Monday, April 28, 2008

Protes Seorang Dokter Lugu

Jumpa pers di Kedubes AS hari itu agak berbeda. Gue lihat nggak pakai podium, melainkan meja panel dengan 5 bangku, serius banget neh. Untuk Dubes, Wakil Dubes, Direktur NAMRU dan 2 ilmuwan NAMRU.

Hari itu mereka melakukan pembantahan habis soal tudingan intelejen, mandegnya MoU serta berondongan pertanyaan soal kekebalan diplomatik yang aneh. Tensi sempat naik dari Dubes Cameron Hume yang dicecar soal kekebalan diplomatik ilmuwan NAMRU.

Di luar itu, diskursus NAMRU berkembang melebihi soal flu burungnya sendiri. Menkes Siti Fadilah Supari mengkritik dominasi perusahaan farmasi kapitalis di belakang riset flu burung. Bisnis milyaran dollar yang menanti pada detik pertama vaksin H5N1 terbaru telah siap.

Orang banyak yang bilang itu menteri ngga ada kerjaan, lugu banget, polos, kaya nggak tahu kapitalis, cari ribut, kaya ngga ada tugas laen, masih banyak masalah kesehatan lain, dst.

Terlepas dari gayanya yang ceplas ceplos seperti ibu arisan hehehe, gue memahami pikirannya. Menkes kita itu dokter, babe gue juga dokter. Mereka punya pola pikir sama sebagai individu yang mendedikasikan diri untuk keselamatan manusia.

Mereka hanya berpikir sederhana, kenapa orang yang paling sakit justru kesulitan mendapatkan obat. Indonesia dan Vietnam kehilangan ratusan penduduknya akibat flu burung. Namun vaksin sudah diborong habis negara-negara besar. Negara berkembang harus membeli sangat-sangat mahal sebuah vaksin yang virusnya diambil dari dalam rumah mereka sendiri.

Seorang dokter tidak bisa menerima logika ini. Dia akan protes, walaupun dia berhadapan dengan kekuatan kapitalis yang berlindung di belakang tekanan politik negara-negara besar.

Menkes masih juga dikritik berteori konspiratif. Munarman mungkin iya konspiratif, tapi Menkes adalah orang yang pernah menaruh harapan pada WHO, dan WHO lebih memilih negara-negara maju yang memberi suntikan dana.

Maju terus Bu Menkes! Rakyat Indonesia bersama anda!

Monday, April 21, 2008

Cinta Kupu-kupu

Cinta itu seperti kupu-kupu

Aku melihat mereka banyak dan terbang di sekitarku

Dan aku hanya duduk di sebuah bangku taman

Memperhatikan kemana kupu-kupu hinggap

Sedangkan aku….

Aku ditemani satu kupu-kupu paling cantik yang hinggap di jari telunjukku

Cukup satu yang tidak bosan kupandangi sepanjang hari itu

Besok, lusa dan selamanya

Kupu-kupu itu

Kamu………

Monday, April 14, 2008

Disturbing Behaviour

Dengan tagline 'Buat gue jalan raya', mobil Willys 4x4 itu dengan giras menerobos belukar dalam sebuah iklan rokok.

Kesannya macho, gagah, penakluk alam, tapi senyumku getir. Yang aku ingat adalah pulang mendaki Kawah Ratu, Gunung Salak dan melihat kerusakan di hutan pinggir desa.

"Abis dipake balapan off road," ujar teman kami yang orang Bogor.

Dahan patah, akar tercerabut, tunas tergilas. Apa yang macho dari pemerkosaan alam seperti itu? Mereka bukan jalan raya, mereka ratusan organisme yang rusak dilindas.

Alam bukan untuk ditaklukan Bung! Kita datang ke rumah besar yang bernama alam bebas untuk bertamu. Dan tamu harus tahu aturan. Buat yang pernah dan masih naek gunung pasti ingat. Karena ini perjanjian internasional kita dengan planet bumi. Yang diamini dari puncak Everest sampai dasar Laut Bunaken.

Kill nothing but time
Take nothing but picture
Leave nothing but footprint

Kita datang ke alam bebas untuk menegaskan diri kita adalah satu keping dari puzzle besar bernama ekosistem. Kita sama aja dengan penghuni alam lain. Satu kelebihan manusia hanya karena Allah menunjuk kita jadi khalifah. Khalifah adalah manajer yang boleh memanfaatkan isi alam tapi harus memastikan ekosistem tetap berjalan dengan baik.

