan hanya diambil simbolnya saja. Jujur saja deh, bagi orang Indonesia Erdogan cuma sekadar simbol untuk ego kalian yang terluka (fans) dan arogansi kalian yang di atas angin untuk membully (haters).

10 tahun lalu, simbol untuk ego kalian yang terluka itu bernama Ahmadinejad. Oh iya, saya tidak akan lupa sebuah fakta sejarah kalau orang-orang Indonesia pernah menggilai Ahmadinejad. 10 tahun dari sekarang, simbol untuk ego kalian yang terluka itu akan berganti nama lagi. Yang abadi ya cuma ego yang terluka itu.

Ahmadinejad, Erdogan dan entah siapa lagi yang akan dijadikan idola adalah candu. Fans dan hater akan bertukar posisi sesuai zaman, dan kelakuannya saya jamin sama. Itu sebabnya fans dan haters itu di mata saya nggak penting.

Ego kalian pernah terluka oleh SBY, makanya kalian menggilai Ahmadinejad. Presiden yang tidak mungkin memimpin kalian. Sekarang ego kalian terluka oleh Jokowi, lalu kalian mencari Erdogan. Figur lain yang tidak mungkin memimpin Indonesia. Kalian mencari pelarian yang tidak ada dan baru berduka ketika pemimpin sendiri sudah lengser.

Cuma segelintir dari kalian yang peduli dengan kudetanya. Bahkan tidak ada yang membahas Fethullah Gullen bukan? Satu saja broadcast soal Gullen, please share to me hehehehe.

Diskursus kudeta di Turki cuma pertarungan Erdogan itu pemimpin hebat VS Erdogan itu pemimpin bangsat. Sungguh sia-sia. Itu bisa diperdebatkan tanpa harus menunggu kudeta di Turki toh?

Bahas dong, kenapa pemimpin seagung dan semulia Erdogan dikudeta? Apa kira-kira yang salah? Bahas juga kenapa langsung ada ribuan orang yang ditangkap, itu daftarnya dari mana? Coba hitung, berapa berita media Turki yang mewawancarai mereka yang ditangkap? Siapa itu Fethullah Gulen yang dibenci Erdogan? Ulama loh dia dan kalian memuja Erdogan membangun kejayaan Islam kan.

Diskusi soal tema-tema di atas jauh lebih bermanfaat dari pada broadcast daftar jasa-jasa Erdogan oleh yang ngakunya doktor ilmu politik yang ternyata politisi kubu oposisi dan tidak netral. Atau menyebar daftar dosa-dosa Erdogan, itu juga nggak ada manfaatnya.

Ngomongin kudeta nih. Kalau buat saya, kudeta Turki belum mengalahkan rekor kisah kudeta paling keren dan berhasil. Sama-sama dilakukan malam hari, tapi yang disikat adalah faksi militer yang anti kudeta dulu. Jadi tidak ada faksi militer kuat yang bisa dipegang presiden macam Erdogan ini. Kemudian media dibungkam erat, cuma satu koran yang menyuarakan kubu militer pendukung kudeta. Presiden mau langsung disikat, tapi ternyata tidak ada di tempat.

Besokannya, tuduhan kudeta dilemparkan ke partai politik pendukung presiden. Ribuan orang ditangkapi dan dibantai dengan daftar yang ternyata sudah ada, dari guru, pegawai pemerintah, petani, militer, tokoh perempuan dll (miriplah dengan pasca kudeta di Turki). Presiden pun akhirnya tetap bisa di-skak mat.

Kalau Anda cukup piknik dan baca buku tentunya, pasti tahu kudeta yang saya maksud...

Wednesday, July 13, 2016

Balada Negeri Suporter Bola dan Negeri Warung Kopi

Jangan bingung melihat kelakuan anak bangsa berpolitik di negeri ini ya. Apalagi di dunia maya. Dari paradigma behavioralisme, cukup sederhana menyimpulkan perilaku mereka. Saya bikin nama sendiri yang kayaknya sesuai:

1. Negeri Suporter Bola

Tahu supporter bola kan? Kalau tim jagoannya kalah, marah-marah. Menurut mereka, kalau tim jagoannya kalah, itu karena salah tim lawan, salah wasit, dan kalau perlu salah rumput stadionnya. Tim jagoan dia nggak pernah salah, pokoknya nggak pernah. Nggak pernah....

2. Negeri Warung Kopi

Pernah ke warung kopi tradisional di Indonesia? Orang-orang ngumpul, ngobrol, ngomentarin sesuatu, paling asyik sambil nonton TV buat dikomentarin. Komentarnya jago-jago, analisanya dahsyat, mereka paling tahu solusi terbaik. Tapi apakah mereka lantas membuat perubahan? Ya nggak lah, kan cuma minum kopi doang.

Sekarang bagaimana kita mau menjadi oposisi yang kuat, pengkritik yang menakutkan pemerintah kalau mentalnya cuma sekelas suporter bola dan pengunjung warung kopi?

Manusia politik sekelas suporter bola hanya mengandalkan amarah dan benci kepada tim lawan, sambil mengagungkan tim sendiri. Padahal amarah dan benci itu temporer, kalau sudah reda maka hilanglah ikatan mereka, malah nobar ama tim lawan. Akibatnya tenaga mereka habis untuk memelihara kebencian, karena itu satu-satunya ikatan mereka.

Manusia politik sekelas pengunjung warung kopi ya kayak anjing menggonggong saja. Tenaga mereka habis untuk sumpah serapah, tapi tidak bisa digulirkan menjadi sebuah gerakan politik yang menggelinding keluar dari warung kopinya.

Mereka cuma terpana melihat mimpi politik mereka makin jauh dari realita. Manusia politik jenis suporter bola dan pengunjung warung kopi, hidup dalam ilusi mayoritas dan terbiasa mengkonsumsi informasi fiktif yang memabukan. Lah, kalau tim bolanya jelek mau bagaimana lagi? Kalau cuma teriak-teriak di warung kopi, bagaimana mau bikin perubahan?

Bagaimana berpolitik yang baik? Gampang. Berhentilah jadi supporter bola, tapi jadilah pemain bola yang turun ke lapangan. Menjadi sparring partner dari tim lawan yang kalian benci itu. Jadi kalian bisa ukur diri dan ukur lawan dengan data dan fakta yang sungguhan.

Kedua, keluarlah dari warung kopi. Realisasikan omongan, analisa atau bualan yang canggih-canggih itu ke dalam sebuah gerakan dari akar rumput. Jadilah solusi tandingan terhadap pemerintah yang kalian kritik itu. Jangan cuma ribut doang di medsos.

Marah dan teriak-teriak tidak akan membuat kita menjadi lebih terdengar. Karena, di dalam bilik TPS tetap saja kita cuma diberikan 1 kertas suara...

Saturday, June 18, 2016

Media Disuruh Netral, Eh Malah Pembacanya yang Partisan

Yaaa judul tulisannya sudah menjelaskan apa yang mau saya tulis kan? Semua berawal dari obrolan panjang dengan kawan-kawan SMA di group Whatsapp ketika untuk ke sekian kalinya berbagi link berita media online abal-abal.

Ternyata banyak yang belum tahu juga ngebedain media abal-abal sama media beneran. Jadilah saya jelasin, sesuai UU patokannya 3: mencantumkan alamat, mencantumkan susunan redaksi dan mencantumkan pedoman media cyber‎.

Terus ada pertanyaan, apakah 3 patokan ini menjamin media itu nulis berita yang benar? Ya saya balik lagi omongannya, media yang nulis berita bener itu banyak, pertanyaannya apakah sekarang pembaca butuh berita bener?

Kami sudah capek-capek liputan sampe malam, nulis berita sesuai fakta, cover both side. Tapi apa yang di-share orang? Pelintiran berita yang bahkan wartawannya saja nggak ada di lokasi, Wong cuma media online abal-abal.‎ Kan kezzeeeelll. Udah jelas datanya palsu, kita pegang data asli. Tetap aja orang percaya yang data palsu itu.

Faktanya pembaca sudah membentuk persepsi politik di otaknya. Media dia pakai untuk pembenaran atas persepsinya bukan untuk mencari kebenaran, yang parah sumbernya adalah media abal-abal atau blog yang menyerupai media, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Itulah yang terjadi sekarang.

Padahal, aturan yang ada itu untuk melindungi hak pembaca. Manakala dirugikan oleh berita, ada hak jawab bahkan somasi. Sekarang kalau kamu difitnah sama media abal-abal, mau protes sama siapa?

Pembaca menuntut media untuk selalu netral. Tapi pembacanya malah partisan. Kalau beritanya enak buat kuping mereka, keluar puja puji. Kalau nggak enak, keluar caci maki. Media yang legal saja sulit menjaga netralitas, lantas netralitas apa yang bisa dijamin oleh media abal-abal. Tapi tidak akan ada protes selama itu memuaskan ego politik pembaca.

Situasi ini adalah pembelajaran baru di Indonesia. Masyarakat kita akan menjadi seperti di Inggris atau Amerika. Media dan pembacanya sama-sama partisan. Di Inggris kalau kamu dukung Uni Eropa, kamu bacanya Guardian. Kalau anti Uni Eropa, kamu bacanya Daily Mail. Di USA kalau kamu benci Islam kamu bacanya New York Post, tapi kalau belain Islam kamu bacanya New York Daily News.

Di Indonesia sudah mulai begini. Dukung Jokowi nontonnya Metro Mini, anti Jokowi nontonnya TV Satu. Tapi setidaknya partisan ini dijaga dalam koridor media yang resmi, jangan kasih tempat untuk media abal-abal yang cuma jadi sumber fitnah dan adu domba dari kedua kubu.