Kita tidak berdiri tegak menantang gunung. Tapi kita ikut duduk bertasbih bersama tupai, elang, anggrek, eidelweiss, air dan batu.

Thursday, April 10, 2008

Selamet......selamet....

Bener-bener kalo kita dalam perjalanan tuh kudu berdoa minta selamet.

Kemaren malem baru balik dari kantor jam 21. Makan malem dulu di kantor sambil nunggu ujan berhenti.

Badan kerasa udah cape banget dan mata gue meredup. Bahaya juga nih nyetir motor begini sampe Parung.

Berhentilah gue di Pasar Parung, safety first man. Sambil rehat, makan gorengan, minum, ngelurusin kaki, geber motor lagi.

Baru aja tikungan pom bensin Lebak Wangi, motor-motor ama mobil berhenti. Bingung gue, emangnya ada macet bubaran pabrik? Pabriknya kan masih jauh. Tapi banyak orang pada lari-lari ke depan gue.

Mana gelap gulita pula. Motor gue geber ke depan baru keliatan ada pohon gede depan Sekolah Alam Parung tumbang, kena kabel listrik ama telepon juga makanya gelap.

"Baru banget tumbangnya," kata warga saat gue tanya. Ngga ada polisi satu pun, namanya juga baru tumbang.

5 menit kemudian mulai macet deh, padahal jam 22. Itu gara-gara jalan raya ketutup total. Warga aja ama biker berjibaku patahin kayu pake golok, tangan atau kaki.

Gue laporin deh kejadiannya ke kantor. Sambil Arfi menerima laporan gue, gue mikir….. Kalau gue memaksakan diri dan nggak berhenti buat rehat…. gue yang ketimpa pohonnya……

Wednesday, April 9, 2008

Lonely Journey

Kereta yang membawa gue membelah pagi meninggalkan Cirebon, Selasa itu. Suasana gerbong sepi, sama sepinya dengan hati gue.

Zahra gue titipkan (again) di neneknya. Si pipi baso ini bahkan belum bangun waktu papanya harus ke Jakarta lagi. Email Desti yang terakhir bilang, dia nggak betah sendirian di Berlin.

Gue memaksakan diri untuk tidur. Namun telepon dan SMS bergantian terus masuk ke ponsel gue menjejalkan agenda liputan.

Istana, Wapres, kantor, semua sama saja sekarang. Tidak ada yang menyambut gue pulang.... Gue sungguh menunggu waktu dimana nanti kami bertiga berkumpul lagi, dan waktu berjalan sangat-sangat lambat.

Dalam desah nafas panjang, gue memejamkan mata....

Wednesday, April 2, 2008

Baru, Lama, Ori, Nggak Ori

Sejak umat manusia menemukan DVD dan menyebarluaskannya, gue berhenti nonton bioskop. Mending nonton di rumah, bisa berkali-kali, sambil guling-guling. Kualitas gambar dan suara, sudah ciamik (kecuali elo beli DVD bajakan hari-hari pertama yang gambarnya miring-miring).

Gue nyari DVD kalau ngga di Stasiun Pasar Minggu, di Jembatan Merah Bogor deket stasiun Bogor. Soalnya harganya semurah Glodok, Pasar Minggu deket kantor, Bogor deket rumah. Rusak boleh tuker.

Cuma para pedagang di Pasar Minggu nggak ngerti barang. Mereka cuma tahu DVD baru, lama, ori (original) dan nggak ori. DVD dilapak mereka hanya diatur beberapa kolom, barat, komedi, horor, asia, kartun. Jangan sengaja cari judul apa gitu, mereka cuma bisa jawab 4 kategori sederhana itu.

Contoh
Gue: Bang, ada Fifty First Date?
Penjual: Pipty apaan mas?
Gue: Fifty First Dates, Adam Sandler....
Penjual: (diam 5 detik) Oooo, kayanya ngga ada mas..
Gue: Music and Lyrics, Drew Barrymore!
Penjual: Mmmmmmm.....
Gue: Ya udah, Kamen Rider Blade... (kesel mode ON)
Penjual: (blank....tatapannya kosong...)
Gue: Yang kaya Satria Baja Hitam tapi film baru...
Penjual: Mmmmm cari yang laen aja ya mas.... Yang ori ini, yang belum ori itu...
Gue: AAAAAAAARGH!

Situasinya beda banget kalau gue ke Bogor. Ketegori film lebih detil, ada horor, drama, perang, kolosal, korea, jepang, misteri, action, komedi dll jadi lebih gampang nyarinya. Penjualnya juga pinter.

Gue: Bang ada Die Hard 4?
Penjual: Ada.. Mau koleksi Harrison Ford nggak yang Clear and Present Danger? atau Air Force One? Udah ori loh... Denzel Washington juga banyak nih yang ori..
Gue: Cari Kamen Rider Blade juga...
Penjual: Wah Blade habis mas, belum pesen lagi. Ada Kamen Rider Kiva nih paling baru di Jepang, yang Kamen Rider Deno udah ada koleksinya tapi baru setengah season...
Gue: (nyengir bahagia...)

Monday, March 31, 2008

Macau: Menyusuri Masa Silam

Macau yang terkenal sebagai kota judi, juga memiliki kota tua sisa penjajahan Portugis. Kota tua yang terawat mampu membuat kita merasa kembali ke abad 16.

Perjalanan menuju kota tua saya mulai dari Igreja de Santo Paulo, Rabu (16/7/2007). Saya memilihnya karena kota tua Macau secara geografis merupakan sebuah bukit. Jadi saya pikir akan lebih baik jika dimulai dari atas lalu turun ke bawah.

Dengan menggunakan taksi dari Jalan Avenida Dr Rodrigo Rodrigues, saya tiba dalam hitungan menit di jalan Rua Horta da Companhia. Gereja Santo Paulo sudah menunggu pengunjungnya.

Gereja Santo Paulo yang bisa dinikmati ini hanya puing-puingnya. Gereja yang dibangun antara 1602-1640 ini ludes dilalap api pada 1835. Hanya bagian depannya yang bertahan. Masih tersisa gaya arsitektur kolonial berupa tiang-tiang yang menjulang dari tembok putih pudar ini.

Dari depan gereja, jalanan langsung menuruni bukit. Batu-batu yang didatangkan langsung dari prtugal digunakan sebagai paving blok. Pada masa silam, batu-batu ini dibawa untuk menjaga keseimbangan kapal dagang portugis.

Di Macau, batu-batu ini diturunkan dan muatan kapal diisi rempah-rempah, keramik dan barang dagang lain dari Cina. Batu-batu ini kemudian dipakai untuk membuat jalan. Lorong-lorong panjang dengan jalan berbatu, dan bangunan 2 lantai di kanan-kirinya sungguh membuatnya mirip seperti negara asal para penjajah ini.

Apalagi suasana malam yang semakin sepi. Lorong kota tua ini tidak ubahnya seperti lorong waktu yang melempar saya kembali ke abad 16. Lorong kota kemudian menjadi jalan batu yang lebih lebar.

Akhirnya saya tiba di alun alun Largo de Senado. Inilah pusat kota Macau di masa lalu. Alun-alun lebar ini memiliki ubin batu putih dan hitam yang diatur seperti gelombang. Di tengahnya ada air mancur yang digunakan masyarakat untuk duduk-duduk.

Seluruh bangunan yang mengelilinya memiliki nilai sejarah. Salah satunya adalah Santa Casa da Misericordia atau Holy House of Mercy. Bangunan yang didirikan oleh uskup pertama di Macau tahun 1569.

Bangunan bergaya neo klasik ini sejatinya adalah rumah sakit bangsa Eropa pertama di Macau. Bangunan ini pada masanya juga mejalankan berbagai fungsi untuk kantor-kantor yang membidangi kesejahteraan masyarakat.

Mobil yang lewat di seberang jalan akhirnya menyadarkan saya bahwa ini adalah tahun 2007 bukan abad 16. Jakarta harus belajar dari Macau. Bukan judinya, tapi bagaimana mereka menyelamatkan kota tua.

Macau: Membuang Uang di Sands Casino

Di Indonesia, membuka kasino harus dilakukan sembunyi-sembunyi. Pengunjungnya pun masuk diam-diam. Tapi di Macau, inilah Las Vegas Asia. Penasaran dengan isinya, kami memilih yang paling megah, Sands Casino.