Lantas, bagaimana cara menjadi pembaca berita yang cerdas? Eh tapi yakin mau jadi pembaca berita yang cerdas? Sudah siap mental? Baik, begini caranya: Bacalah berita dari kedua kubu. Berani nggak? Udah siap sakit hati belum?

Kalau nonton TV Satu, nonton juga dong Metro Mini. Kalau baca Media Nusantara, baca juga dong Rakyat Freedom. Pun demikian dengan media sosial, kalau dengerin Jonru, dengerin juga dong Abu Janda. Percayalah, mereka saling melengkapi informasi dan kamu dijamin jadi pembaca yang cerdas.

Mau yang netral? Masih ada detikcom kok tenang aja. Kita punya parameter sederhana untuk menjaga netralitas kita. Bos gue bilang, kalau kita dimusuhin kedua kubu, artinya kita netral. Biarin aja ada pembaca bilang detik pro Jokowi, toh mereka nggak tahu kalau wartawan kita ada yang di-black list PDIP (true story). Zaman pilpres redaktur politik kita dimarahin parpol pendukung Jokowi, sekaligus dimarahin parpol pendukung Prabowo.

Apakah detikcom punya keberpihakan? Oh jelas kita punya, bos gue bilang kita berpihak kepada kebenaran. Aiih sedaaaap.....

Thursday, June 9, 2016

Ilusi Mayoritas

Bismillah, nge-blog lagi ah, drpd isi otak terbuang sayang...

Ilusi Mayoritas

Menganalisa kondisi politik terkini negeri ini, secara sederhana adalah berkembangnya xenophobic populism (skripsi kuliah saya). Ini nggak cuma di Indonesia kok, santai aja bro. Inti masalah pada awalnya ada kesenjangan ekonomi dan politik, lalu ada sebagian kecil yang frustasi karena terancam dalam kompetisi.

Kenapa? Karena mereka hidup dalam ilusi mayoritas. Mereka merasa jumlah mereka banyak, lantas berhak terhadap akses politik dan ekonomi. Masalahnya, mayoritas bukan artinya serta merta bisa meminta begitu saja akses politik dan ekonomi itu. Macam preman pulak kau.... beraninya keroyokan.

Cuma ya ilusi udah jd makanan mereka sehari-hari, untuk mengobati sakit hati. Jadi gagap bgt dengan realitas. Dari Prancis, Amerika, Australia, sampai Indonesia hal ini terjadi. Kebencian mereka mengambil simbol apapun yang dianggap berbeda, tapi mewakili lawan politik mereka.

Di Prancis yang dihajar umat Islam, di Australia yang dihajar adalah imigran, di Amerika yang dihajar imigran Amerika Latin, di Indonesia yang dihajar adalah China dan kaum kafir. Xenophobic populism melakukan agregasi politik dengan cara yang paling mudah dalam sistem politik di negara tersebut. Di Australia, pasti bikin parpol, karena gampang banget. Kalo di Indonesia, pasti bikin ormas dan berharap uang dari parpol tertentu.

Ilusi apa sih maksudnya? Australia contoh paling gampang, banyak parpol gurem mengusung isu anti imigran. Buat mereka, sebagai true blue Australian (pribumi), mereka terjajah kaum imigran. Pdhl itu ilusi, mereka doang kali. Mayoritas pribumi Australian tdk merasa terjajah imigran, karena secara politik dan ekonomi lebih aman posisinya.

Kalau di Indonesia, isi kepala mereka begini: Saya kan pribumi, pribumi kan banyak, masa org China lbh kaya dari saya. Atau, saya kan Islam, Islam kan banyak, kok orang kafir yang jd penguasa. Pdhl realitanya, banyak kok pribumi kaya dan muslim penguasa.

Ciri-ciri mereka: kecil tapi berisik. Tapi jangan takut, kekuatan mereka cuma mengandalkan kebencian semata, ketika benci itu hilang, hilang juga dukungan terhadap kelompok ini, pindah ke spektrum tengah. Solusinya adalah membuat sistem yang lebih menjamin akses politik dan ekonomi yang lebih merata untuk rakyat. Negara yang melakukan itu, terhindar dari gejala xenophobic populism. Negara-negara Skandinavia baek-baek aja tuh.

Btw soal spektrum, xenophobic populism ada di ekstrem kanan, sementara communism ada di ujung paling kiri. Xenophobic populism itu satu famili tapi lebih jinak dari fasism, racism, ultra nationalism, far right, ultra right, right wing. Disebut lebih jinak, karena ada embel-embel populism, mereka gampang terbuai oleh tokoh yang menjual janji-janji surga macam Donald Trump. Intinya mereka cuma anak-anak kecil yang manja dan merengek-rengek, karena anak baru di komplek punya mainan lebih bagus.

Sunday, April 21, 2013

Yang Janggal dari Video Bom Boston (di Mata Seorang Wartawan)

Sebelum baca tulisan saya, yuk tonton dulu detik-detik awal liputan eksklusif The Boston Globe saat ledakan bom di Boston Marathon. Seiring itu kita sampaikan duka cita kepada seluruh para korban.



Sudah? Oke, dalam perkembangan berita terakhir kita tahu warga Boston bersorak sorai karena pelakunya yang kakak beradik orang Chechnya itu sudah tertangkap dan satu lagi tewas. Case closed? Nanti dulu.

Sekitar Selasa sore kemarin, anak buah gue Afif kasih lihat video Youtube ini dari The Boston Globe. Detik-detik awal ledakan bom di acara Boston Marathon. Wajar nggak? Buat saya ada beberapa hal yang janggal saja sih di video itu. Mungkin hanya sekadar ketidaktahuan saya, silakan mengkritik saya untuk itu. Saya mau bahas detik demi detik.

1. Detik 0:07
Kameramen bernama Steve Silva ini berdiri di garis Finish merekam para pelari masuk ke garis finish dan bomnya meledak. Reaksi dia? Nggak kaget-kaget amat. Kok bisa?

Entah kenapa saya merasa reaksi dia nggak manusiawi. Menghadap ke arah ledakan, tapi dia nggak punya refleks apa-apa. Kalau dia kaget dan refleks, arah kameranya bisa berubah angle drastis karena misalnya dia menunduk, jongkok, dan aneka reaksi manusiawi lain untuk mencari posisi aman karena kaget. Tapi si kameramen seperti bertugas merekam ledakannya sebaik mungkin. Kameranya cuma 'shaken' sedikit saja.

Di Youtube juga banyak contohnya kameramen yang refleks ketika kaget dan rekaman gambarnya jadi kacau. Tapi rupanya tidak demikian dengan kameramen kita ini.

2. Detik 0:14
Seorang pelari tergeletak setelah ledakan bom. Itu berita banget secara gambar. Saya pikir semua wartawan dan fotografer sepakat. Silakan tanya para kameramen TV One atau Metro TV. Tapi si kameramen Boston Globe ini malah asyik merekam asap yang mengepul, bukannya segera mengambil gambar korban.

Kenapa yah? Saya juga nggak mengerti kenapa si kameramen menahan ketinggian kameranya di bawah dada. Kameramen lain saya pikir akan mengangkat kameranya tinggi-tinggi untuk angle yang lebih luas. Setidaknya sejajar kepala. Menahan kamera setinggi dada kan akibatnya angle gambarnya terbatas.

3. Detik 0:53, 1:04 dan 1:12
Apa reaksi wartawan ketika ada bom meledak? Mencari sumber ledakan. Itu yang dilakukan fotografer lain, mulai dari detik 0:53, 1:04 dan 1:12. Sumber ledakan punya nilai berita lebih dari pada si Silva ini yang merekam situasi di sekitarnya. Lihatlah beberapa fotografer mendekati trotoar untuk mengambil gambar. Tapi tidak dengan kameramen Boston Globe. Why?

4. Detik 1:30
Si kameramen mendapat angle untuk mengambil gambar korban yang belum didatangi paramedis. Si kameramen tidak melakukannya. Tapi dia malah menyorot banner '2013 Boston Marathon'.

Saya nggak paham kenapa kameramen ini tidak mau merekam gambar para korban di detik-detik awal setelah ledakan dan malah mengambil jarak. Nggak wartawan banget, nggak kameramen banget gayanya.

5. Detik 1:44
Ada tentara? Sampai sini saya nggak tahu mau bilang apa. Apakah AS punya kebiasaan melibatkan tentara aktif di dalam sebuah acara sipil? AS itu bukan Indonesia yang melibatkan Korem dan Koramil untuk acara-acara rakyat jelata.

AS itu mengaku punya civil society kuat, pengamanan mereka dilakukan polisi, kalau genting ada SWAT. Tentara mereka ada di barak. Mereka tidak serta merta muncul membantu polisi dalam...... 1 menit 44 detik?!?! CMIIW, tapi saya benar-benar tidak tahu kenapa tiba-tiba ada tentara di acara Boston Marathon.

Itu sih 5 hal yang mengganggu dari video ledakan Bom Boston. Masalahnya, video inilah yang dipakai seluruh media di AS untuk menggambarkan ledakan bom tersebut. Yang mau analisa lebih konspiratif, silakan baca laman-laman tetangga ya. Saya hanya menganalisa sebatas data yang saya punya.