Saat itu waktu sudah menunjukan Kamis (16/8/2007) dini hari, namun suasana di depan Sands dan casino-casino lainnya tetap ramai. Mengklaim sebagai casino pertama yang didukung penuh investasi asing di Macau, Sands casino dibuka pada 2004. Luasnya tidak tanggung-tanggung, 90.100 meter persegi. Saya serasa masuk Grand Indonesia di Bundaran HI.

Bangunannya sih hanya 4 lantai tidak termasuk parkir bawah tanah, namun jarak tinggi dari satu lantai ke lantai lain saya taksir mencapai belasan meter. Kesan pertama saya adalah sekuriti gila-gilaan.

Pintu masuknya menggunakan detektor logam. Biasa saja pikir saya, di Indonesia sudah lazim. Namun tongkat detektor logamnya yang canggih. Saya membawa laptop dan kamera. Saya yakin terdeteksi, tapi saya berpikir tas saya akan dipindai dengan tongkat hitam bermerek dan akan berbunyi jika mendeteksi barang-barang tertentu.

Tongkatnya ternyata sebuah batang berbentuk tabung berdiameter 2cm dengan panjang 40 cm. Tongkat ini bening transparan, seperti bahan acrilic untuk membuat plakat atau piala. Tidak ada kabel yang tampak dari batang transparan ini. Tapi ini detektor logam lho. Si petugas kemanan lalu meminta saya membuka tas.

"Sorry, laptop is not allowed," ujar petugas itu sopan meminta saya menuju tempat penitipan barang dan mengulang masuk lewat pintu detektor. Tanpa Laptop dan kamera saya.

Saya pun masuk ke lobi. Di sini terdapat Pearl Room, arena judi seluas 1.580 meter persegi. Ini ruangan khusus untuk penjudi yang tidak merokok. Permainan yang disediakan di sini adalah poker, blackjack, roulette, baccarat, fan tan, dan 180 mesin jackpot.

Tapi ini baru permulaan. Kami naik ke lantai 2, Main Gaming Level. Nah ini dia pusat hiruk pikuknya Sands Casino. Dengan langit-langit setinggi sekitar 20 meter, saya seperti berada di hanggar pesawat terbang atau galangan kapal.

Meja-meja judi yang sama seperti pearl room, berjumlah ratusan. Semua dipadati penjudi. Hingar-bingar dan asap rokok ribuan orang memnuhi ruang raksasa ini. Begitu berada di lantai ini, ada jejeran loket penukaran uang dengan chip. Koin judi warna-warni tergantung nilainya.

Ratusan meja diatur dalam deret-deret memanjang. Setiap meja memiliki lampu tinggi dengan tiang menyerupai cendawan. Namun perhatikan, tidak semua bulatan kaca di tiang itu merupakan lampu. Dari 5 bola kaca di setiap tiang cendawan ada 3 kamera keamanan yang disamarkan mirip lampu, namun merupakan kamera yang bisa berputar 360 derajat.

Artinya, satu meja diawasi 3 kamera keamanan. Silakan hitung, berapa kamera yang mereka sediakan untuk ribuan meja di seluruh kasino ini. Mantap! Tapi tenang, masih ada lagi pengamanan lainnya.

Saya menunggu sebuah permainan baccarat hingga persediaan kartu sang bandar habis. Kartu yang sudah digunakan tidak boleh dipakai lagi. Kartu ini akan dipindahkan ke kotak plastik transparan seperti tupperware. Agar aman, selain berita acara permainan ada pula chip khusus seukuran SIM card berwarna hijau yang dimasukkan ke kotak, lalu kotak itu disegel.

Petugas kasino membawa troli dorong berkeliling membawa kartu-kartu yang bekas digunakan untuk diganti dengan stok kartu baru. Petugas sangar asal Asia Utara menjaga troli-troli ini. Ramesh, itu nama yang saya baca di dadanya.
"Orang Nepal," ujar seorang pengunjung kepada saya.

Semua dilakukan cepat dan rapi. Saya jadi ingat ini model troli yang digunakan Danny Ocean dalam film Ocean Eleven untuk menyelundupkan rekannya yang lentur masuk ke ruangan brankas besi.

Gaya berjudi pun seru-seru, apalagi mereka yang masih muda-muda. Jika bandar membagi kartu, jangan langsung dibuka, tapi diintip. Miringkan kepala, picingkan mata, angkat sudut kartu dengan kuku jempol. Buka sedikit-sedikit. Belasan penonton di belakang si pemain bisa ikutan memiringkan kepala.

Kalau Kartunya bagus, banting ke depan bandar dengan penuh gaya dan penonton bertepuk tangan. Kartunya jelek, dibanting juga namun dengan wajah kecewa. Saya tersenyum geli. Rasanya seperti lagi menonton syuting film Gods of Gambler (Dewa Judi) yang diperankan Chow Yun Fat, Andy Lau, dan Stephen Chow.

Mereka yang sudah tua lebih banyak memilih bermain jackpot. Santai, duduk tenang, tidak ada ketegangan khusus seperti bermain di meja arena. Bosan bermain judi, ada Xanadu. Panggung hiburan di tengah ruangan yang menampilkan sexy dancers atau musik-musik top 40.

Ingin suasana yang lebih sepi, silakan lanjut ke lantai 3, Fortune Level, yang luasnya 920 meter persegi, atau ke lantai 4 Treasure level yang luasnya 2.260 meter persegi. Luas sisa bangunan Sands Casino dihabiskan untuk restoran, klub eksekutif dan teater.

Kehidupan di Sands Casino dan casino-casino lain di Macau berlangung tanpa henti. Semua terpulang pada individu yang bermain dengan nasibnya sendiri. Bisa berhenti atau membiarkan nafsu menguasai.

Di pintu keluar kasino, saya melihat 2-3 orang yang tiduran di lantai. Wajah mereka kusut. Seorang nenek mencoba tidur mendekap tasnya erat-erat. Saya tidak berani bertanya, berapa uang yang mereka habiskan di malam tadi.

Macau: Surga Kaum Penjudi

Judi dinyatakan ilegal di Hong Kong. Lalu ke mana para penggemar adu nasib ini harus pergi? Macau dengan luas 29 km persegi pun menjelma menjadi surga dunia bagi mereka. Usai bikin berita soal aktivitas Muslim di Hongkong, kami mengumpulkan tenaga di Konjen RI Hongkong, untuk perjalanan malam hari itu.

Macau adalah pelafalan Portugis dari dialek lokal A Ma Gao yang berarti kuil A Ma. Ini adalah tempat sembahyang masyarakat setempat sebelum kemudian penjajah Portugis datang pada 1550-an. Masyarakat sendiri menyebut daerah ini Ou Mun.

Sejak diserahkan kembali ke Cina pada akhir 1999, Macau disulap menjadi lokasi perjudian untuk menyaingi Las Vegas. Dengan 29 kasino raksasa dan ratusan tempat hiburan malam, Macau menjadi magnet bagi mereka yang ingin mencoba peruntungan dari Hong Kong, Cina daratan dan berbagai belahan dunia.

Macau memiliki bandara internasional, namun warga Hong Kong biasa pergi ke Macau menggunakan Ferry cepat Turbo Jet dari Hong Kong Ferry Terminal di Sheung Wan. Harga tiketnya HK$ 172. Ferry berangkat setiap 15 menit selama 24 jam. Namun antara pukul 00.00-06.00, ferry berangkat 1 jam sekali.

Pada saat kami membeli tiket, Rabu (16/8/2007), ternyata banyak orang yang memberi kode tangan. Rupanya banyak calo yang berdiri di sekitar loket. Mereka menawarkan tiket dengan harga miring, HK$ 150, namun siapa berani menjamin, kami pun tidak mempedulikannya.

Setelah perjalanan satu jam, kami pun tiba di Macau pukul 20.00 waktu setempat. Gemerlap kasino-kasino raksasa membuat langit malam di Macau menyemburat merah. Bangunan kasino bermacam-macam bentuknya untuk menarik para penjudi. Ada yang mirip istana kaisar, bola lampu raksasa, istana Tibet, atau mulut naga.

Baru saja turun dari ferry, beberapa orang membagi-bagikan brosur. Isinya adalah tawaran paket hiburan plus-plus, mulai dari striptease yang dibandrol HK$ 300 sampai iklan layanan jasa seks komersial mulai harga HK$ 800. Jangan heran, selain perjudian, bisnis prostitusi juga legal di Macau.

Sepertinya, aktor Chow Yun Fat memiliki tempat tersendiri bagi Macau. Wajah aktor yang terkenal dengan film Gods of Gambler (Dewa Judi) ini muncul di pintu-pintu taksi dengan gaya sedang berjudi.