Sunday, April 14, 2013

2 Pria yang Mengubah Briptu Norman... Selamanya

Berita pertama Norman Kamaru di Indonesia
Wow! Sebulan nggak nge-blog gara-gara pulang malem terus dan backpackeran hehehe. Okay, what I'm gonna tell you is some kind of secret....... I'm kidding.... Here we go:

Minggu, 3 April 2011 adalah hari yang akan saya kenang, dan juga teman saya Anwar Khumaini. Pada masa itu saya masih di detikNews, Anwar juga belum pindah ke merdeka.com. Saya piket Minggu menjadi kordinator liputan dan Anwar sebagai penulis kantor. Di lapangan ada 2-3 wartawan liputan.

Ini adalah hari Minggu yang landai dan membosankan.Tidak ada kejadian dominan. Sampai pada sore hari... Redpel detikNews, Indra Subagja tiba-tiba memberi link video Youtube 'Polisi Gorontalo Menggila'. Saya tonton, dan busyet! Keren sekali polisi Brimob ini joget India. Ngakak menontonnya.

Tiba-tiba, insting wartawan saya menyala (kayak Spider Sense-nyaSpiderman gitu). Kayaknya menarik ini untuk diberitakan, soalnya hari Minggu itu nggak ada yang seru seharian. Dan si Brimob ini bisa jadi Shinta dan Jojo baru yang waktu itu lagi ngetop banget.

"War, harus ente yang bikin, kan ente penggemar film India. Lebih menghayati. Entar gue edit, gue bumbuin deh," kata saya mengoper link Youtube itu ke Anwar.

Ini pasti lagu Shahrukh Khan, tapi yang mana? Anwar tampak berpikir keras, memutar semua film Shahrukh Khan... di kepalanya. Kata kunci kami cuma bagian reff, sesuatu yang terdengar 'chaiyya chaiyya' begitu. Browsinglah dan kami menemukan video klip dari film Dil Se, film jadulnya Shahrukh Khan.

Wah mirip gaya jogetnya! Memang meniru video klip aslinya! Nambah ngakak kami menontonnya. Hup hup, Anwar lantas mulai ketak-ketik memberi deskripsi cerita. Sementara saya bikin prints creen video klip dengan gaya si polisi yang paling maksimal.

Informasi kami sangat terbatas. Mendeskripsikan total apa yang kami lihat dari video klip. Kami cuma tahu pangkatnya Briptu. Artikel beres, giliran saya yang mengedit.

Pertama adalah membuat lead. Polisi nyeleneh ini pasti bakal dihantam sama atasannya. Jadi kita harus membuat lead yang agak membela si Brimob ini. Jadilah saya menambahkan lead, "Brimob juga manusia." Humanis toh, semua orang punya hak untuk berjoget. Biar lebih kuat, kami tambahkan komentar para pengguna Youtube yang menyukai aksi si polisi.

Lantas judulnya, harus eye catching banget nih di hari Minggu santai ini. "Kudu pake bahasa India, War," kata saya. Jadilah saya ganti judulnya Anwar menjadi Chaiyya! Anggota Brimob Nyanyi Lagu India.

Sumpah, kami menulis berita ini sambil ngakak-ngakak. Untuk penutupnya, kita bilang "Akankah sang Brimob ini bisa setenar Shinta dan Jojo? Kita tunggu saja"

Artikel ditutup dengan kode nama kami (Anw/Fay). Artinya Anwar yang menulis, Faya yang mengedit. Berita ini naik pada Minggu, 03/04/2011 pukul 16:32 WIB. Yang pertama di Indonesia, silakan cek.

Kami pulang dengan senyum-senyum. Kami yakin beritanya pasti menarik dan dibaca orang. Hanya saja, kami tidak menduga beritanya bakal meledak, SANGAT MELEDAK, BLAAARRRR!!!!!!!

Pada hari Senin, Indra bilang berita kita menggelinding liar seperti bola salju. Semua media nasional melahapnya habis-habisan. Seperti saya duga, bolanya mengarah kepada kemungkinan sanksi untuk si Brimob yang belakangan saya tahu namanya Briptu Norman.

Lantas Mabes Polri dengan cerdik melihatnya sebagai peluang untuk membersihkan muka Korps Bhayangkara yang lagi dihantam masalah Cicak VS Buaya. Jadilah Briptu Norman Kamaru sebagai bintang.

"Gara-gara ente berdua tuh," kata beberapa kawan.

Yup! Kami berdua yang bertanggung jawab atas perubahan nasib Briptu Norman hahahahahaha. Bahkan semestinya Norman berterima kasih kepada Anwar, tapi pas Norman tempo hari main ke kantor detikcom, Anwar malu-malu menemui dia.

Bagaimana rasanya menjadi pihak yang pertama kali mengangkat sebuah berita yang fenomenal? Feel like orgasm hehehe. Bagaimana rasanya kalau berita itu menjadi perhatian nasional, meledak luar biasa, diikuti semua media nasional? Multiple orgasm..... hahahaha.

Tapi beneran, menjadi wartawan paling puas itu kalau berita yang kita bikin disukai pembaca. Saya tidak ada urusan dengan si Briptu Norman ini. Urusan saya adalah memberikan berita terbaik kepada pembaca detikcom. Ketika pembaca suka, itu sudah jauh lebih dari cukup bagi saya sebagai seorang wartawan.

Monday, March 18, 2013

Bungker Misterius!

Terowongan rahasia
Bayangkanlah adegan dalam novel masa depan yang akan saya tulis, hehehe..... Cita-cita belum kesampaian. Sumpah ini cerita fiktif. Begini ceritanya....

----------------

Suatu pagi di Jakarta....

Mobil Rama meluncur kencang membelah jalanan sepi pagi itu. Namun menjelang bangunan Belanda itu mobilnya melambat. Mestinya di sini, pikir dia. Rama memarkirkan mobil dan menyapa ramah sang penjaga, dia pikir Rama hanya tamu biasa.

"Bapak datang terlalu pagi, yang biasa menemani tamu belum datang," kata bapak itu.

Rama berlagak seperti turis saja dan melongok-longok rumah Belanda itu. "Masih asli ya, Pak. Kalau di halaman belakang ada apa?" pancing Rama.
"Ada bungker," ujar si penjaga terpancing. Ini dia! Jantung Rama berdegup kencang tapi mencoba tenang.

Ingatan ini terlempar beberapa waktu lalu ketika Farhat mengucapkan kata yang sama, "Ada bungker". Bungker sih tidak masalah, tapi yang menarik perhatian Rama karena letak bungker ini berada dalam garis legendaris bernama Terowongan Rahasia Jakarta.

Legenda itu menyebutkan VOC membangun terowongan rahasia membelah Kota Jakarta. Ada yang percaya itu terkait dengan emas harta karun, ada yang percaya itu terkait dengan kelompok rahasia macam Freemason dan Illuminati

Apapun itu, Rama harus membuktikannya sendiri. Si penjaga pun dengan lugu mengantar saya ke halaman belakang rumah Belanda ini. Rama si petualang muda hanya berdua saja dengan penjaga yang menunjuk ke lubang kotak yang sempat diduga Rama sebagai lubang drainase.

Damn! Ini memang bungker kata Rama dalam hati. Lubang itu dipasangi tangga panjat alumunium, karena....
"Pak, anak tangganya salah ya?" tanya Rama.
"Memang nggak pas, Mas. Kalau mau turun pakai tangga ini," kata si penjaga memegang tangga alumunium itu.

Otak Rama berpikir keras. Naluri detektifnya bermain. Tangga turun ke bungker ini diubah! Anak tangganya tiba-tiba bertemu dinding sebelum sampai ke permukaan tanah.
"Pak, saya loncat saja cuma semeter ini," kata Rama.

Satu-satunya lubang cahaya
Sambil memegang kamera SLR-nya Rama melompat. Hup! Dia lalu menuruni tangga sampai tiba di belokan. Tangga itu membawanya ke sebuah ruangan bungker. Tingginya hanya 2 meter di bagian tengah dan lebih rendah di bagian kiri dan kanan. Sepatunya menginjak lantai lembab dan agak basah.

Rama berjalan ke tengah bungker yang agak gelap itu. Sumber cahaya hanyalah sebuah lubang angin di atas kepalanya. Berapa meter aku di dalam tanah? Pikir Rama. Lubang angin ini pasti disangka warga Jakarta yang tidak peduli sejarah sebagai lubang gorong-gorong.

Rama pun tiba di ujung bungker. Ada lubang! Tembok jebol itulah tepatnya. "Sial, aku bukan orang yang pertama kemari. Aku bukanlah orang pertama yang menduga ada terowongan rahasia di sini," pikir Rama.

Rama memeriksa bekas galian tembok itu. Gelap dan Rama tidak membawa senter. Lubang itu belum menuju kemana-mana. Penggalinya sepertinya menyerah. Tapi setidaknya dia berpikiran sama dengan Rama, bungker ini adalah terowongan yang sengaja diputus. Si penggali menduga akan ada ruang lain di balik ujung tembok bungker ini.

Rama pun sebenarnya agak ragu. Bungker ini memanjang dengan poros utara-selatan, bukan barat-timur sebagaimana legenda terowongan itu dikisahkan sesuai jalurnya di kawasan tersebut. Meski demikian, sejarah kepemilikan rumah ini yang menyebabkan Rama mau menguji teorinya.

Pemuda ganteng ini memperhatikan besi-besi berkarat yang mencuat akibat tembok yang dijebol paksa itu. Tiba-tiba, Rama memalingkan pandangannya ke bagian lain bungker ini. Dirabanya tekstur temboknya dan dibandingkan dengan tekstur di sekitar tembok yang dijebol.

Tembok itu membentuk pola-pola teratur dan Rama tahu betul itu apa, anyaman bambu bilik. Otak cerdasnya berkalkulasi walaupun ilmu arsitektur dan teknik sipilnya hanya modal membaca buku di perpustakaan. Besi, bambu, triplek.... Dan senyum Rama tersungging.... Dia berhasil memecahkan teka-teki bungker itu.

Rama pun bergegas naik keluar dari bungker. Sepi..... Si penjaga menghilang! Tiba-tiba rumah Belanda itu sepi dan tinggal Rama sendirian. Bahkan sampai Rama kembali ke mobilnya tidak ada siapa-siapa. Namun Rama tahu, ada beberapa pasang mata yang menatapnya dari kejauhan.

Tembok yang dijebol
Rama tak peduli. Satu hal yang pasti, dugaannya selama ini masuk akal. Kenapa terowongan itu diubah bentuknya, mungkin karena untuk menutupi rahasianya selama ratusan tahun ini. Toh, manusia Jakarta yang hidup di atasnya pun tidak peduli....

--------------

Teka-teki apa yang dipecahkan oleh Rama? Tunggu edisi lengkapnya di toko-toko buku terdekat langganan Anda :) Amiiiiiiiiin!

Sunday, February 17, 2013

Menjadi Wartawan Detektif - Part 3: Menyamar

Kalau menonton film Sherlock Holmes yang diperankan Robert Downey Jr, keren banget nggak sih pas dia menyamar jadi gembel, jadi perempuan, bahkan jadi tembok. Detektif memang identik dengan kegiatan 'undercover'.

Wartawan sih nggak segitunya. Tapi..... siapa bilang itu tidak dilakukan. Dalam kondisi tertentu, wartawan juga menyamar. Saya.... pernah menyamar beberapa kali hehehe.

Ada prinsip utamanya yang harus dipegang. Narasumber harus tahu kalau Anda wartawan. Tidak boleh seseorang diwawancarai diam-diam, lalu ucapannya muncul di media. Itu melanggar etika jurnalistik. Oleh karena itu menurut saya, menyamar tidak dalam kapasitas untuk menulis berita secara langsung.

Saat melakukan investigasi, menyamar hanya dalam kapasitas untuk mencari informasi yang akurat, kisah orang dalam, informasi A1, kisah-kisah tersembunyi, dongeng di balik layar. Hanya itu saja. Nah, nanti konfirmasi tetap dilakukan dengan wawancara sungguhan kepada pihak-pihak yang berwenang. Menjebak narasumber adalah tindakan yang tidak patut.

Pun demikian untuk saya. Menyamar hanya untuk mendapatkan pengetahuan mendalam mengenai suatu kasus atau kejadian. Tapi saya tidak pernah menulis itu menjadi berita, tanpa seizin nara sumber. Teknisnya macam-macam, bisa dengan melindungi identitas nara sumber. Atau, ada pihak-pihak yang menjamin kalau penulisan identitas ini sudah aman bagi yang bersangkutan.

Nah, kalau menyamar harus fokus ya. Jangan seperti intel polisi, terlalu memikirkan target buruan, tapi jadi nggak fokus dengan penyamarannya. Misalnya menyamar jadi tukang sayur, terus daging ayamnya ditawar sadis oleh ibu-ibu, pasrah saja. Atau, menyamar jadi tukang sapu, tapi menyapu asal-asalan.

Jangan bayangkan saya pakai kumis palsu atau jadi pohon ya, itu mah film banget. Saya pernah menyamar menjadi mahasiswa di Ujung Kulon agar bisa bertemu petani perambah yang berkonflik dengan pengelola Taman Nasional Ujung Kulong. Tapi menyamar yang paling asyik adalah yang ini:

Suatu ketika, Ariel Peterpan ditahan gara-gara video bokep-nya dengan dua artis perempuan. Pasti tahu dong kasus ini. Nah, seorang narasumber, menawarkan masuk ke tahanan Ariel di Bareskrim Mabes Polri, dengan cara menyamar. Pilihan jatuh kepada saya yang belum lama pulang dari Jerman. Pertimbangannya, sudah tidak akan ada orang yang mengenal saya di Mabes Polri.

"Benar ya, sudah nggak ada wartawan seangkatan gue yang liputan di Mabes Polri sekarang?" tanya saya.
"Bener Fay, sudah pada ganti kok anak-anaknya. Paling tinggal satu dua doang yang sezaman ama elo liputan di Mabes Polri," ujar kawan saya.

Soalnya percuma kalau saya menyusup, terus tiba-tiba ada yang memanggil, "Fay! Gimana Jerman? Kapan pulang?" Hehehehe.

Skenarionya simpel. Saya menjadi ajudan narasumber saya. Saya diberikan kemeja baru, bawa kamera, semua tas dan identitas saya ditinggalkan di kantor si nara sumber. Saya menjadi tipikal ajudan yang mengikut di belakang pejabat, bawa-bawain tas begitu. Penyamaran yang sederhana, bukan?

Tapi tetap saja.... "Fay, ngapain?" Tiba-tiba, ada suara memanggil saya di pelataran Bareskrim Mabes Polri. Rupanya teman lama wartawan juga. "Gue pindah kerja," sambar saya sebelum buru-buru masuk mengikuti 'atasan' saya.

Kami tidak mendatangi Ariel ke tahanan, melainkan Ariel yang dikeluarkan dari tahanan untuk menjumpai kami di sebuah ruangan. Jreng.... jreng, Ariel pun muncul!

Hah? Ariel kok sependek saya? Sumpah, saya pikir Ariel tinggi. Luna Maya dan Cut Tari suka apanya ya? Begitu yang terpikir di kepala waktu pertama kali melihat Ariel. Wajah Ariel sangat pucat dan kusut, Ariel tampak stress. Pengacaranya sempat curiga pada saya, tapi narasumber saya menegaskan kalau saya adalah ajudannya.

Kami pun mengobrol panjang. Narasumber saya meminta Ariel mengakui perbuatannya dan memikirkan dampak tindakannya terhadap para penggemarnya yang masih belia. Namun, Ariel bebal dan keukeuh tidak mau mengakui video-nya itu. Ya sudahlah, kami pulang.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Ariel yang saya beritakan. Namun, informasi langsung dari mulut Ariel saya share di redaksi, agar mereka dapat gambaran bagaimana kondisi Ariel. Berita soal Ariel, saya kemudian mewawancarai lagi pihak berwenang.

Menyamar dan bertemu Ariel yang pucat, orang lain saya hitamkan yaaa hehehe
Namun sekarang, saya sudah mendapat gambaran soal kondisi Ariel karena saya juga sudah bertemu langsung. Dan....... foto-foto sama Ariel hehehehe. Kapan lagi foto bareng Ariel di dalam masa penahanan. Namun, orang-orang lain terpaksa saya hitamkan ya, untuk melindungi identitas mereka.

Saturday, February 9, 2013

Menjadi Wartawan Detektif - Part 2: Liputan Kriminal

Ini adalah lanjutan dari tulisan pertama, Menjadi Wartawan Detektif. Dalam tulisan kedua ini, saya tidak bicara soal jurnalisme investigasi, tapi bicara wartawan yang berpikir seperti detektif, hehehe.

Sebelum saya menjadi redaktur pelaksana detikTravel, saya malang melintang di detikNews. Walaupun akhirnya pos liputan saya lebih banyak berkaitan dengan berita internasional dan politik, saya mencicipi juga liputan di wilayah (sebutan wartawan untuk kawasan kerja polisi di Jakarta). Mulai dari Polsek sampai Mabes Polri.

Untuk kawan-kawan yang lebih lama liputan di kantor polisi, mereka lambat laun mengembangkan cara berpikir yang sama dengan polisinya. Ini saya bicara soal polisi Reserse, bukan polisi cantik yang biasa cuap-cuap di TV soal macet Jakarta. Unit Reserse Kriminal ini beneran polisi yang tiap hari bekerja membuat Jakarta menjadi lebih aman. Anda baru melihat mereka di acara berita-berita kriminal.

Di Amerika, mereka inilah yang disebut detektif polisi. Biasanya, sore atau malam hari menjadi momen ngobrol antara para wartawan dan para reserse ini. Bukan untuk konsumsi berita, tapi ini obrolan untuk sama-sama meng-update kondisi sebuah kasus. Mulut resmi nantinya tetap memakai ucapan Kepala Unit Reskrim, Direskrimum dst.

Kalau polisi punya 'Cepu' alias informan di jalanan, maka wartawan juga punya 'Cepu' yaitu para polisi detektif ini. Ini hubungan yang dibangun dengan relasi yang bagus antara si wartawan dan polisi. Kenapa ini perlu? Dalam sesi ngobrol itu polisi bisa cerita bagaimana kasus berkembang, wartawan bisa memberi masukan dan tanya jawab langsung. Ini ada manfaat langsungnya loh. Di sini wartawan bisa belajar berpikir ala detektif.

Rupanya, kasus kriminal itu bisa dibaca polanya, dari modus, locus delicti alias tempat kejadian perkara, sampai para pelakunya. NYPD atau FBI di luar negeri sana,  menyebut ini Profiler. Kasus-kasus kriminal, karena sering terjadi, bisa terpolakan untuk memudahkan polisi menangkap pelaku.