Semua papan petunjuk informasi dibuat dalam dua bahasa, Portugis dan Mandarin. Usai kami mengisi perut, kami memutuskan pergi ke ujung Jalan Avenida, Dr Rodrigo Rodrigues. Di sini ada ruang terbuka yang cukup luas dan kami bisa memandang ke banyak Casino besar di sekiling kami.

Malam kian larut, namun justru kota ini tidak menunjukan tanda-tanda akan tidur. Ratusan orang hilir mudik keluar masuk Kasino. Masuk kasino dengan penuh semangat, dan banyak yang keluar dengan wajah lemas.

Saya tidak bisa membayangkan berapa banyak orang yang datang ke sini pada akhir pekan. Lelah dengan hiruk pikuk dunia judi, kami menyingkir ke kota tua Macau. Suasananya sungguh kontras dengan jarak kurang dari 2 km, kami seolah-olah terlempar ke abad 16.

Bangunan-bangunan kolonial yang masih terawat, jalanan dengan ubin batu, langsung dibawa dari Portual, tetap awet sampai kini. Kami menuju ke perbukitan untuk melihat reruntuhan gereja Santo Paulo. Igreja de Santo Paulo, itu namanya.

Terletak di perbukitan, gereja ini menjadi kenangan akan kekuasaan Portugis di masa silam. Dibangun antara tahun 1602-1640, gereja ini habis terbakar pada 1835. hanya bagian depannya saja yang tersisa hingga kini. Sisa sisa reruntuhan gereja ini menjadi ikon Macau.

Waktu sudah masuk dini hari. Kami pun kembali turun ke pusat kota Macau. Kota judi yang tidak pernah tidur.

Behave Dangerously

Sebagai biker yang pulang pergi Jakarta-Bogor, safety riding itu harga mati. Ngga usah banyak tingkah kalau bawa motor. Gue masih inget anak istri di rumah.

Tapi sepanjang jalan, udah banyak kelakuan biker yang macem-macem. Apalagi kalau judulnya luar Jakarta (Ciputat kesono deh ampe Bogor).

Ngga pake helm, biasa banget itu mah. Ngebut kaya kesetanan, biasa juga. Naek motor bertiga biasa juga. Malem-malem, semua lampu motornya mati, beberapa demikian. Yang dipretelin dari lampu, spion, plat nomor, speedometer, dll, ada lah yang kaya gitu.

Yang gawat yang gimana? Yang gawat itu adalah kombinasi dari 3 unsur diatas. Contoh:
A. Ngebut, ga pake helm, bertiga
B. Ngebut, ga pake helm, lampu mati malem-malem
C. Ngebut, ga pake helm, motor dipretelin

Yang gue belum nemu adalah kombinasi semua unsur di atas. Udah ngebut kesetanan, ngga pake helm, naek motor bertiga, malem-malem lampunya mati, atau lebih tepatnya dipretelin semua. Kalau sampai tabrakan, itu matinya buru-buru amat. Mati dalam kecepatan 90 km/jam, malaikat maut juga dilewat, wuuuuussssh.

Ada juga yang nyetirnya santai, tapi gayanya gawat. Orang mau belok, lampu sign-nya mati, pake tangan dong kasih tanda. Tapi gue beberapa kali lihat kasih tandanya ngga pake tangan. Pake kaki! Dia rentangin kaki dia jauh-jauh ngasih tau kalau dia mau belok. Kalau kesamber mobil apa ngga putus tuh kaki? Males banget angkat tangan...

Tapi ada juga yang begini: Gue lewat di Monas, Merdeka Barat, baru pulang liputan di Istana. Biker di depan gue tiba-tiba nengok kanan. Gue refleks ikut nengok kanan ke arah Departemen Perhubungan. Ada apa pikir gue, demo? Lumayan gue beritain. Tapi ga ada apa-apa.

Depan Museum Nasional, itu biker nengok kanan lagi tiba-tiba. Gue nengok lagi. Ga ada apa-apa.... Depan Indosat nengok kanan lagi, ngga ada apa-apa.....

Ternyata...... Itu biker ada masalah dengan syaraf lehernya, man... Di depan BI, Sarinah, Kedubes Jerman dan berkali-kali setiap menit nengok kanan. Gimana kalau dia nengok kanan ada mobil atau motor ngerem di depan dia? Gue ngga mau ketawa, gue kasian......