Wartawan bisa ikut mempelajari profiler ini untuk berpikir ala detektif. Pada akhirnya nanti, si wartawan juga bisa mengira-ngira ini siapa pelakunya. Ada banyak profiler, tapi ada dua yang selalu saya ingat-ingat:

1. Kalau ada cowok mukanya agak ganteng atau lumayan, dan dia dibunuh dengan sadis, pelakunya homo
2. Kalau ada anak kecil diperkosa bahkan dibunuh, pelakunya keluarga atau tetangga fedofil

Saya kasih ilustrasi. Ini adalah sebuah kasus kriminal paling besar tahun 2008 di Indonesia, dan saya adalah wartawan pertama yang datang ke lokasi (boleh dong bangga sedikit, please....). Mana saya tahu ini bakal jadi kasus paling heboh tahun 2008 hehehe.

Saat itu adalah Sabtu 12 Juli 2008, pagi hari pukul 09.30 WIB. Saatnya saya pulang setelah menjalani tugas piket malam di markas detikcom. Saat motor saya melintas di perempatan Ragunan, ponsel saya berdering.

"Fay, ada mayat di belakang Ragunan, elo liputan lagi dong. Posisi ente paling deket tuh. Ntar Ari nyusul ente ke sono. Baru deh ente balik," kata Mas Djoko, korlip saya dari ujung sambungan telepon.

Walaupun habis begadang semalaman, tapi wartawan detikcom harus siap tempur. Walaupun badan lelah, tapi kalau kondisi genting dan belum ada wartawan yang siap, dan posisi sayang paling memungkinkan, saya siap liputan lagi! (Pasang baterai cadangan di jantung hehehe).

TKP-nya di Jl Kebagusan, dekat kantor IM2 dan SDN 14 Ragunan. Warga berkerumun di luar Police Line, dengan menunjukkan kartu wartawan, saya minta izin mendekat. Ada beberapa lembaran koran menutupi potongan tubuh yang tersebar di beberapa tempat. Wah, dimutilasi nih!

Kok santai aja Fay, lihat mayat dipotong-potong gitu? Hmmm, ada proses pembelajarannya. Kalau saya wartawan newbie, mungkin muntah-muntah juga.

Usai mengambil gambar, ada polisi nyeletuk, "Korban ganteng nih." Voilla! Itu adalah kode profiler nomor 1 yang saya sebut di atas. Pelakunya diduga gay. Penemuan mayat pagi itu menjadi awal dari terungkapnya kasus pembunuh berantai paling sadis di Indonesia: Ryan si Jagal Jombang, seorang gay.

Kasus kedua: Bocah kelas V SD di Jakarta Timur mengalami peradangan dan meninggal. Polisi menemukan tanda korban pernah diperkosa. Pelaku? Berdasarkan profiler nomor 2, pelakunya kalau bukan keluarga, ya tetangga. Belakangan diketahui, pelaku adalah ayahnya sendiri.

Dengan belajar mempelajari profiler dari kasus-kasus kriminal, wartawan terbantu membayangkan bagaimana suatu berita kriminal yang akan ditulisnya bergulir ke arah mana. Menjadi wartawan, artinya kita juga belajar berpikir seperti detektif!

Friday, February 1, 2013

Ketika PKS Tersandung Daging

Semoga judul blog kali ini belum dipakai jadi judul Tempo atau media lain hehehe. Tapi begini ceritanya.... Hari Kamis 31 Januari kemarin, saya nggak ngantor dan meninggalkan Shafa sendirian mengatur detikTravel, karena teman-temannya liputan semua.

Saya seharian berobat ke RS Karya Bhakti Bogor karena sesak nafas. "Bapak kerja apa sampai sakit begini?" kata dokter penyakit dalam yang saya datangi, sebelum meminta saya berbaring di ranjang periksa. Saya menjawab kalau saya wartawan dan dia langsung menyambar, berita apa yang menarik untuk saya ceritakan.

Sambil berbaring dan terhalang tirai, sementara Pak Dokter memeriksa data medis saya di meja, berceritalah saya tentang berita seru: Presiden PKS jadi tersangka KPK. Puas rasanya saya cerita panjang lebar, dan baru sadar, Pak Dokter ini tidak kunjung menghampiri saya dan membela Presiden PKS Luthfi Hassan Ishaaq dari tempat duduknya itu.

"Luthfi pasti difitnah, ada yang nggak suka sama PKS, terus KPK diumpanin untuk membidik PKS. Pasti Demokrat karena kemarin Andi Mallaranggeng sudah kena sama KPK," kata Pak Dokter.

Saya bangkit dari ranjang periksa. Ini dokter lagi ngapain sih? Wah dia sedang membaca BBM.

"Nih Luthfi Hassan bilang ini adalah fitnah...." kata dia.

Oaaalaaaaaah, Pak Dokter ini kader PKS toh dan dia dapat BBM internal para kader PKS. Pantesaaaaaaaan. Semua kenalan saya yang kader PKS di BB, statusnya dua. Kalau bukan hadits 'fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan', statusnya 'Hasbunallah wa ni'mal wakil....'

Untung saya nggak diapa-apain sama Pak Dokter ini setelah saya mengkritik PKS hehehe. Tapi akhirnya kita jadi mengobrol seru. Dia yakin PKS diobok-obok menjelang Pemilu 2014, saya mengiyakan. Dia yakin kalau PKS bisa bersikap tepat, PKS justru mendapat simpati karena dizalimi, saya lebih mengiyakan.

Tapi saya luruskan pandangan dia sedikit. Kalau KPK sengaja membidik PKS, kan Demokrat sudah lebih dulu menjadi korban KPK. Kalau Luthfi dan PKS yakin tidak bersalah, tidak usah takut dengan KPK toh. Logikanya sesederhana itu.

Saya memahami kegeraman Pak Dokter sebagai kader PKS di akar rumput. Ini kegeraman yang sama dengan jutaan kader PKS di seluruh Indonesia. Masalahnya adalah, apa yang sesungguhnya terjadi hanya Luthfi dan Allah saja yang tahu.

Kalau yakin tidak bersalah, lebih baik Luthfi dan tim hukum dari PKS menyiapkan pembelaan terbaik untuk berhadapan di Pengadilan Tipikor. Itu lebih baik daripada PKS bersikap reaktif. Concern saya cuma satu dan itu agaknya kurang dibahas juga dalam diskursus PKS dan daging impor ini.

Begini, ketika KPK mengatakan dua alat bukti sudah cukup untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka. Salah satu alat bukti itu, sepanjang pengetahuan saya sebagai wartawan, adalah rekaman sadapan. Alat bukti kedua bisa tangkap tangan, dokumen penting, dll. Rekaman sadapan ini bukan main-main. Terukur dengan perbandingan serius bahwa ini adalah suara asli orang yang bersangkutan. Rekaman sadapan KPK selama ini mengungkap sisi gelap para tersangka yang selama ini terbalut oleh pencitraan.

Terserah PKS mau bilang ini fitnah atau apa. Saya hanya khawatir, hanya khawatir...... Ketika rekaman itu diperdengarkan KPK di Pengadilan Tipikor, ucapan Luthfi yang direkam itu akan mengungkapkan sisi lain Luthfi yang kita tidak tahu. Saya membayangkan hal itu akan menghancurkan hati jutaan kader PKS di akar rumput, yang masih lurus, idealis, ghirohnya luar biasa untuk umat, seperti Pak Dokter saya ini.

Semoga tidak ada yang disembunyikan Luthfi dan PKS bisa membuktikan ini fitnah belaka. Tapi jika memang KPK berhasil mengungkapkan hal yang selama ini tersembunyi, ya sudah. Hancurlah PKS tersandung daging. PKS harus legowo kalau benar demikian.

Kalau Presiden baru PKS Anis Matta menyerukan tobat nasional dan para kader PKS lantang berujar 'Hasbunallah wa ni'mal wakil', saya akan berkata lain. 'Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba'ah, wa arinal-batila batilan warzuqnaj-tinabah'. Ya Allah, tunjukan kalau benar, tunjukan kalau batil. Sederhana!

Kalau PKS nyaman berada di posisi yang dianggap benar, apakah PKS juga siap menerima kenyataan kalau seandainya mereka salah? Sekarang kita bicara sisi spiritual sedikit sebagai penutup. Kalau PKS merasa selalu membela Allah, lantas Allah malah memberikan kejadian ini untuk PKS. Bisakah mereka berpikir jernih mengenai apa yang ingin disampaikan Allah? Berpikirlah...

Sunday, January 13, 2013

Tucuxi dan Mimpi Anak-anak Habibie

Bangun subuh, baca detikcom rupanya ada berita detikOto, soal Danet Suryatama angkat bicara mengenai mobil Tucuxi. Wow, detikOto sampai dini hari uplod berita. Tapi memang penting banget sih masalah Tucuxi. Saya kali ini bukan mau bicara soal otomotif dan rencana industri mobil nasional, bukaaaan.

Saya tertampar dengan kalimat terakhir Danet, "Siapa menggagalkan mimpi anak-anak Habibie?" Jleeb, rasanya seperti sebuah tikaman di jantung. Habibie, manusia yang satu itu berhasil melambungkan mimpi jutaan anak negeri ini untuk meniru dirinya, mencari pengalaman ke luar negeri dan jadi orang pintar. Serius kawan, manusia-manusia Indonesia yang jenius banyak di luar sana.

Danet, saya harus menghela nafas sebelum melanjutkan kalimat ini, adalah orang kesekian ribu yang tidak dihargai pemerintah bangsanya sendiri. Saya sebut pemerintah, karena kalau urusannya people to people, mereka lebih bisa menghargai orang jenius ini daripada pemerintahnya.

Selama merantau di Jerman, saya sering bertemu dengan orang-orang seperti Danet. Manusia dengan tingkat kecerdasan luar biasa. Mereka ada pada level yang saya sendiri tidak sangka manusia Indonesia bisa sepintar itu. Gila man, orang Indonesia tuh boleh diadu dengan orang paling pintar dari belahan dunia mana pun. Sebel saya kalau melihat pejabat kita merasa inferior kalau ketemu bos perusahaan asing atau pejabat pemerintahan asing. Hari gini masih punya mental bangsa jajahan? Hah, sudahlah!

Balik lagi soal manusia Indonesia jenius. Guru bahasa Jerman saya di Hartnackschule Berlin sampai punya anggapan begini: Semua orang Indonesia datang ke Jerman untuk belajar teknologi. Nggak salah kok, mereka adalah Anak-anak Habibie, generasi muda Indonesia yang belajar aneka ilmu yang dahsyat. Bidangnya sudah aneh-aneh. Lagipula, ngapain sih belajar yang biasa kalau mereka punya otak yang luar biasa.

Ada dua ilmuwann yang saya cukup kenal. Demi menjaga privasi mereka,  kita pakai inisial saja ya. Yang pertama ini adalah Pak H. Bidangnya teknik sipil, namun sangat tinggi ilmunya. Tahu nggak kenapa kontruksi beton buatan Jerman kuat-kuat. Mereka menguji beton konstruksinya diledakan! Blarrr! Dan manusia jenius di balik uji coba beton ini adalah Pak H dan dia adalah satu-satunya orang Indonesia yang ada di badan riset beton itu.

Ada ucapan beliau yang terus terngiang-ngiang di kepala saya. "Mas Fitraya, kalau saya ke Indonesia, nanti saya mau kerja apa?" Persis! Ya Tuhan, bangsa ini belum sanggup menampung anak-anak Habibie yang kepintarannya jauh melebihi para anggota DPR yang terhormat itu.

Orang kedua adalah ilmuwan geofisika, Pak M namanya. Sempat berbakti di Indonesia dan terlibat dalam penanganan Kasus Lumpur Lapindo. Namun rupanya pihak Lapindo tidak butuh orang jujur. Ketika Pak M bicara apa adanya soal kemungkinan human error dalam kasus Lapindo, dia malah didepak. Mendepak orang sejenius ini? Karena kejujurannya? Bangsa kita sudah sakit.

Jerman pun mengambil Pak M. Dia kini menjadi salah satu ilmuwan ternama pada sebuah universitas top di Jerman. Orang Indonesia, saudara-saudara sekalian. Masih banyak orang-orang seperti mereka, bertebaran di seluruh dunia dengan kemampuan luar biasa. Mereka siap membangun Indonesia, tapi tidak ada political will yang serius dari pemerintah Indonesia untuk menghimpun mereka.

Saat saya hendak meninggalkan Jerman untuk pulang ke Indonesia, Pak H dan Pak M cerita ada wadah yang sudah dibikin namanya Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4). Wah saya ikut girang, daripada menunggu niat baik pemerintah, mending mereka yang jemput bola menghimpun diri. Bayangkan anak-anak Habibie ini di seluruh dunia merapatkan barisan, ingin berbuat sesuatu untuk bangsa.

Tapi, masalah Tucuxi ini seperti pukulan terhadap mimpi idealis mereka untuk menyembuhkan bangsa yang berpikir pendek dan instan ini. Danet, kalau saya tidak salah, adalah bagian dari jaringan I4 ini. Saya hanya bisa membayangkan sakit hatinya Danet.

Saya hanya berdoa......... Ah lagi-lagi saya harus menghela nafas panjang. Please, Danet, Pak H, Pak M dan kalian wahai anak-anak Habibie di segala penjuru planet Bumi, jangan menyerah dengan bangsa ini. Kalau bangsa ini memang kerbau. Cocoklah hidungnya dan bawa ke padang rumput yang hijau, lalu ajari kerbau ini menjadi manusia Indonesia seutuhnya.

Saya hanya mengutip, kalimat pembuka surat terbuka I4 yang dibikin dulu banget waktu deklarasi. Ingat-ingatlah kata-kata ini, ingat-ingatlah mimpi kalian:

Kepada Para Ilmuwan Indonesia Internasional di Berbagai Belahan Bumi
Bahwa sesungguhnya kemajuan dan kemuliaan suatu bangsa tidak terlepas dari penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Kemajuan dan kemuliaan suatu bangsa merupakan kristalisasi keringat dan kerja keras dari bangsa tersebut dalam menguasai, memanfaatkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi dalam pembangunan bangsanya.


Anak-anak Habibie, kalian adalah pemuda yang disebut Soekarno dapat mengguncang dunia!

Sri Lanka: Di Titik Nol Sebuah Negara

Nampang depan Independence Memorial Hall
Ini masih kelanjutan cerita soal liputan ke Sri Lanka pada akhir Maret sampai awal April 2012 lalu. Usai dari Sri Lanka Expo 2012 dan mengisi perut dengan aneka kari di Harbour Room, Grand Oriental Hotel yang antik, saya masih punya banyak waktu luang sore hari.

Anthony yang jadi pemandu saya menawarkan kami, 4 jurnalis dari Indonesia ini, pergi ke monumen kemerdekaan Sri Lanka. Secara saya penikmat jejak peradaban dan sejarah, saya langsung setuju. Maka jadilah Anthony membawa kami ke kawasan Cinnamon Garden.

Independence Memorial Hall adalah monumen nasional yang sangat penting untuk bangsa Sri Lanka, sekaligus objek wisata menarik untuk wisatawan. Letaknya di jantung Kota Colombo. Kalau kita traveling sendirian, tanya sopir bajaj yang bertebaran di kota ini, mereka pasti bisa mengantar Anda ke taman alun-alun ini.

Karena namanya Hall alias aula, monumen ini memang berbentuk seperti aula dengan banyak tiang dan atap kokoh, namun sengaja dibuat tanpa dinding. Pengunjung bisa masuk dari arah mana saja. pada 28 Maret 2012 sore itu, matahari bersinar terik sekali. Tadinya mau foto narsis lama-lama, eh nggak jadi.

Patung Stephen Senanayake, PM Sri Lanka pertama
Dalam catatan sejarahnya, pada 4 Februari 1948, di lokasi ini menjadi tempat diresmikannya parlemen pertama Sri Lanka oleh Pangeran Henry dari Inggris. Hal itu sekaligus menandai, dimulainya pemerintahan Sri Lanka yang berdiri sendiri, bebas dari kekuasaan Inggris.

Arsitekturnya bukan sembarangan. Aula kemerdekaan ini meniru Mogul Moduwa, ruang perayaan dari Kerajaan Kandy, kerajaan terakhir di Sri Lanka sebelum dijajah Inggris.

Di depan aula ini tegak berdiri patung Stephen Senanayake. Dialah bapak bangsa untuk Sri Lanka, sebagai Perdana Menteri pertama Sri Lanka. Dia menjadi ikon, seperti halnya Soekarno menjadi proklamator Indonesia bersama Mohammad Hatta.

Objek wisata ini menarik untuk dikunjungi karena menjadi titik awal lahirnya Sri Lanka. Tempat ini gratis lho untuk didatangi. Sebagai bonus tambahan, jangan lewatkan Independence Memorial Museum yang terletak di ruang bawah tanah aula kemerdekaan ini. Sayang kami tidak punya banyak waktu untuk melongok isi museum.

Singa, lambang negaranya Sri Lanka
Oh, jangan lupa untuk menikmati relief di langit-langit di dalam aula. Relief ini menceritakan sejarah Sri Lanka tapi dalam periode di luar dugaan saya. Ada relief sebuah gunung. Anthony bilang itu adalah Adam's Peak alias Gunung Sri Pada.

Gunung itu diyakini sebagai tempat Nabi Adam turun ke bumi. Hal itu ditandai dengan sebuah tapak kaki di puncak Sri Pada. Sayang beribu sayang, Adam's Peak tidak ada dalam itinerary saya... Haaaaah ya sudahlah. Anyway, kisah soal monumen ini sudah saya tulis juga untuk detikTravel.

Sri Lanka: Sebuah Pemandangan 175 Tahun

View dari balkon Harbour Room
 Beres liputan Sri Lanka Expo 28 Maret 2012 silam, sambil nggak dapat berita apa-apa juga, saya, kawan-kawan wartawan dan Mba Glory Singapore Airlines memutuskan hengkang dari sana. Hmmm, rupanya panitia Expo sudah menyiapkan tempat untuk kita makan siang: Grand Oriental Hotel. Rupanya bukan tempat sembarangan. Mereka ingin sekalian mempromosikan sebuah tempat yang bisa jadi objek wisata sejarah di Colombo.

Lorong kota tua di York Street
Kolonialisme Inggris di Colombo, Sri Lanka, menyisakan banyak bangunan antik yang memesona wisatawan. Grand Oriental Hotel ini adalah salah satu bangunan antik tersebut. Tempat ini menawarkan suasana makan zaman panjajahan dengan pemandangan Pelabuhan Colombo. Klasik!

Hotel jadul ini terletak di ujung jalan York Street, di kawasan kota tua Colombo. Patokannya gampang, hotel ini bersebelahan dengan Mabes Polisi Colombo dan pintu masuk Pelabuhan Colombo. Kita sempat menikmati lorong-lorong kota tua ini sebelum masuk ke dalam hotel.

Di lobi hotel, ada plakat soal keterangan pembangunan Grand Oriental Hotel. Dibangun dengan duit 80.000 Poundsterling oleh Pemerintah Inggris pada 1835, hotel ini selesai dibangun pada 1837. Artinya, hotel ini sudah berumur 175 tahun, wow!

Untuk menikmati pemandangan terbaik di Pelabuhan Colombo, silakan naik ke lantai 5 hotel ini menuju restoran Harbour Room. Nama tempatnya pas banget. Restoran ini dikonsep dengan suasana restoran di dalam kapal dan punya pemandangan menakjubkan dari Pelabuhan Colombo. Para wisatawan yang berkunjung bisa menikmati buffet atau ala carte tergantung hari kunjungannya.

Yang unik, daftar menu minumannya berbentuk menyerupai peta tua. Sementara, makanan hari ini berkonsep buffet. Begitu melihat buffet-nya, mata saya langsung hijau. Kari! Kari bertebaran di mana-mana! (pakai efek mata berlinang-linang). Saya campur semua di piring, Dhal Curry, Chicken Curry dan Mutton Curry.

Tampak depan Grand Oriental Hotel
Makanan enak sudah di meja, kini saatnya menikmati pemandangan. Meja paling dekat jendela memang menjadi rebutan. Pemandangannya bagaikan layar TV raksasa menampilkan pelabuhan dan laut lepas. Aktivitas bongkar muat kapal, kapal patroli, serta kapal pesiar di kejauhan, hiruk pikuk itu begitu terasa.

Tapi, kita ingin pemandangan yang lebih asyik. Jadi setelah makan, kita melipir ke balkon restoran. Panas hawanya tapi kita bisa menikmati angin pelabuhan, suara kapal pun terdengar lebih jelas dan lebih leluasa untuk mengambil foto.

Di kepala saya langsung terbayang, bagaimana para pejabat kolonial Inggris, dan para landlord pemilik perkebunan teh dahulu bergaul di tempat ini. Pada malam hari, pasti lampu-lampu pelabuhan juga akan tampil dengan cantik. Setelah 175 tahun berlalu, suasanya klasik ini nyaris tak berubah.

Soal suasana makan di Grand Oriental Hotel ini sudah tayang di detikTravel juga kawan-kawan...

Saturday, January 12, 2013

Menjadi Wartawan Detektif - Part 1: Investigasi

Serius, yang membuat saya jadi wartawan, salah satunya adalah gara-gara membaca komik Tintin sewaktu kecil. Bayangan saya, wartawan itu kerjanya mengungkap misteri dan rahasia begitu. Semacam mengungkap Rahasia Kapal Unicorn hehehehe.

Ternyata bayangan itu tidak salah-salah amat. Jurnalisme Investigasi, begitulah istilah umum menyebutnya. Wartawan mengungkap suatu kasus atau peristiwa dengan riset yang sangat detil dan mendalam. Fakta-fakta yang diungkap belum pernah diketahui publik sama sekali. Kalau kata Kasino Warkop, seperti jadi detektif partikelir.

Satu-satunya tempat untuk memuaskan hasrat investigasi itu adalah detikNews, sekarang plus Majalah Detik dan Harian Detik. Kayanya kalau di detikTravel belum ada yang bisa diinvestigasi hehehe, belum lho ya.

Sepanjang karir saya sebagai wartawan, ada sebuah kasus yang saya ungkap, diinvestigasi dari nol, sampai akhirnya jadi ramai se-Indonesia. Pokoknya ini kasus yang menjadi kenangan untuk saya, karena memuaskan hasrat pribadi saya melakukan investigasi sampai tuntas.

Kasus itu adalah Penipu Cantik Selly Yustiawati yang bikin ramai Indonesia pada awal-awal tahun 2010. Hayoooooo pada masih inget nggak kasusnya? Cewek, cantik, masih muda, jago tipu. Saking banyaknya korban sampai mereka bikin grup di Facebook lho.

Kasus ini bermula dari curhatan sepupu saya yang baru saja ditipu jutaan rupiah oleh seorang gadis muda bernama Selly. Nama itu seperti pernah saya dengar, gebetan teman saya yang lain. Saya tanya ke teman saya itu, dan dia bilang, "Wah nipu tuh cewek, untung belum jadian ama dia." Teman saya menyebutkan si gadis penipu mengaku sebagai wartawan Kompas yang liputan di Mabes Polri.

Saya hanya punya satu nama cewek anak Kompas yang liputan di Mabes Polri, dan namanya Sarie bukan Selly. Ketika saya hubungi Sarie, makin kagetlah saya kalau Selly habis menipu para wartawan dan karyawan Kompas. Selly pernah bekerja sebagai resepsionis Kompas, kemudian resign sebelum kasus penipuannya ketahuan.

Yak, sampai sini saya ingin menjelaskan elemen utama yang penting untuk liputan investigasi: INSTING. Ini seperti Spider Sense punya Spiderman gitu. Insting kalau yang saya hadapi adalah sesuai yang bisa bikin geger. Nggak ada sekolahnya sih, wartawan detikcom melatih insting berita melalui diskusi berkelanjutan dengan Pimred saat itu Pak Budiono Darsono dan Wapimred saat itu Arifin Asydhad. Belajar memahami insting mereka dan mencoba melatih sendiri insting berita kita.

Insting saya mengatakan ini kasus bakal bikin ramai. Kapan lagi ada penipu cantik? Saya bawa kasus ini ke Mas Asydhad, beliau berpikir sebentar dan lalu bilang, "Mainkan, Fay! Tapi kamu riset dulu dari awal yang benar."

Saya waktu itu sudah editor detikNews. Masih liputan ke lapangan, tapi separuh waktu di kantor mengedit tulisan kawan-kawan di lapangan. Kalau sudah ada perintah 'Mainkan' itu artinya editor yang ditunjuk bertanggung jawab penuh mengembangkan beritanya dari nol dan memanfaatkan semua asset wartawan di lapangan untuk mengumpulkan data dan informasi. Jadi ruang redaktur itu isinya editor-editor yang pada pegang kasus gitu. Si X fokus sama kasus A, Si Y fokus sama kasus B. Kayak detektif pegang kasus kan jadinya.

Saya memulainya dengan membuka arsip berita, detektif banget kan buka-buka arsip kerjaannya. Selly pernah dilaporkan ke Polda Metro Jaya karena menipu para mahasiswa Universitas Moestopo pada tahun 2006. Wartawan detikcom Amel di Polda dan Didi di Polres Jaksel memberi informasi kalau Selly juga menipu karyawan Hotel Grand Mahakam pada 2009 dan Kompas juga pada 2009.

Informasi awal cukup dan saya yakin dengan pengembangan berita, saya pun siap melepas berita pertama. Saya butuh judul yang sangat catchy dan pilihan saya adalah film Leonardo di Caprio 'Catch Me If You Can'. Si Selly ini mirip banget dengan karakter dalam film itu, muda dan jago tipu. Jadilah judul pertama "Catch Me If You Can, Perempuan Cantik Menipu Lagi"


Pelan-pelan, meja saya yang kosong menjadi penuh dengan corat-coret, tempelan nomor telepon para korban, dan nomor telepon lain, aneka skenario yang mungkin dilakukan Selly dan semua serba Selly ada di meja saya. Satu orang mengarahkan saya kepada orang lain. Mungkin ada sekitar 50 orang yang saya wawancara. Sementara berita tentang Selly semakin banyak yang muncul di detikcom, dari tulisan saya dan tulisan teman-teman yang membantu saya.

Beberapa obrolan dengan psikolog dan kriminolog menyebutkan kalau saya berhadapan dengan orang yang licin, pintar, agak-agak psycho. Bayangkan, Selly mencuri identitas seorang wartawati Kompas sungguhan, mempelajari gerak-gerik, cara bicara, gaya kerja. Selly mengubah dirinya menjadi sang wartawati tersebut, plus membawa-bawa ransel Kompas kemana-mana. Psycho banget nih orang. Saya harus bisa berpikir satu-dua langkah di depan Selly, menebak kemana dia akan pergi.

Isu yang kita mainkan, sukses atau nggak, parameternya satu. Kalau semua media di Indonesia ikutan menulis Selly, itu artinya kita SUKSES. Dari TV, koran, radio akhirnya semua ikut memberitakan Selly. Bahkan Tabloid Nova saja bikin edisi Selly. Wah ketika semua menulis Selly, saya girangnya bukan main. Artinya ruang gerak penipu ini makin terbatas, selain juga merasakan orgasme jurnalistis (istilah apaan nih?!). Maksud saya rasanya puas banget bisa bikin isu yang bisa bikin ramai negara ini yang udah lelah dengan berita politik dan korupsi.

Dari investigasi saya, begini pergerakan Selly: Usai menipu Kompas dia lari ke Depok, menipu di Depok lantas dia lari ke Bogor. Usai menipu di Bogor, dia lari ke Bandung. Nah, ada garis batas yang jelas antara investigasi polisi dan investigasi wartawan. Investigasi wartawan sampai kapanpun tidak bisa menjadi alat penyidikan. Masalahnya dalam banyak hal, wartawan selangkah atau dua langkah lebih maju dari polisi. Kita sudah tahu Selly di Bandung, polisi masih berpikir Selly di Bogor. Hadeeeeuhh.

Satu-satunya cara adalah membujuk agar korban melapor, ini yang paling susah. Kriminolog dan psikolog yang saya wawancarai benar juga. Korban penipuan paling malas melapor ke polisi, ini yang bikin Selly makin merajalela. Saya selalu membujuk para korban agar melapor ke polisi. Tapi walaupun korban malu ke polisi, mereka punya mekanisme sendiri: Bikin grup Facebook.

Selly yang mencari korban lewat Facebook, dilawan para korbannya lewat Facebook juga. Ratusan orang jadi anggota grupnya. Ada korban dan publik yang mau tahu soal perkembangan kasus Selly. Jadinya saya lebih mudah menyebar jejaring informasi lewat jejaring sosial. Setiap hari saya memasang umpan, barangsiapa yang punya info soal Selly akan saya hubungi. Setiap pagi, setiap umpan yang berbalas saya segera hubungi untuk setiap informasi terbaru soal Selly.

Akhirnya, korban yang di Bogor dan di Bandung berani melapor ke polisi. Nah kalau sudah begini kerjaan saya akan lebih mudah untuk mem-push kepolisian menindaklanjuti kasus ini. Akhirnya pada Maret 2010, Selly masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron. Artinya semua polisi di Indonesia bisa menangkap Selly. Selly lantas menghilang ditelan bumi, tapi saya tahu Selly kabur ke Yogyakarta. Tiarap dan tidak ada lagi kasus penipuan yang muncul. Laporan sumber kepada saya juga menyebutkan Selly muncul di Bali.

EPILOGUE

Setahun setelah Selly menjadi buron, wartawan detikNews di Bali, Gede Suardana memberi tahu Selly tertangkap di Bali. Waktu itu, kasus Selly sudah saya anggap tutup buku sementara waktu. Selly babak dua ini sudah tidak menjadi tanggung jawab saya lagi, tapi sudah dikerjakan ramai-ramai. "Ketangkep juga tuh Fay, Si Selly," ujar seorang kawan.

Akhirnya Selly diadili dan divonis 11 bulan penjara. Tidak lama, tapi semoga itu membuatnya jera dan tidak ada Selly lain di masa depan.

Kalau di film detektif, ini adalah adegan dimana saya kembali ke kantor, menggantung jas dan melempar topi saya. Kemudian duduk dan menaruh kedua kaki saya ke atas meja kerja. Kamera lalu men-zoom in wajah saya, yang lalu berkata, "Case closed!"

Monday, December 24, 2012

Menikah Muda dan Bangga!

Di tengah tulip Britzergarten Berlin
"Mas Faya anaknya mau tiga, dan kita belum menikah!" pekik anak buah saya, Putri, waktu saya memberi tahu Travel Troopers (sebutan untuk awak detikTravel), kalau Desti lagi hamil.

Yup, saya dan Desti menikah dalam usia 23 tahun. Pada saat saya berumur 24 tahun, saya sudah menggendong bayi bernama Zahra. Masih muda bukan? Sampai ibu saya bilang, pernah ada yang menduga kami menikah karena Desti hamil duluan. Apaaa? Sembarangan! Saya adalah pria gentle yang menjaga kehormatan perempuan...

Tergesa-gesa juga bukan. Menikah dengan Desti adalah keputusan terbaik dalam hidup saya. Menikah muda adalah langkah yang kami ambil dengan PENUH perhitungan. Lihat, kata 'penuh' ditulis dengan bold, italic, underline dan uppercase. Ini bukan main-main.

Pada saat saya seusia anak buah saya sekarang, saya sudah berpikir jauh lebih dewasa dari mereka. Dunia mereka masih bermain, belajar kerja, cinta masih dicari, kalaupun dapat masih flirting kanan kiri. Mungkin enak hidup seperti itu. Namun sayang, itu bukan pilihan untuk saya saat itu.

Saya menjalani hidup yang keras. 5 Tahun paling kelam yang akhirnya mengubah Fitraya Ramadhanny selamanya. Shafa, anak buah saya, nggak percaya saya pernah hidup dalam kegelapan hahahaha. Dia mengira saya lugu, polos dan lurus hehehehe.

Mungkin butuh 5 blog untuk menjelaskan masa-masa itu, tidak sederhana memang. Ibu saya berulang kali bilang, "Mama bersyukur kamu bisa melewati masa itu, bahkan kamu itu nggak lari ke narkoba!" Saya pribadi bersyukur masih hidup, tidak berakhir menjadi sebuah artikel di koran lampu merah bagian berita bunuh diri.

Saya dipaksa hancur di saat saya baru mau meretas masa depan. Saya melawan dengan menjadi nakal. Lelah menjadi nakal, saya lari. Lelah melarikan diri, saya belajar bangkit dan menolak hancur. Saya harus melindungi orang-orang yang saya sayang. Walaupun saya babak belur, namun saya merasa hidup saya masih layak diperjuangkan. Karena saya menjalani itu tidak sendirian, ada seorang gadis cantik dan brilian otaknya, yang mengetahui kejadian itu sejak awal, dan menemani saya melewati masa sulit itu. Namanya Desti Fitriani.

Kebun anggur Sans Soucci Palace, Postdam
Desti, juga menjalani hidup yang sama keras. Dalam usia sebelia itu, kami dipaksa menghadapi dan mengatasi masalah untuk orang-orang 10-20 tahun lebih tua dari kami, justru karena mereka yang kekanak-kanakan. Situasi memaksa kami berpikir dan bertindak dewasa, jauh lebih dewasa dari teman-teman sebaya. Pilihan kami cuma dua, bertahan atau hancur.

"Kita mesti mikir hidup ini nanti bagaimana, bukan bagaimana nanti," ujar Desti, yang selalu saya ingat sampai sekarang. We were living in hell...

Penasaran ya ada apa yang terjadi? Desti bilang, nggak usah ditulis jadi blog hahahaha. Cukup jadi lesson learned for us. Sori......... Anyway, cinta kami yang awalnya tipikal gejolak kawula muda (halah ampun ini istilahnya), tiba-tiba menemukan makna sejatinya. Jadi beneran, jadi serius. Kami saling mencintai untuk bertahan hidup. Saling menguatkan satu sama lain, saling membantu satu sama lain, saling menjaga satu sama lain. Saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing, ini yang paling sukar. Mentertawakan dan meratapi nasib kami bareng-bareng.

Kami seperti tinggal berdua melawan dunia.Teman-teman SMA, cuma 2 orang yang tahu masalahnya. Teman-teman kampus nggak ada yang tahu juga kami menghadapi apa, dan masa iya kami mesti pasang pengumuman. Kami tersenyum di depan mereka dengan hati yang getir, kami tertawa dengan hati yang menangis.

Kenapa saya begitu yakin akan menghabiskan hidup dengan Desti? Saya saat itu menyadari kalau pasangan hidup bukan seseorang yang sempurna. Manusia nggak ada yang seperti itu. Pasangan hidup adalah seseorang yang saya butuhkan. Seseorang yang bisa melengkapi keberadaan kita, walaupun dia berbeda sifat. Apa yang nggak ada di saya, ada di Desti. Begitu juga sebaliknya. Desti lah yang menyempurnakan keberadaan saya di dunia.

Saya dan Desti sampai kepada suatu titik kesimpulan. Menikah adalah tiket kami untuk menyelamatkan diri dari dunia kami yang sakit. Saat itu usia kami bahkan baru 20 tahun. Sadar bahwa kami mungkin menghadapi tantangan dari orangtua masing-masing, kami mempersiapkan dulu pernikahan itu, sebelum kami benar-benar menyampaikan rencana itu kepada orangtua kami 2 tahun kemudian.

Saya menyampaikan niat saya menikah dengan Desti, bicara empat mata dengan ayahnya, saat umur saya 22 tahun.... masih kuliah. Tapi saya berani karena membawa rencana matang, bukan omong kosong. Calon mertua saya tahu cobaan hidup apa yang saya hadapi.... dan mengizinkan saya menikahi Desti. Dengan syarat, saya lulus kuliah dulu, karena Desti lulus setahun lebih cepat. Desti angkatan 1999, saya angkatan 2000.

6 Bulan setelah lulus kuliah, tepatnya 20 November 2004, kami menikah. Sebuah pernikahan yang kami persiapkan sendiri dibantu teman-teman, karena kami sadar tidak bisa membebani orangtua kami terlalu banyak saat itu.

Stockholm Palace
Delapan tahun berlalu sejak saat itu. Kami mensyukuri pernikahan kami. Benar-benar memulai dari nol, kini kehidupan kami penuh warna. Sempat berkelana 1 tahun di Jerman dan backpacker keliling Eropa, itu juga pengalaman berharga buat keluarga kecil kami. Ada Zahra si juara kelas, ada Dzaky si ganteng yang penuh tenaga, dan bayi di perut Desti.Saya sekarang Redaktur Pelaksana detikTravel dan Desti adalah dosen FEUI dengan gelar Master dari Jerman.

Tentu saja kami masih punya mimpi dan cita-cita. Mimpi dan cita-cita yang saya tahu tidak bisa saya kerjakan sendiri. Sedari awal, saya dan Desti adalah tim yang solid dan akan terus seperti itu. Kami harus punya visi jauh ke depan, itu yang membuat kami bertahan, walaupun dipaksa dewasa sebelum waktunya hehehe.

Kami kini sudah bisa tersenyum melihat masa lalu kami yang berat. Saya sendiri sudah berdamai dengan masa lalu, saya sudah memaafkan semua yang terjadi, memaafkan semua yang membuat kami jadi begini. Kami kini sudah memahami apa rencana Allah di balik semua ini. Memang ini yang jalan yang ditetapkan Allah untuk kami.

Allah mengganti semua air mata itu dengan sejuta kebahagiaan. Titik balik itu adalah pernikahan dini kami, seperti janji-Nya bahwa menikah itu membuka pintu rezeki. Menikah dalam usia muda, adalah hal terbaik yang pernah kami lakukan.